Headlines Kito :

Mari Tangkal Budaya Luar Dengan Memperkuat Budaya Lokal

Baralah tinggi si buruang tabang
Panek malayok kainggok juo
Banyak ragamnyo budayo datang
Budayo kito kambangkan juo

Darilah Solok nak ka salayo
Urang lah guguak pai ka pakan
Ambiak nan elok jadi pusako
Sado nan buruak kito pelokkan

Dindin badindin oi dindin badindin

Begitu bunyi potongan bait lagu dindin badindin yang biasa digunakan untuk mengiringi tari indang. Bait lagu berupa pantun nasehat itu menyampaikan pesan yang syarat makna. Mulai dari bagian sampirannya, terlebih bagian isinya.

Pada bagian isi pantun disebutkan perlunya tetap mengembangkan budaya asli kita. Tanpa menutup diri dengan perubahan yang datang dari luar, pantun ini juga mengatakan bahwa kebaikan yang datang dari luar dapat dijadikan budaya. Sedangkan bagian yang buruk dari pengaruh budaya luar perlu diperbaiki.

Pesatnya arus globalisasi dan komunikasi tidak dapat dipungkiri telah masuk ke daerah kita. Mulai dari anak muda sampai orang tua. Mulai dari kota sampai ke pelosok desa. Bahkan sampai ke telapak tanganpun arus globalisasi itu masuk melalui gadget. Duniapun ada dalam genggaman.

Tantangan dan pengaruh globalisasi tentunya tidak bisa dipungkiri. Di antaranya melalui globalisasi banyak sedikitnya masuk budaya luar yang bisa saja merusak tatanan dan nilai-nilai sosial budaya nusantara.
Gambar Latihan Silat Pemuda

Dalam rangka menepis budaya luar yang tidak baik, maka di antara pilihannya adalah dengan menghidupkan tradisi dan budaya asli kita sendiri. Mari kita ajarkan warisan budaya kita kepada anak dan generasi muda kita.

Tidak usah padamkan lampu orang. Cukup kuatkan cahaya lampu kita. Maka cahayanya akan lebih terang dibanding cahaya lampu orang. Jika memang tidak bisa menepis pesatnya arus globalisasi, maka perkuat budaya kita. Semoga dengan itu bisa ditangkal pengaruh negatif budaya luar. Mari dukung budaya nusantara!

Bahaya Bermuka Dua


Sedang trend di pemberitaan media ada mobil bermuka dua di Kota Bandung. Mobil ini memang memiliki tampilan muka dua. Tidak ada bagian belakang mobil ini. Jika dilihat di belakangnya tampak juga bagian muka atau bagian depan mobil ini. Tidak jelas mobil ini maju atau mundur karena bagian belakang dan depannya sama. Kondisi seperti itu membahayakan bagi pengemudi lainnya. Mobil ini akhirnya ditilang oleh pihak berwajib. 

Demikian juga halnya dengan manusia. Jika ada manusia bermuka dua, tentunya akan membahayakan bagi lingkungan sekitarnya. Orang seperti ini bagai musuh dalam selimut. Menohok kawan seiring, menggunting dalam lipatan. Serigala berbulu domba, musang berbulu ayam. Atau apapun istilah yang dipakai untuk orang yang bermuka dua. Ketika Sang muka dua berhadapan dengan dua pihak yang berbeda dia akan menyampaikan hal yang berbeda. Ketika bertemu dengan orang beriman, dia akan katakan kami beriman. Tapi ketika bertemu dengan orang yang tidak beriman, dia mengatakan bahwa dia bersama golongan orang yang tidak beriman. Dia hanya mengolok-olok orang beriman saja. Sesungguhnya olok-olok dan tipu daya yang mereka lakukan adalah menipu diri mereka sendiri. Bahkan Allah menyebutkan tidak beruntung perniagaan mereka. 

Dalam al-Qur'an Allah sebutkan fenomena orang bermuka dua ini dengan istilah orang munafik. Firman Allah surat al-Baqarah ayat 14 sampai 16 Allah sebutkan demikian
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
Dan bila mereka berjumpa dengan orang beriman, mereka berkata, ”Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata, ”Sesungguhnya kami bersama kalian, kami hanya berolok-olok.” Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. 

