Latest Updates

Jam Kerja ASN, TNI dan Polri Pada Bulan Ramadhan 1439 H

2:18 PM
PNS
Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Penetapan Jam Kerja ASN, TNI pada bulan Ramadhan. Edaran itu dikeluarkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Asman Abnur. Dalam SE nomor 336 Tahun 2018 yang ditandatangani pada tanggal 8 Mei 2018 itu ditetapkan ketentuan jumlah jam kerja seminggu yaitu 32.50 jam. Hal itu berlaku bagi instansi pemerintah pusat dan daerah, baik yang memberlakukan enam hari kerja maupun instansi yang memberlakukan lima hari kerja.

Ketentuan tentang jam kerja bulan Ramadhan ini persis sama dengan tahun 2017 dan 2016Berikut ini jam kerja selama bulan suci Ramadhan :

1. Bagi instansi pemerintah yang melakukan 5 (lima) hari kerja :
a) Hari Senin sampai dengan Kamis : Pukul 08.00- 15.00 / waktu istirahat : 12.00 -12.30
b) Hari Jumat : pukul 08.00 - 15.30. / waktu istirahat 11.30 - 12.30
2. Bagi instansi pemerintah yang memberlakukan 6 (enam) hari kerja : 
a) Hari Senin sampai dengan Kamis, dan Sabtu : pukul 08.00 - 14.00 / waktu istirahat : pukul 12.00 - 12.30
b) Hari Jumat : pukul 08.00 - 14.30 / waktu istirahat : pukul 11.30 - 12.30
3. Jumlah jam kerja efektif bagi instansi pemerintah pusat dan daerah yang melaksanakan 5 (lima) atau 6 (enam) hari kerja selama bulan Ramadhan minimal 32,50 jam perminggu.
4. Ketentuan pelaksanaan lebih lanjut mengenai jam kerja pada bulan Ramadhan tersebut diatur oleh pimpinan instansi pemerintah pusat dan daerah masing masing dengan menyesuaikan situasi dan kondisi setempat

Bismillah

5:58 PM
 Dalam sebuah hadis Baginda Rasulullah bersabda
كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ببسم الله الرحمن الرحيم فهو أبتر 
Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan "bismillahirrahmanirrahim" maka perkara tersebut terputus (H.R. Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibn Majah dan Ibn Hibban dari Abu Hurairah) juga ditemukan dalam Musnad Ahmad bin Hanbal)

Sanad hadis di atas dinilai dhaif oleh mayoritas ulama. Namun, ada juga yang menilai derajat hadis ini hasan di antaranya An-Nawawi dan Ibn Hajar. Abdul Aziz bin Baz mengatakan hasan lighairihi.
Terlepas dari hadis di atas, dalam hadis lain ada banyak anjuran memulai sesuatu dengan nama Allah. Ketika mau tidur, kita membaca  doa bismika Allahumma ahya wa amutu. Ketika kita keluar rumah, kita berserah diri kepada Allah dengan membaca  Bismillahi tawakkaltu ala Allahi la haula wala quwwata illah billahi. Ketika memulai makan, kita membaca Bismillah. Bahkan jika kita lupa, tetap dianjurkan membaca Bismillahi awwaluhu wa akhiruhu. Hewan yang zatnya dihalalkan Allah seperti ayam, kambing dan sapi tetap tidak halal jika disembelih tanpa menyebut nama Allah. Bahkan saat hendak berhubungan suami istri, diperintahkan berdoa Bismillahi Allahumma janibna al-syaithani. 

Begitu pentingnya memulai sesuatu dengan nama Allah, maka kita mulai materi pengajian subuh kita dengan bismillah. Izinkan saya mengulang kaji tentang makna bismillah. Lafal bismillah terdiri atas tiga kata yaitu bi, ismi, dan Allah. Kita temukan terjemahannya dalam Alquran "dengan nama Allah".

