Antara Dilan, Laskar Pelangi, dan AADC

Cover Buku Dilan by Pidi Baiq
Saat ini sedang viral qoute, meme dan bahkan parodi terkait Dilan di berbagai media sosial. Hal itu ditenggarai karena sedang ditayangkannya film "Dilan 1990" di bioskop Indonesia. Film ini adalah adaptasi dari novel DILAN Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 yang ditulis oleh Pidi Baiq.

Novel Dilan sendiri telah  beredar sejak tahun 2014. Novel ini adalah bagian dari trilogi Dilan. Buku pertama berjudul Dilan Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 yang dipublish tahun 2014. Buku kedua berjudul Dilan Bagian Kedua Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 yang diterbitkan tahun 2015. Terakhir Milea Suara Dari Dilan. 

Trilogi Dilan ini mengingatkan kita pada novel tetralogi karya Andrea Hirata yang juga booming waktu itu. Novel Pertama terbit tahun 2005 berjudul Laskar Pelangi. Novel kedua berjudul Sang Pemimpi. Kedua novel ini telah diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama dengan novelnya. Novel ketiga berjudul Edensor yang terbit tahun 2007. Bagian keempat berjudul Maryamah Karpov yang terbit tahun 2008.



Film Dilan dan Laskar Pelangi
Novel Dilan dan Laskar Pelangi sama-sama sukses diadaptasi ke layar lebar. Namun, kedua film ini berbeda dalam beberapa hal. Film "Dilan 1990" mengambil latar sekolah menengah atas di kota Bandung. Sesuai dengan judulnya, baik novel maupun film ini mengambil setting tahun 1990 dimana belum ada gadget, media sosial. Di antara "identitas" kondisi tahun 1990 yang dieksplore oleh novel dan film ini adalah penggunaan telepon umum, teka-teki silang, cerdas cermat, puisi, surat dan banyak lagi. Pendeknya novel dan film ini menceritakan asmara masa putih abu-abu tokohnya.

Dalam konteks hiburan, film ini menghibur. Dia bisa membangkitkan memori penontonnya kepada masa-masa sekolah dahulu. Bagi anak-anak zaman kekinian, ia bisa menjadi satu informasi keadaan anak sekolah di tahun 90-an. Namun, dalam triller film juga ada adegan yang tidak patut ditonton oleh semua usia seperti visualisasi kekerasan berupa perkelahian dan geng motor. Atau adegan berbonceng anak SLTA laki-laki dan perempuan yang tidak mahrom mungkin tidak bisa diterima oleh sebagian kalangan atau di sebagain daerah seperti di Aceh.


Hasil gambar
Gambar: wikipedia
Sedangkan film "Laskar Pelangi" mengambil latar sekolah SD di sebuah kampung. Film ini menceritakan semangat dan kegigihan orang kampung untuk bertahan dan melanjutkan pendidikan. Tidak hanya siswa, pihak sekolah Muhammadiyahpun ingin tetap memepertahankan keberadaan sekolah itu. Sekolah ini terancam ditutup jika muridnya tidak sampai 10 orang. Setelah genap 10 siswa, akhirnya sekolah ini tidak jadi ditutup dan dimulailah cerita 10 orang siswa yang disebut dengan "Laskar Pelangi" itu. Film ini juga booming waktu itu. Banyak rombongan nonton bareng film ini sampai para guru dan siswapun ikut nonton bareng di bioskop. Sukses film layar lebarnya ini dikuti juga dengan pembuatan drama musikal dan serial. Bahkan novelnya sendiri telah diterbitkan di beberapa negara.


Antara Film Dilan dan AADC
Cerita anak SMA dalam film Dilan mengingatkan kita akan film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang waktu itu mampu mengembalikan semangat orang untuk menonton bioskop. Sebelumnya, bioskop Indonesia dipenuhi film luar negeri. Jika ada film Indonesia, tidak diminati oleh orang. Pasca AADC, industri perfilman nusantara kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Semangat nasionalisme pekerja seni muncul kembali. Rasa cinta terhadap produksi film dalam negeri juga menguat.


Tema yang diangkat dalam film AADC adalah tema cinta remaja dengan setting SMA. Masa SMA bagi banyak orang adalah satu di antara masa terindah. Paling tidak fase itu memiliki sekelumit cerita menarik yang tidak dapat dikejar lagi, kecuali menjemputnya dengan kenangan. Baik film AADC maupun Dilan 1990, keduanya mampu memikat penonton dengan kembali kepada masa indah SMA, bernostalgila, terutama bagi yang belum membaca novelnya.

Hal lain yang menjadikan film ini punya pembeda dengan kebanyakan film lain adalah karena kedua film ini punya daya tarik sangat kuat pada ungkapan puisi dan kata-kata yang keluar dari tokoh utamanya. Pembaca atau penonton punya kesan mendalam sehingga saat ini viral di media.

Berbeda dengan Dilan yang diadaptasi dari novel. AADC adalah film yang juga dibuatkan sekuelnya AADC 2. Bahkan film AADC yang sukses itu akhirnya diadaptasi menjadi novel. Di sini antara kedua novelnya juga berbeda. Jika novel AADC diadaptasi dari film AADC, maka film Dilan 1990 adalah adaptasi dari novel.

Suskes terus novel karya anak Indonesia! Sukses juga industri film nusantara! Semoga muncul novel dan film lain yang dapat memberikan inspirasi dan pencerahan bagi generasi muda, terutama bagi anak-anak muda yang menyebut dirinya anak-anak kekinian.

Share this:

Post a Comment

 
  • Contact Us | Site Map | TOS | Privacy Policy | Disclaimer
  • Copyright © Bismi Rabb. Template by OddThemes