Ayat di atas adalah bagian dari tiga golongan manusia dalam konteks keimanan yang terdapat dalam bagian awal surah al-Baqarah. Pada ayat 1 sampai 5 surah al-Baqarah ini menceritakan tentang golongan orang-orang yang beriman. Orang-orang yang berimanlah yang akan mendapat petunjuk dari Allah. Ayat 6 dan 7 menceritakan tentang orang yang kafir sebagai kebalikan orang yang beriman. Nah, ayat 8 sampai 22 bercerita tentang orang munafik.
Mulai dari ayat delapan Allah berfirman. Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Ucapan iman itu hanya di mulut mereka saja. Pernyataan iman itu tidak berasal dari diri terdalam mereka. Dengan pernyataan iman palsu mereka itu, mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Hal itu mereka lakukan karena dalam hati mereka ada penyakit. yaitu penyakit nifak lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi." yaitu dengan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang beriman. Mereka mengingkarinya. Bahkan mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." Padahal kata Allah Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." Mereka menjawab: "Akankah kami beriman sebagaimana orang-orang telah beriman  yang justru mereka anggap sebagai orang yang bodoh ?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.

Dan di lain kesempatan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Lalu bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok." Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. 

Lalu Allah umpamakan mereka orang-orang munafik itu seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Dalam hadis Rasulullah juga menjelaskan tanda orang munafik.
Hasil gambar untuk hadits tanda orang munafik
Dari Abu Hurairah Ra. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; jika berkata ia bohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (Muttafaqun ‘alaih. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari hadis Abdullah bin Am’r disebutkan, Apabila ia bertengkar ia berbuat licik’). HR. Al-Bukhari no.33, 34 dan Muslim no. 58, 59.

Tiga hal di atas perlu menjadi perhatian bagi kita. Berbicara harus jujur, tidak boleh bohong. Berjanji harus ditepati, tidak boleh diingkari. Amanah harus dijalankan, tidak boleh dikhianati. Jika tidak, jatuhlah kita pada sifat orang munafik.

Di zaman Rasulullah, ada orang yang dikenal ketokohannya karena kemunafikannya yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul. Di hadapan Nabi Muhammad dia berusaha menampakkan keimanan dan  ikut beribadah bersama Nabi dan para sahabat yang lain. Di belakang Nabi Muhammad Saw. dia berusaha menghancurkan pamor dan popularitas Nabi Muhammad Saw. Dia berusaha membuat propaganda agar orang memusuhi Nabi Muhammad Saw. Dia menghasut orang agar tidak mau ikut berjihad pada peristiwa perang Uhud. Dia juga pernah membuat dan menyebarkan berita bohong (hoax) tentang istri Nabi Muhammad yaitu Aisyah. Dibuatnya berita Aisyah berselingkuh dengan sahabat Nabi Shafwan bin Muaththil. Padahal tidak demikian adanya. Hal ini diabadikan Allah dalam surah An-Nur ayat 11.

Dalam surat al-Taubah ayat 80 Allah katakan "Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik."

Setelah peristiwa kematian Abdullah bin Ubay bin Salul, Nabi Muhammad Saw. dilarang oleh Allah untuk menshalatkan jenazah orang munafik. Demikian disebutkan dalam surah al-Taubah ayat 84 “Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik. Ini terjadi pada tahun 9 Hijriah. Semenjak itu Nabi Muhammad Saw. tidak pernah lagi menyolatkan jenazah orang munafik.

Itulah di antara sanksi yang pernah ada terjadi bagi orang munafik. Sedangkan di akhirat kelak mereka akan ditempatkan oleh Allah di neraka bagian paling bawahnya. Dalam bahasa popoler kita kenal dengan istilah di kerak-kerak neraka. Dibakar di neraka saja sudah sangat tidak terperikan panasnya, apalagi di bagian kerak-keraknya. Begitu firman Allah Surah al-Nisa ayat 145 menginformasikan
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Sesungguhnya orang munafik ditempatkan di tempat paling bawah neraka. Kamu tidak akan pernah mendapatkan seorangpun penolong bagi mereka.