Dalam makna "bi" tersirat ada makna "mulai". Ketika kita membaca bismillah setiap memulai aktivitas dan pekerjaan kita,  maka berarti "kita mulai pekerjaan kita dengan nama Allah". Makna lain yang juga tersirat dari kata "bi" adalah "kekuasaan, izin dan pertolongan Allah".

Ketika kita mulai pengajian ini dengan bismillah,  itu artinya pengajian ini bisa terlaksana atas izin dan pertolongan Allah. Allah-lah yang berkuasa menjadikan sesuatu perbuatan terwujud. Kita tidur tadi malam lalu dikembalikan Allah ruh kita. Kita berangkat menuju masjid untuk menunaikan salat terjadi atas izin Allah. Apapun yang kita lakukan semuanya terjadi atas kekuasaan dan pertolongan Allah.

Kata "ism" biasa diterjemahkan dengan "nama". Kata ini berasal dari akar kata السمو (assumuwwu) yang berarti "tinggi". Langit disebut dengan السماء (al-sama') karena ketinggiannya. Ada juga yang mengatakan berasal dari kata السمة (assimatu) yang berarti tanda. 


Baca Juga:
Allah, Tuhan dan The God

Seseorang dipanggil berdasarkan nama yang menjadi "tanda" yang melekat pada dirinya. "Tanda" itulah yang membedakan seseorang itu dengan orang lain. Dengan nama itu juga, seseorang ditinggikan dibandingkan dengan yang lain. Ketika memanggil satu nama di antara banyak orang, seperti Ahmad misalnya, maka yang bernama Ahmad akan menjawab. 

Menurut Al-Thabathaba'i, nama ditujukan untuk dua tujuan. Pertama untuk mengekalkan sesuatu. Ketika nama seorang tokoh dijadikan sebagai nama jalan misalnya, diharapkan agar tokoh itu kekal dalam ingatan manusia. Hampir setiap kota menggunakan nama duo proklamator Soekarno-Hatta. Harapan dari penamaan itu adalah agar keduanya tetap dikenang oleh setiap orang. Kedua, dengan nama sesuatu diharapkan memperoleh berkat/sifat terpuji. Ketika seseorang memberi nama anaknya dengan Muhammad misalnya, diharapkan agar anak meneladani sifat terpuji Nabi Muhammad Saw.

Al-Maraghi mengatakan bahwa orang Arab pra-Islam biasa memulai pekerjaan mereka dengan nama berhala. Mereka biasa menyebut bismil lata, bismil uza. Bangsa-bangsa lain memulai pekerjaan mereka dengan nama raja mereka. Mereka menyebutkan nama berhala yang mereka agungkan dengan tujuan meninggikan berhalanya sekaligus berharap mendapatkan berkah yang akan diberikan oleh berhala yang mereka agungkan itu.

Selaku orang beriman, maka sepatutnya kita memulai segala perbuatan baik yang kita lakukan dengan ucapan bismillah. Orang yang mengucapkan bismillah berarti meninggikan Allah. Dalam konteks tauhid, memulai pekerjaan dengan menyebut nama Allah berarti kita yakin dan percaya bahwa perbuatan dan pekerjaan yang kita lakukan hanya dapat terwujud atas izin dan pertolongan Allah.

Semoga dengan ucapan bismillah kita berharap nilai pekerjaan itu kekal dan pekerjaan yang kita lakukan diberkahi oleh Allah. Jika pekerjaan tidak dimulai dengan menyebut bismillah, maka keberlanjutan dan berkah dari pekerjaan sulit diharapkan. Hadis di atas yang kita sampaikan di awal kajian ini paling tidak juga menyebutkan hal itu.
____
Disampaikan pertama kali dalam pengajian subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh Tengah pada hari Kamis, 24 Sya'ban 1439 H/ 10 Mei 2018

Sepinya Salat Zuhur dan Asar Di Kampung-Kampung

5:47 PM
Kemarin saya berkesempatan melaksanakan salat zuhur dan asar di kampung berbeda dengan pengalaman berbeda. Kepergian saya ke kampung-kampung tersebut dalam rangka melaksanakan tugas dari instansi tempat saya bekerja. Saya ingin menyampaikan kondisi sepinya pelaksanaan ibadah salat wajib di masjid tersebut.