Semoga kita termasuk golongan yang beriman dan terhindar dari golongan kafir dan juga munafik. aamiin.
_____

Disampaikan pertama kali pada khutbah Jum'at 02 Jumadil Ula 1439 H/ 19 Januari 2017 M di Masjid al-Muslim Jalan Lintang Takengon Aceh Tengah

Tak Tun Tuang, Tak Tong Tong dan Rebana

Kemaren sore saya ditanya oleh seorang kawan apa arti tak tun tuang dalam bahasa Minang. Mendengar pertanyaan kawan ini saya teringat tiga hal. Pertama, lagu tak tun tuang yang sedang hits di beberapa daerah sampai ke mancanegara. Kedua, lagu tak tong tong kalamai jaguang yang saya pernah dengar waktu kecil. Ketiga, latihan kasidah rebana sewaktu sekolah menengah dengan menggunakan istilah tak tum tum tak tum tum.
Screen Shoot Tak Tun Tuang di Youtube
Fenomena lagu jenaka tak tun tuang yang dipopulerkan oleh gadis Minang bernama Upiak Isil saat ini populer di dunia maya dan banyak juga dinyanyikan di berbagai daerah di luar daerah asalnya dan bahkan juga dinyanyikan oleh orang yang berbahasa selain bahasa Minang.
Ketika ada kawan yang bertanya ke saya apa arti tak tun tuang dalam bahasa Minang, maka secara spontan saya jawab dengan lagu tak tong tong kalamai jaguang dan istilah tak tum tum tak tum tum.
Lagu tak tong tong kalamai jaguang adalah lagu Minang Klasik yang juga bisa ditemukan di youtube dengan berbagai versi. Lagu tak tong tong kalamai jaguang sendiri saya dengar sewaktu saya masih kecil. Tahun 1980-an saya sudah dengar nenek saya menyanyikan bait lagu tak tong tong kalamai jaguang untuk menghibur adik saya yang masih kecil. Jika generasi nenek saya—yang tidak kenal televisi dan radio apalagi internet seperti saat ini—bisa menyanyikan lagu tak tong tong kalamai jaguang, maka saya berasumsi bahwa lagu ini adalah lagu rakyat. Dalam pencarian youtube ditemukan bahwa versi lawas lagu ini dinyanyikan oleh Oslan Huseinseorang penyanyi dan aktor Indonesia asal Sumatera Barat era 50-an. Versi populer juga ada dinyanyikan oleh penyanyi yang lain seperti Misra Molai


Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Enkelvellige lijsttrom met rinkelschijven TMnr 1032-2.jpg
Rebana
Terakhir, istilah  tak tum tum tak tum tum adalah istilah yang digunakan saat latihan rebana. Tak digunakan untuk mewakili bunyi pukulan rebana di bagian pinggir dan tum digunakan untuk melafalkan bunyi pukulan rebana di bagian tengahnya. Rebana adalah alat musik tradisi melayu berupa gendang pipih dengan bingkai berupa lingkaran kayu. Bagian yang dipukul terbuat dari kulit kambing atau kulit sapi. Alat musik tradisional ini sampai saat ini masih digunakan oleh banyak orang dalam berbagai bentuk di antaranya sebagai pengiring lagu kasidah. Bahkan istilah kasidah terlanjur populer digandeng dengan kata rebana.


Kembali ke pertanyaan kawan saya tadi, apa arti tak tun tuang dalam bahasa Minang? Mungkin beberapa penjelasan di atas dapat membantu menjawabnya.

Maaf Pak! Sebelumnya Saya Juga Tersesat

"Rumah tempat arisannya di jalan abc. Nanti dekat tukang gigi, ada lorong. Bapak masuk ke lorong itu." Ucap suara di ujung telfon.

"Iya buk. Nanti sampai di sana saya telfon lagi ibuk", timpal saya mengakhiri telfon.

Setelah sampai dekat tukang gigi yang dimaksud, saya melihat banyak sepeda motor parkir. Di sebelah tempat itu ada lorong. Saya berhenti di sana dan menelfon ibuk tuan rumah arisan tadi. Sayangnya hp beliau sibuk.

Sekitar 10 meter ke dalam dari lorong itu saya melihat ada banyak sendal berserakan di depan pintu sebuah rumah. Dalam pikiran saya mungkin inilah tempat arisannya. Sebelum saya sampai di pintu rumah tersebut, tiba-tiba keluarlah seorang ibuk paruh baya. Saya bertanya kepada beliau. "Di sini tempat arisannya Buk?"

Beliau menjawab. "Iya. Silakan masuk Pak"

Sayapun masuk."Assalamu 'alaikum"

"Wa 'alaikum salam" Jawab ibuk-ibuk yang ada di dalam rumah.

Saya masih tetap berdiri di depan pintu dan tidak dipersilakan masuk oleh orang banyak yang ada di dalam rumah. Yang ada malah mereka menatap saya dengan tatapan kebingungan. Salah seorang dari mereka memanggil tuan rumah. Lalu keluarlah tuan rumah seraya bertanya. "Iya Pak. Ada apa Pak?"

Dengan suara yang penuh keraguan saya bertanya. "Di sini tempat arisan buk"?

"Iya Pak. Tapi ini arisan keluarga. Bapak cari siapa?"

"Saya diminta datang ke arisan. Tadi saya ditelfon ibu Fulanah. Katanya tempat arisannya di dekat tukang gigi."

"Maaf Pak. Mungkin di bawah sana. Di sana kadang juga ada arisan."

"Maaf kalau begitu buk. Saya salah tempat berarti. Saya permisi buk."

"Nggak apa-apa Pak. Duduklah dulu Pak. Makan kita dulu."

"Terima kasih Buk. Ndak usah. Sekali lagi maaf Buk. Assalamu alaikum"

Akhirnya saya pergi dengan rasa malu sambil mendengar bisikan dan suara tawa geli orang yang ada di rumah itu.

Saat saya berjalan keluar, ibuk yang tadinya menyuruh saya masuk berkata "Maaf ya Pak. Saya ndak tahu. Sayapun sebelum sampai di sini juga tersesat"


Screeenshoot google map

Mempersiapkan Generasi Yang Cinta Masjid Sejak Dini*

Kita patut bangga dengan semarak keagamaan secara global akhir-akhir ini. Bahkan, kita patut bersyukur dengan syiar agama berupa kemegahan dan keindahan masjid dan mushalla di sekitar tempat tinggal kita.  Namun, kita juga patut cemas dengan praktek pengamalan keseharian di lingkuangan tempat tinggal kita. Di antaranya terkait shalat berjama’ah di masjid yang tidak penuh satu shaf. Tidak banyak masyarakat yang shalat di masjid. Kalaupun ada hanya orang tua-tua saja. Kalaupun agak ramai, itu mungkin hanya maghrib. Empat waktu yang lain, hanya diisi oleh generasi tua saja.

Kita mungkin berhusnuzhon bahwa siang dan sore hari masyarakat kita beraktifitas di tempat yang berbeda sehingga tidak shalat berjama’ah di lingkungan tempat tinggalnya. Mari kita lihat juga di waktu Magrib, Isya dan Shubuh. Tepat kiranya apa yang disampaikan oleh Buya Hamka bahwa jika ingin melihat kaum muslimin, lihatlah saat hari raya. Namun, jika ingin melihat orang mukmin, lihatlah waktu shubuh di masjid.

Agak kita perkecil standar mengukurnya, mari lihat kondisi saat shalat Jum’at. Dari jumlah penduduk suatu kampung, berapa persentase jumlah generasi muda dibandingkan orang tua? Berapa persentase anak usia sekolah dibandingkan dengan bapak-bapaknya? Atau jika mau lihat data Badan Pusat Statistik, berapa persentase generasi muda dibandingkan bapak-bapak atau kakek-kakek yang sudah tua?  Pertanyaan kita, mana generasi muda yang akan kita harapkan menjadi generasi penerus kita ke depan, generasi yang akan jadi pemimpin kampung halamannya, pemimpin ummat dan pemimpin daerah ini. Kita patut khawatir meninggalkan generasi yang lemah di masa yang akan datang. Lemah akidah, lemah ibadah, lemah akhlak, lemah ekonomi, lemah dalam kepemimpinan dan lain-lain. Pendek kata, lemah dalam segala hal. Istilah lain yang mungkin juga tepat digunakan adalah gereasi yang krisis dalam berbagai bidang. 