Salat zuhur saya laksanakan di sebuah masjid di pinggir jalan lintas antar kabupaten. Masjid ini berjarak lebih kurang satu kilometer dari kantor kecamatan dan lima ratus meter dari pasar. Salat zuhur dihadiri oleh tiga belas orang jamaah termasuk satu imam dan saya beserta anak. Di luar saya dan anak yang bukan warga setempat, hanya ada sepuluh orang makmum dan satu imam. Dilihat dari usia jamaah, dua orang jamaah berusia antara 40 sampai 50 tahunan. Sisanya antara 50 sampai 70 tahunan. Hal yang menyedihkan dari pelaksanaan salat zuhur siang itu adalah tidak ada di antara jamaah itu yang berusia di bawah 40 tahunan.

Setelah selesai salat, saya melihat ada dua orang pemuda berusia antara 30 sampai 40 tahunan. Ternyata, dua orang makmum masbuk ini adalah orang yang berhenti singgah untuk salat. Keduanya bukan warga kampung setempat.

Sebelum berangkat meninggalkan masjid ini, saya melihat ada anak muda berusia dua puluh tahunan yang pergi mandi ke tempat mandi yang ada di sebelah masjid. Semoga dia mau mewakili generasi muda yang salat di masjid ini. Tapi, sepertinya tidak ada tanda dia akan salat di masjid. Dia tidak membawa sarung. Sementara pakaiannya tidak menutup aurat.

Terbesit tanya dalam diri ini. Andai orang-orang tua yang berjamaah hari ini suatu saat meninggal, apakah masih ada salat berjamaah lima waktu di masjid ini.

Dua minggu sebelumnya, saya menemukan hal yang lebih menyedihkan. Tapi di masjid yang berbeda. Lebih kurang tiga kilometer arah timur pusat kecamatan. Namun bukan di tepi jalan lintas yang menghubung antar kabupaten. Hanya jalan yang menghubungkan antara kecamatan.

Masjid ini lebih indah dan bagus dibanding masjid di pusat kota kecamatan. Di antara kemegahan masjid ini adanya menara masjid. Namun "kemakmuran" bangunan masjid ini tidak berbanding lurus dengan "kemakmuran" pelaksanaan ibadah salat lima waktunya.

Saya sampai di masjid ini sebelum masuknya waktu zuhur. Saya berwudu di tempat wudu yang juga sekaligus tempat pemandian umum. Saya temukan ada seorang yang mencuci di sana. Ketika waktu salat masuk jam 12.35 Wib., belum ada yang datang untuk azan. Saya tidak berani lancang menghidupkan pengeras suara dan melakukan azan. Sambil menunggu ada yang datang, saya lanjutkan salat rawatib. Sampai jam 12.55 tidak ada jamaah yang datang. Akhirnya saya salat sendiri. Setelah selesai rawatib, saya keluar. Saat itu baru ada seorang yang siap mandi masuk ke masjid untuk salat zuhur.

Kesimpulan saya sementara, masjid ini hanya untuk singgah salat bagi mereka yang ingin salat. Di masjid ini tidak ada kegiatan salat berjamaah di siang hari. Mungkin karena masyarakatnya sibuk bekerja di sawah atau ladang. Entah di waktu Magrib, Isya dan Subuh. Ada kegiatan salat Jumat di masjid ini ditandai dengan adanya mimbar dan jadwal kutbah Jumat yang tertera di dinding.

Pertanyaan saya waktu itu, beginikah kondisi masjid di kampung-kampung? Mengapa pengurus masjid tidak memberi tugas khusus atau mengapa tidak ada yang mau menjalankan tugas sebagai muadzin atau imam di masjid kampung? Atau memang masjid hanya sebagai simbol keagamaan semata tanpa dimakmurkan dengan pelaksanaan ibadah. Wallahu A'lam.

Pada perjalanan pulang, saya mengambil rute berbeda. Berharap di sepanjang jalan bisa bertemu orang menjual durian. Tentunya bisa juga survey pelaksanaan salat asar di kampung yang lain.

Saya dan anak berhenti salat di sebuah masjid yang besar namun belum siap. Masjid ini terletak juga di pinggir jalan lintas yang menghubungkan antar kabupaten. Di dalam masjid telah ada dua orang. Satu muazin yang masih muda. Berusia kira-kira 25 tahun. Satu lagi bapak tua berusia kira-kira 70 tahun. setelah selesai tahiyatul masjid, datang satu jamaah lagi berusia kira-kira 50 tahun. Beliau ternyata yang jadi imam memimpin salat. Total hanya ada satu imam dan empat orang makmum termasuk saya dan anak saya. Terkahir, datang satu orang makmum masbuk berusia kira-kira 4o tahunan.

Dari tiga masjid di atas, ada kesedihan yang mendalam bagi saya. Betapa masjid yang ada tidak difungsikan untuk pelaksanaan ibadah lima waktu. Penyebabnya bisa beragam.

Hal lain yang menjadi perhatian saya tidak adanya anak muda yang salat di masjid. Masjid yang menyelenggarakan salat, ternyata didominasi oleh jamaah yang sudah tua-tua. Andai generasi tua ini meninggal, maka tinggallah masjid sebagai bangunan tempat salat Jumat saja. Semoga satu masjid yang tidak melaksanakan salat zuhur itu bukan karena generasi tuanya telah meninggal semua.




Banyak Anak Banyak Rezeki

6:40 PM
Beberapa waktu yang lalu saya dan kawan-kawan sempat bercerita dengan ayah seorang sahabat. Kami bercerita banyak hal. Di antaranya saya bertanya kepada beliau berapa orang anak beliau. Beliau menjawab istri beliau satu dan anak beliau tiga belas orang.

Sebagian kawan terkejut ketika mendengar anak beliau tiga belas orang. Sebagian yang lain memaklumi orang dulu memang memiliki anak yang banyak. Ibu saya delapan bersaudara. Ayah saya enam bersaudara.

Ukuran banyak atau sedikitnya anak bagi setiap orang, setiap daerah, setiap suku dan budaya, bahkan setiap era dan zaman tentu berbeda-beda. Bagi orang sekarang misalnya, memiliki dua anak saja sudah dianggap memiliki banyak anak. Bagi sebagian orang, mungkin memiliki empat anak adalah standar minimal. Sebagian pembaca mungkin pernah mendengar lagu "Mudiak Harau" karya Ajis Sutan Sati yang dalam liriknya menyebut baranak ampek den nanti juo (punya empat anak, tetap kutunggu).


Kembali ke pangkal cerita Sang ayah dari sahabat saya di atas yang memiliki tiga belas anak. Saya juga tanya berapa jumlah cucu dan cicitnya. Dengan yakin beliau mengatakan ada tiga puluh delapan cucu dan dua puluh enam cicit.

Dalam kasus orang tua sahabat saya ini. Awalnya hanya ada dua orang tua ini. Dari keduanya Allah beri karunia tiga belas anak. Dari tiga belas anak ini tentunya menjadi dua puluh enam orang dengan menantu. Dua puluh enam anak dan menantu ditambah cucu tiga puluh delapan menjadi enam puluh empat orang. Jika ditambah dengan cicitnya yang saat ini baru berjumlah dua puluh enam orang, maka jumlah tiga generasi keturunannya sebanyak sembilan puluh orang.

Sembilan puluh orang ini adalah rezeki yang banyak bagi dua orang tua. Rezeki tidak terbatas dalam pengertian materi berupa harta semata. Lebih dari itu, rezeki berupa anak cucu dan cicit yang saleh yang akan mendoakan adalah jauh lebih bermakna sebagai rezeki yang mulia yang akan menjadi amal yang tidak terputus walaupun dua orang tua ini sudah meninggal berkalang tanah.

Rezeki Orang Tua Di Hari Tuanya
Dalam perspektif lain, tentu butuh upaya dan perjuangan yang luar biasa bagi orang tua untuk dapat mendidik semua anaknya menjadi anak yang saleh. Banyak anak banyak rezeki, tentunya tidak berlaku bagi orang tua yang tidak mendidik anaknya sehingga justru anaknya malah menjadi "musuh" bagi orang tuanya sebagaimana dalam surah 64 ayat 14.

Anak-anak yang saleh, adalah investasi bagi kedua orang tuanya. Anak-anak yang saleh, tentunya tidak akan menelantarkan orang tuanya kelak. Maka dalam hal ini, mempunyai banyak anak yang saleh merupakan investasi yang hasilnya akan dinikmati oleh orang tua di dunia. Bandingkan dengan orang tua yang tidak punya banyak anak, lalu hari tuanya digantungkan kepada dua orang anak saja misalnya. Tentunya akan berbeda "rezeki" yang akan diterima oleh kedua orang tua tersebut.

Banyak Anak Perspektif Hadis Nabi
Nabi Muhammad Saw. senang jika umatnya mempunyai anak yang banyak. Hal itu dipahami dari hadis Baginda Rasulullah Saw. yang memerintahkan umatnya untuk menikahi perempuan yang penyayang lalu darinya didapati keturunan yang banyak. Nabi akan bangga dengan banyaknya umatnya di bandingkan umat terdahulu. Perhatikan hadis riwayat Abu Dawud no. 2050 berikut ini!


Kembali ke cerita orang tua sahabat di atas. Ketika ditanya orang mengapa anak beliau banyak, maka beliau menjawab dengan hadis ini.

Kedudukan Perempuan Menurut Model Pemahaman Tajdid

2:51 PM
Pada postingan sebelumnya telah disampaikan penyampaian Prof. Al Yasa tentang tiga model pemahaman keagamaan. Postingan ini adalah lanjutan dari penyampaian beliau pada tema yang sama. Namun, bagian ini khusus membahas contoh model pemahaman model tajdid terkait mengangkat harkat dan kedudukan perempuan. Pemahaman yang dipakai bukan menyamakan antara perempuan dan laki-laki, tapi mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan yang dalam hal-hal tertentu hampir sama dengan laki-laki. Betul ada yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Perempuan tidak bisa jadi wali nikah. Perempuan hamil dan menyusui. 

Dalam model pemahaman tajdid, perempuan bertanggung jawab untuk dirinya. Sebagaimana laki-laki bertanggung jawab terhadap dirinya. Jika kaum perempuan ingin masuk surga, maka perempuan bertanggung jawab dengan amal. Alquran tegas menyebutkan bahwa orang mukmin laki-laki dan perempuan yang beramal saleh akan diberi ganjaran oleh Allah. Tanggung jawab perempuan juga dalam hal menafkahi dirinya. Karena setiap orang bertanggung jawab menafkahi dirinya. 


Orang tua wajib mendidik anak-anaknya. Tidak hanya anak laki-laki, tapi juga anak perempuan. Anak perempuan harus disekolahkan sebagaimana anak laki-laki disekolahkan. Orang tua bisa berdosa jika tidak menyekolahkan anak perempuannya. Jika anak laki-laki dikuliahkan, maka anak perempuan juga dikuliahkan. Dalam beberapa kesempatan pengajian di rumah warga, saya biasa bertanya kepada tuan rumah, di mana anaknya sekolah. Termasuk yang ditanya anak perempuannya disekolahkan di mana.

Anak perempuan tidak boleh dikungkung di rumah. Perempuan bisa berkiprah di ruang publik. Berorganisasi adalah bagian dari ruang publik yang juga diisi oleh perempuan. Di Muhammadiyah, sebagai organisasi yang memakai model pemahaman tajdid, ada organisasi perempuan Aisyiyah dan Nasiatul Aisyiyah. 

Kalau beraktivitas di ruang publik, bagaimana dengan wajah dan suara perempuan? Ada hadis yang mengatakan wajah aurat. Tapi hadis yang mengatakan wajah tidak aurat lebih banyak. Dalam ibadah haji menggunakan cadar tidak dibolehkan. Maka di luar ibadah haji boleh memakai cadar. Tapi, tidak sunnah apalagi wajib. Begitu juga suara perempuan. Tidak ada hadis yang mengatakan suara perempuan adalah aurat. Bahkan ada sahabat yang mengetahui fulanah dari suaranya.
Tentang salat perempuan yang lebih baik di kamar. Betul ada hadis yang mengatakan itu. Tapi, ada juga hadis lain yang mengatakan kalau perempuan minta izin untuk pergi salat ke masjid dan mendengar khutbahku, kata Nabi Saw., maka tidak boleh dilarang. Makna minta izin di sini bukan sebenar-benar minta izin. Tapi perempuan yang hendak salat di masjid, harus memberi tahu mahromnya. Karena mahromnya tidak boleh melarang. Karena ada pengajian dan ceramah di masjid, maka di masjid Muhammadiyah disediakan tempat bagi perempuan yang ingin ikut mendengar khutbah, ceramah dan pengajian.
Contoh lain. Istri harus patuh pada suami dalam hal rumah tangga. Istri juga harus patuh pada orang tua suaminya. Tidak ada yang memutus hubungan anak perempuan dengan orang tuanya setelah ia menikah. Anak perempuan tetap punya hubungan dengan orang tuanya. Jika diminta memberi khutbah nikah, biasa saya sampaikan bahwa dengan menikah hubungan anak perempuan tidak putus dengan orang tuanya. Anak perempuan tetap wajib merawat orang tuanya dan orang tua suaminya. Begitu juga suami tetap wajib merawat orang tuanya dan orang tua istrinya. Laki-laki harus merasa bersalah ketika tidak bisa merawat orang tua istrinya.
Dalam konteks harta warisan. Sebelum Islam, perempuan tidak punya hak waris. Ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah Saw. perihal dia yang tidak punya anak laki-laki. Kepada siapa hartanya nanti akan diwariskan. Lalu turun ayat Alquran yang mengatakan bahwa bagi perempuan ada hak warisan. 
Di indonesia ada harta bersama karena kita memberi penghargaan kepada perempuan. Tidak demikian halnya dengan perempuan di negara Islam lainnya. Mengapa ada harta bersama? Alasannya karena di Indonesia, perempuan juga bekerja. Betul suami kepala keluarga. Tapi, perempuan adalah pasangan bagi laki-laki. Status istri bukan bawahan, dan status suami bukan atasan.
Itulah di antara penyampaian Prof. Dr. H. Al Yasa Abubakar, MA., Guru Besar Fiqih UIN Arraniry Banda Aceh, dalam pengajian Muhammadiyah Cabang Kota Takengon pada hari Jumat 4 Rajab 1439 H/ 20 April 2018.
______

BACA JUGA penyampaian Prof. Al Yasa tentang:

Peran Ulama Dalam Penguatan Ekonomi Ummat

Tiga Model Pemahaman Keagamaan

 
  • Contact Us | Site Map | TOS | Privacy Policy | Disclaimer
  • Copyright © Bismi Rabb. Template by OddThemes