Patut kita renungkan Firman Allah surat al-Nisa/4 ayat 9
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا(9)
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. al-Nisa/4: 9)

Dalam ayat lain Allah menyuruh kita orang yang beriman untuk memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok. Hari esok dalam pengertian di dunia dan hari esok dalam pengertian kehidupan akhirat.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(18)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. al-Haysr/ 59: 18)

Bagaimana Caranya?
1.    Mulai pendidikan dari rumah tangga
Ayat sembilan surah al-Nisa’ di atas menyebut istilah dzurriyah yang biasa diterjemahkan dengan anak-anak. Tanggung jawab mendidik anak-anak adalah tanggung jawab orang tua, bukan tanggung jawab guru di sekolah. Maka mulailah mendidik sebuah generasi dari saat mereka masih anak-anak. Tanggung jawab pertama adalah tanggung jawab orang tua. "hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan kelaurgamu dari api neraka" begitu perintah Allah dalam surah al-Tahrim. Nabi mengatakan "setiap kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawabnnya terhadap apa yang di pimpinnya"

2.    Mari ajak anak-anak kita untuk cinta ke masjid sejak dini
Melanjutkan pendidikan di rumah tangga, maka kewajiban Ayah untuk mengajak dan membawa anak-anaknya ke masjid. Ayah pergi ke masjid juga membawa anak-anaknya. Dia tidak pergi sendiri. Dia mencontohkan hal-hal baik bagi anaknya. Bukan sebaliknya, menyuruh anak ke masjid tapi ayahnya tidak ke masjid.

3.    Mari jadikan masjid sebagai tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak dan generasi muda
Pernahkah kita bertanya mengapa anak-anak muda kita lebih nyaman di cafe, warung kopi, warnet, tempat nongkrong dan tempat berkumpulnya anak-anak muda lainnya. Mereka betah berlama-lama di warung kopi karena mereka merasa nyaman di sana. Maka tidak salah juga jika ada masjid yang menyediakan wifi gratis sehingga generasi zaman now mau ngumpul dan nongkrong di masjid.

4.    Mari kita jadikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat
Tidak hanya sebagai pusat kegiatan keagamaan, tapi berbagai kegiatan bisa dipusatkan di masjid sehingga masjid menjadi pusat kegiatan kampung.

Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pertama, Imam yang adil, kedua seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, ketiga seorang yang hatinya bergantung ke masjid, keempat dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, kelima seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah. keenam seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, dan ketujuh seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.
Membangun masjid tidak hanya membangun fisiknya, tapi juga membangun isinya. Dengan segenap kemampuan kita, mari kita persiapkan pembangunan isi masjid. Kita jadikan masjid sebagai pusat kegiatan kita. Pengurus masjid juga sebaiknya memikirkan pembangunan mental spiritual, tidak hanya fokus membangun fisik masjid. 

___

*) Materi ini pertama kali disampaikan saat Khutbah Jum'at di Masjid Kenawat Aceh Tengah 24 Rabi'ul Akhir 1439 H/12 Januari 2018 M

Di Mano Bumi Dipijak, Di Situ Langik Dijunjuang

Di mano bumi dipijak, di situ langik dijunjuang.
Di mano sumua dikali, di situ aie disauak.
Di mano nagari dihuni, di sinan adat dipakai.

Pepatah adat ini mungkin sudah sering terdengar di telinga kita. Namun, pepatah adat ini sekarang mulai tergerus oleh nilai-nilai dan budaya yang datang dari luar seperti sifat siapa lu siapa gue atau sifat egois yang mementingkan diri sendiri dan tidak mau bermasyarakat, budaya hedonisme dan hilangnya nilai-nilai dan semangat gotong royong.

Agaknya, pepatah adat ini dapat siang dipatungkek, malam dipakalang. Karena pepatah ini mengajarkan kepada setiap anak Minangkabau untuk bisa menyesuaikan diri di manapun dia berada.

Satu di antara penyesuaian diri hidup bermasyarakat adalah pepatah hinggok mancakam tabang manumpu. Dalam konsep awalnya, pepatah ini biasa ditujukan untuk masuk dan bergabung dengan suatu kaum atau suku di Minangkabau. Contoh seorang laki-laki suku Bendang Melayu dari Kabupaten Tanah Datar menikah dengan seorang perempuan di Kabupaten Pesisir Selatan. Maka laki-laki suku Bendang Melayu ini harus mencari suku yang terdekat dengan suku asalnya di daerah Pesisir Selatan. Maka dilaksanakanlah proses adat diisi limbago dituang.

Bagi masyarakat urban Minangkabau yang tinggal di rantau, petuah itu masih tetap dipegang teguh. Aplikasinya agak sedikit berbeda. Di rantau sistem kekerabatan berdasarkan suku atau kaum bergeser menjadi sistem kekerabatan kelompok. Kelompok ini bisa dalam bentuk kelompok berdasarkan satu nagari, kelompok atas nama kecamatan atau kabupaten. Juga ada kelompok dalam bentuk kesamaan profesi atau pekerjaan. Apapun nama kelompoknya, pergeseran sistem kekerabatan itu kini menjadi sebuah kemestian. Karena kita makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

Wakil Bupati Aceh Tengah Jadi Inspektur Upacara Hari Amal Bakti Ke-72 Di STAIN Gajah Putih Takengon

Foto: FB Makmur Jaya
Rabu, 03 Januari 2018 bertempat di lapangan parkir Gedung Biro STAIN Gajah Putih Takengon diadakan upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama yang ke-72. Bertindak sebagai inspektur upacara yaitu H. Firdaus, S.Km, Wakil Bupati Aceh Tengah periode 2017-2022 yang baru dilatik pada tanggal 28 Desember 2017.

Foto: FB Makmur Jaya
Tampil sebagai MC upacara Ketua Jurusan Syari’ah, Ramdansyah Fitrah, M.Si. Pembaca Undang-Undang Dasar Negara 1945 Ketua Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, Makmur Jaya, MA. Pembaca Panca Prasetia Korps Pegawai Negeri Sipil Koordinator Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Ansor, MA. Pembaca Kode Etik Pegawai Kementerian Agama Kepala Subbagian Akademik, Rejeki Lensa, S. Ag. Pembaca do’a Koordinator Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), Irhas, M.A.. Sebagai penggerek bendera dan pemimpin pasukan adalah mahasiswa dari unsur Resimen Mahasiswa.


Dalam upacara peringatan HAB itu juga diberikan penghargaan Satya Lencana Karya Satya 10 tahun kepada Dr. Zulkarnain, M.Ag karena telah mengabdi selama 10 tahun di Kementerian Agama. Penghargaan Satya Lencana Karya Satya adalah sebuah penghargaan yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang telah mengabdi sekurang-kurangnya 10 tahun, 20 tahun atau 30 tahun.
Setelah upacaya kegiatan dimeriahkan dengan perlombaan tarik tambang, balap karung dan lomba menyanyi. Sehari sebelumnya telah diadakan pertandingan sepak bola antara pegawai, dosen dan mahasiswa STAIN Gajah Putih di lapangan Gelelungi.


Berdasarkan Surat Edaran (SE) Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI Nomor B.VI/I/HM.03/24709/2017 tentang Pedoman Pelaksanaan Hari Amal Bakti (HAB) ke-72 Kementerian Agama RI tahun 2018, disebutkan jenis kegiatan yang diadakan pada rangkaian HAB ke-72. Dalam SE yang ditujukan kepada para Pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama Pusat, para Rektor UIN/IAIN/IHDN, para Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi,  dan para Ketua STAIN/ STKN/ STAKPN/ STHAN/ STABN Kementerian Agama RI itu disebutkan ada 5 kegiatan yang dilaksanakan yaitu upacara HAB, zikir dan tasyakuran, pertandingan olah raga, lomba kesenian dan hiburan, bakti sosial Dharma Wanita Persatuan dan jalan sehat kerukunan umat beragama. Namun, pada angka tiga romawi (III) SE ini disebutkan bahwa pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing satuan kerja dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip kesederhanaan dan kekhidmatan.
 

Daftar Isi

`

HEADLINES

..
Support : Copyright © 2012. بسم الله الرحمن الرحيم - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger