Latest Updates

Kenakan "Pakaian" Takwa Kapan Dan Dimanapun

11:25 AM
Hampir sebulan kita meninggalkan Ramadan. Selama itu juga kita bisa menilai diri kita sendiri. Kita berikan pertanyaan kepada diri kita, apakah sesudah Ramadan saya menjadi lebih baik, atau menjadi lebih buruk? Jika tidak bisa lebih baik dari saat Ramadan, janganlah menjadi lebih buruk. Minimal kondisi kita tetap seperti saat Ramadan.

Maka paling tidak ada tiga jenis orang setelah Ramadhan berlalu. Pertama, orang yang tidak mengambil manfaat dengan Ramadhan. Momentum Ramadan tidak digunakan untuk beralih dari perbuatan dosa dan maksiat. Sesudah Ramadan orang seperti ini masih saja dalam keadaan berdosa. Kita yakin tidak ada di antara kita yang hadir dalam masjid ini yang masuk kategori pertama ini. Kategori kedua sebaliknya, orang yang sebelum Ramadan, di saat Ramadan dan sesudah Ramadan sama ketakwaannya kepada Allah. Kita berharap berada dalam kelompok ini. Tapi tidak banyak sepertinya kita yang berada dalam posisi ini. Di antara indikatornya adalah, masjid kita hanya ramai saat Ramadan. Di luar Ramadan, masjid hanya ramai saat salat Jumat.

Kategori ketiga--dan ini mungkin umumnya kita yang hadir hari ini--adalah orang memanfaatkan fasilitas Ramadan untuk beribadah dengan harapan terhapus dosanya yang telah berlalu. Siang dan malam Ramadan diisi dengan ibadah kepada Allah. Baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Bahkan ada yang memanfaatkan Ramadan sebagai momentum perubahan ke arah yang lebih baik. Namun sayang seribu kali sayang, setelah Ramadan berlalu orang ini seolah lupa dengan latihan yang telah dilakukannya selama sebulan penuh. Setelah Ramadan seolah lupa jalan ke masjid. Tidak lagi membaca Alquran. Jarang bersedekah. Atau mungkin kembali berbuat dosa dan maksiat yang sudah ditinggalkan selama Ramadan.

Ada sebuah ilustrasi yang sering disampaikan oleh ustad dan tengku di mesjid dan mersah saat ceramah. Bagaimana ayam yang baru dibeli dikenalkan pada kandangnya. Biasanya dalam masa tiga hari seekor ayam dikurung dalam kandangnya. Setelah itu jika dilepas, ia akan kembali ke kandangnya pada senja harinya.

Di tempat lain, bagaimana seekor beruk yang diajar dan dilatih memetik kelapa. Setelah selesai pelatihannya, beruk dihadapkan pada kenyataan memetik kelapa yang sesungguhnya. Berpindah dari satu pohon ke pohon berikutnya untuk melaksanakan tugasnya memetik kelapa. Ia tetap patuh dan tunduk pada instruksi tuannya. Walau terkadang ada godaan dan hambatan yang dilaluinya seperti bertemu sarang semut atau bahkan binatang berbisa.

Kita selaku makhluk berakal tentu tidak mungkin sama seperti ayam dan beruk dalam contoh di atas. Kita yang sudah dilatih sebulan mengendalikan hawa nafsu tentunya jauh lebih cerdas dari dua contoh di atas. Kita yang sudah melatih diri kita salat ke masjid selama Ramadan hendaknya tidak melupakan jalan ke masjid. Kita sudah melatih diri kita untuk salat malam selama Ramadan. Tentunya juga kita lanjutkan praktik latihan sebulan itu sesudah Ramadan. Kita juga sudah latihan berinfak dan bersedekah selama Ramadan. Hendaknya juga melanjutkan tradisi itu sesudah Ramadan. Kita yang sudah tadarus dan membaca Alquran bahkan sampai khatam, hendaknya tidak berhenti membacanya di luar Ramadan.

Terkadang kita merasa iba karena Ramadan hanya sebagai pemberhentian sementara dari dosa bagi sebagian orang. Kita juga sedih ketika melihat masjid musala hanya berisi di bulan Ramadan. Kita harusnya malu karena ibadah kita masih bersifat musiman.

Kita patutnya menangis jika ternyata sesudah 'Idul Fitri (kembali suci) kita menjadi 'Idul Ma'ashi atau 'Idul 'Ishyani (kembali berdosa lagi). Semoga tidak ada lagi saudara kita yang kembali berjudi, mabuk dan mencuri sesudah Ramadan. Semoga tidak ada lagi perbuatan curang dan riba dalam jual beli pasca Ramadan. Semoga tidak ada lagi praktik suap, memotong hak orang lain dan korupsi mulai Syawal ini. Kita bermohon kepada Allah semoga menjadi hamba yang istikamah beriman dan beramal serta menghindari perbuatan dosa. Aamiin.

Kembali kita renungkan ayat yang memerintahkan puasa. Bahwa perintah puasa ditujukan kepada orang yang beriman. Jika puasa dilakukan atas dasar iman, maka hasilnya adalah menjadi pribadi yang bertakwa. Jika puasa dilakukan tidak atas dasar iman; tapi karena ikut-ikutan; karena semua orang berpuasa; karena anak dan keluarga berpuasa; karena kawan-kawan berpuasa; malu jika tidak berpuasa; dan sebab lain selain sebab panggilan tauhid; maka predikat takwa setelah Ramadan tidak diraih. Karena takwa hanya diraih dengan iman. Tanpa iman, maka takwa tidak akan diraih.


Dalam ayat lain banyak perintah takwa itu diserukan kepada orang yang beriman. Kita temukan di antaranya dalam surah Al-Taubah ayat 119, Al-Ahzab ayat 70, Al-Hadid ayat 28, al-Hasyr ayat 18. Yang paling populer dan sering dibacakan oleh khatib dalam kutbahnya adalah surah Ali Imran ayat 102

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.


Kembali ke rumusan takwa di atas. Maka untuk tetap bertakwa, maka tetap laksanakan perintah Allah dan jauhi larangan Allah. Bagaimana caranya? Kita mesti menjadi pribadi bertakwa di mana pun dan kapan pun. Dalam sebuah hadis dari Abu Zar dan Mu'az bin Jabal Rasulullah bersabda

عن أبي ذر ومعاذ بن جبل أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن) رواه الترمذي وقال: حديث حسن
Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan (jika berbuat kejahatan dan dosa), barengilah dengan perbuatan baik karena perbuatan baik itu akan menghapus kejahatan. Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.

Di antara solusinya mari kita jadikan takwa sebagai "pakaian" yang selalu kita kenakan dan kita bawa ke mana pun kita pergi. Dalam surah Al-A'raf ayat 26 Allah sebutkan

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Layaknya pakaian, tentu akan kita pakai dan kenakan ke mana pun kita pergi. Mungkin hanya anak kecil dan orang yang kurang akalnya saja--jika kita tidak sebutnya tidak berakal sama sekali--yang tidak mengenakan pakaian dalam kesehariannya.  Siapa pun kita tentunya menggunakan pakaian. Kita pakai pakaian kita di rumah. Kita pakai pakaian kita di jalan, di pasar, di tempat kerja, di tempat ibadah. Pendek kata, di mana pun dan kapan pun kita selalu menggunakan pakaian. Sebaik-baik pakaian adalah takwa.

Orang yang berbuat dosa adalah orang yang meninggalkan atau menanggalkan pakaian takwanya. Dalam hadis yang sahih disebutkan oleh Rasulullah Saw.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن، ولا يسرق السارق حين يسرق وهو مؤمن، ولايشرب الخمر حين يشربها وهو مؤمن
Orang yang berzina tidak akan berzina jika saat itu dia beriman. Orang yang mencuri tidak akan mencuri jika saat mencuri itu dia beriman. Orang yang meminum minuman yang memabukkan tidak akan meminumnya jika dia dalam keadaan beriman.

Artinya pada saat berbuat dosa, tanggal keimanan seseorang. Jika dia dalam keadaan beriman tentunya tidak akan berbuat dosa. Ingat, takwa sebagai pakaian yang kita pakai dan bawa ke mana pun kita pergi adalah didasari dengan iman. Orang berzina, orang mencuri, mabuk, dan berbuat dosa lainnya tidak memakai pakaian takwanya pada saat dia mencuri. Maka, pakailah pakaian takwa itu selalu agar kita bisa selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah

Semoga Iman kita tetap kokoh dalam diri kita dan tidak bercampur dengan apa pun. Sehingga dengannya kita bisa menjadi pribadi bertakwa, baik sebelum maupun sesudah Ramadhan. Semoga dengan iman yang benar dan kuat kita masih bisa selalu salat ke masjid; kita selalu mengaji; kita gemar bersedekah; kita sering mengikuti pengajian; kita suka berpuasa; kita tetap jujur dan amanah; kita tetap merasa diawasi oleh Allah; kita tidak mau bergunjing; kita takut mengambil hak orang lain; kita menghindari perbuatan curang; kita tidak menganiaya orang lain; kita berbuat baik dengan tetangga; kita menjalankan amanah. Pendek kata, kita berharap dengan iman yang ada pada diri kita, kita menjadi pribadi yang bertakwa dan istikamah dengan keimanan dan ketakwaan itu. Aamiin.

_____
Disampaikan pertama kali dalam Khutbah Jumat Masjid Al-Abrar Kebayakan Aceh Tengah pada hari Jumat 6 Juli 2017

Takwa Pasca Ramadhan

7:37 PM
Perintah Puasa dibarengi dengan ujung ayat "agar kamu menjadi orang yang bertakwa". Secara parsial dipahami oleh sebagian orang bahwa puasa ditujukan agar menjadi pribadi yang bertakwa. Hal ini tidak salah. Hanya saja, jika takwa diartikan hanya didapat dengan puasa, maka di sini terasa janggal jadinya. Hal itu berbuntut seolah-olah jika sudah selesai puasa, maka takwa sudah diraih. Akhirnya berhenti beramal saleh setelah Ramadhan, padahal saat bulan Ramadhan, selalu beramal saleh.

Ada orang yang sudah berhenti ke mesjid untuk salat lima waktu. Padahal bulan Ramadhan selalu ke mesjid. Ada orang yang jarang ngaji, padahal bulan Ramadhan selalu ngaji dan tadarus. Ada orang yang rajin bersedekah di bulan Ramadhan, tapi sesudah berlalu Ramadhan berinfak tidak semangat. Ada orang yang di bulan Ramadhan menjauhi maksiat dan munkarat, tapi sesudah Ramadhan berlalu kembali ke kubangan dosa. Ingat definisi takwa yang selalu diwasiatkan oleh khatib setiap salat Jumat yaitu "melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya".

Jika selama Ramadhan kita melaksanakan perintah Allah, maka setelah Ramadhan tentunya tetap melaksanakan perintah Allah. Jika selama Ramadhan kita meninggalkan larangan Allah, maka setelah Ramadhan juga selalu menjauhi larangan Allah. Itulah definisi takwa yang paling sederhana.

Kembali kita baca ayat yang memerintahkan puasa. Bahwa perintah puasa ditujukan kepada orang yang beriman. Jika puasa dilakukan atas dasar iman, maka hasilnya adalah menjadi pribadi yang bertakwa. Jika puasa dilakukan tidak atas dasar iman; tapi karena ikut-ikutan; karena semua orang berpuasa; karena anak dan keluarga berpuasa; karena kawan-kawan berpuasa; malu jika tidak berpuasa; dan sebab lain selain sebab panggilan tauhid; maka predikat takwa setelah Ramadhan tidak diraih. Karena takwa hanya diraih dengan iman. Tanpa iman, maka takwa tidak akan diraih. Wajar kiranya di tempat yang lain Allah serukan perintah takwa itu kepada orang beriman.

Surah Ali Imran ayat 102
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Surah Al-Maidah ayat 35
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Surah Al-Taubah ayat 119
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.

Surah Al-Ahzab ayat 70
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar

Surah Al-Hadid ayat 28
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Surah al-Hasyr ayat 18
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Melalui beberapa ayat di atas kita tahu bahwa ternyata yang diperintah untuk bertakwa dan melakukan amal kebajikan lainnya adalah orang yang beriman. Maka bagi orang yang beriman dengan sebenar-benar iman, tentu tidak akan susah untuk menjaga dan memelihara ketakwaannya pasca Ramadhan. Karena takwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Orang yang benar-benar beriman tentu akan melaksanakan perintah Allah dan akan meninggalkan larangan Allah. Demikianlah definisi takwa.

Bagaimana Cara Tetap Bertakwa Sesudah Ramadhan?
Kembali ke rumusan takwa di atas. Maka untuk tetap bertakwa, maka tetap laksanakan perintah Allah dan jauhi larangan Allah. Bagaimana caranya? Di antara solusinya adalah mari kita jadikan takwa sebagai "pakaian" yang selalu kita kenakan dan kita bawa ke mana pun kita pergi. Dalam surah Al-A'raf ayat 26 Allah sebutkan

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Layaknya pakaian, tentu akan kita pakai dan kenakan ke mana pun kita pergi. Mungkin hanya anak kecil dan orang yang kurang akalnya saja--jika kita tidak sebutnya  tidak berakal sama sekali--yang tidak mengenakan pakaian dalam kesehariannya.  Siapa pun kita tentunya menggunakan pakaian. Kita pakai pakaian kita di rumah. Kita pakai pakaian kita di jalan, di pasar, di tempat kerja, di tempat ibadah. Pendek kata, di mana pun dan kapan pun kita selalu menggunakan pakaian. Sebaik-baik pakaian adalah takwa.

Orang yang berbuat dosa adalah orang yang meninggalkan atau menanggalkan pakaian takwanya. Dalam hadis yang sahih disebutkan oleh Rasulullah Saw.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يزني الزاني حين يزني وهو مؤمن، ولا يسرق السارق حين يسرق وهو مؤمن، ولايشرب الخمر حين يشربها وهو مؤمن
Orang yang berzina tidak akan berzina jika saat itu dia beriman. Orang yang mencuri tidak akan mencuri jika saat mencuri itu dia beriman. Orang yang meminum minuman yang memabukkan tidak akan meminumnya jika dia dalam keadaan beriman.

Artinya pada saat berbuat dosa, tanggal keimanan seseorang. Jika dia dalam keadaan beriman tentunya tidak akan berbuat dosa. Ingat, takwa sebagai pakaian yang kita pakai dan bawa ke mana pun kita pergi adalah didasari dengan iman. Orang berzina, orang mencuri, mabuk, dan berbuat dosa lainnya tidak memakai pakaian takwanya pada saat dia mencuri. Maka, pakailah pakaian takwa itu selalu agar kita bisa selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah

Semoga Iman kita tetap kokoh dalam diri kita dan tidak bercampur dengan apa pun. Sehingga dengannya kita bisa menjadi pribadi bertakwa, baik sebelum maupun sesudah Ramadhan. Semoga dengan iman yang benar dan kuat kita masih bisa selalu salat ke masjid; kita selalu mengaji; kita gemar bersedekah; kita sering mengikuti pengajian; kita suka berpuasa; kita tetap jujur dan amanah; kita tetap merasa diawasi oleh Allah; kita tidak mau bergunjing; kita takut mengambil hak orang lain; kita menghindari perbuatan curang; kita tidak menganiaya orang lain; kita berbuat baik dengan tetangga; kita menjalankan amanah. Pendek kata, kita berharap dengan iman yang ada pada diri kita, kita menjadi pribadi yang bertakwa dan istiqamah dengan keimanan dan ketakwaan itu. Aamiin.
______
Disampaikan pertama kali pada takziah Minang Saiyo di Tetunjung Takengon pada hari Kamis 5 Juli 2018

100 Kali Cambuk Sebagai 'Uqubat bagi Pelaku Jarimah Zina Di Aceh

2:25 PM
Pagi menjelang siang ini (Kamis, 05/07/2018) di depan Gedung Olah Seni Takengon kembali diadakan pelaksanaan 'uqubat cambuk terhadap pelanggaran Qanun Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat. 'Uqubat cambuk hari ini dilaksanakan bagi pelaku jarimah zina. Pelakunya masih muda. Keduanya bukan warga kabupaten ini. Tapi warga kabupaten lain. Pelaku pria berusia 22 tahun, pendidikan terakhir SMP. Pelaku wanita berusia 20 tahun, pendidikan terakhir SMA. Kepada kedua pelaku diberikan 'uqubat cambuk masing-masing 100 cambuk. Dalam pelaksanaannya setiap dua puluh kali cambuk, dijeda sejenak sekaligus dicek kesiapan dan kesehatan pelaku jarimah.

Tahun lalu (19/10/2017) juga pernah dilaksanakan 'uqubat cambuk bagi pelaku zina di tempat yang sama. Pelaksanaan 'uqubat cambuk ini menunjukkan syariat Islam dalam hal jinayat ditegakkan di daerah ini. Sebagaimana hampir semua penegakkan hukum menunjukkan bahwa hukum tegak dan dilaksanakan. Namun pelaksanaan hukum ini juga mengisyaratkan bahwa pencegahan terhadap perbuatan maksiat harus terus ditingkatkan. Pengawasan harus terus dilakukan. Tidak hanya bagi pemuda-pemudi, karena pernah ada kasus perzinaan yang dilakukan oleh bapak-bapak berusia 40 tahunan.

Jarimah Zina Menurut Qanun

Berdasarkan  Qanun No. 6 Tahun 2014 pasal 1 angka 26 disebutkan bahwa “zina adalah persetubuhan antara seorang laki-laki atau lebih dengan seorang perempuan atau lebih tanpa ikatan perkawinan dengan kerelaan kedua belah pihak”. Sesuai dengan pasal 33 angka (1) qanun ini disebutkan bahwa “Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah Zina, diancam dengan ‘Uqubat Hudud cambuk 100 (seratus) kali”. Angka (2) “Setiap Orang yang mengulangi perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diancam dengan ‘Uqubat Hudud cambuk 100 (seratus) kali dan dapat ditambah dengan ‘Uqubat Ta’zir denda paling banyak 120 (seratus dua puluh) gram emas murni atau ‘Uqubat Ta’zir penjara paling lama 12 (dua belas) bulan”. Angka (3) “Setiap Orang dan/atau Badan Usaha yang dengan sengaja menyediakan fasilitas atau mempromosikan Jarimah Zina, diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 100 (seratus) kali dan/atau denda paling banyak 1000 (seribu) gram emas murni dan/atau penjara paling banyak 100 (seratus) bulan.

Pasal 34 “Setiap Orang dewasa yang melakukan Zina dengan anak, selain diancam dengan ‘Uqubat Hudud sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) dapat ditambah dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 100 (seratus) kali atau denda paling banyak 1.000 (seribu) gram emas murni atau penjara paling lama 100 (seratus) bulan”. Pasal 35 “Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah Zina dengan orang yang berhubungan Mahram dengannya, selain diancam dengan ‘Uqubat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) dapat ditambah dengan ‘Uqubat Ta’zir denda paling banyak 100 (seratus) gram emas murni atau “uqubat Ta’zir penjara paling lama 10 (sepuluh) bulan”.Pasal 36 “Perempuan yang hamil di luar nikah tidak dapat dituduh telah melakukan Jarimah Zina tanpa dukungan alat bukti yang cukup”. Selengkapnya Qanun ini dapat dilihat di sini.

Memilih Fujur Atau Taqwa

9:04 PM
Minggu lalu kita sudah membahas tentang manusia yang diciptakan oleh Allah dengan fitrah dalam surah al-Rum ayat 30. Fitrah kita pahami sebagai pengetahuan keimanan atau potensi tauhid yang Allah ciptakan bagi setiap manusia. Dengan potensi fitrah itu kita menjadi beragama dengan agama yang benar, berakidah dengan akidah yang benar. Fitrah itu tetap ada pada setiap manusia, dia tidak berubah. Hanya saja manusia bisa dipengaruhi oleh unsur di luar dirinya untuk menjauhi fitrah itu.
Kita sampaikan hadis bahwa setiap manusia lahir ke dunia dengan fitrah yang sama, yaitu fitrah bertauhid. Namun, lingkungan dan faktor dari luarlah yang menjadikan dia tidak sejalan dengan fitrahnya. Dalam surah al-A’raf ayat 172 juga diinformasikan bahwa ketika kita belum terlahir ke dunia, kita telah bersaksi bahwa benar Allah Tuhan Kita. Kesaksian itu juga adalah bukti adanya fitrah bertauhid yang ada pada setiap manusia.
Pada pertemuan kali ini kita lanjutkan pembahasan tentang bagaimana manusia melanjutkan kehidupannya setealah terlahir ke dunia. Sebelumnya manusia telah bersyahadat mentauhidkan Allah sebagaimana dalam surah al-A'raf ayat 172. Kita lanjutkan kajian dengan membahas Firman Allah dalam surat al-Syams ayat 7-10
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا(7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا(8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا(9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا(10
Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. al-Syams/ 91: 7-10)
Pada ayat pertama sampai ayat keenam surah al-Syams ini Allah bersumpah dengan matahari, bulan, siang, malam, langit dan bumi serta atribut yang melekat padanya. Matahari dengan sinarnya di waktu duha, bulan yang berputar mengelilingi matahari, siang yang terang karena ada matahari, malam yang gelap karena sinar matahari tertutup di bagian belahan bumi yang lain, langit yang tanpa tiang ini, bumi yang luas tak bertepi ini. Enam hal yang disebut Allah itu berpasangan satu sama lainnya. Matahari dan bulan, siang dan malam, langit dan bumi.
Maka pada ayat ketujuh ini Allah bersumpah dengan diri manusia dan penyempurnaan penciptaannya. Jika dibandingkan antara manusia dengan makhluk lain yang disebutkan pada ayat pertama sampai keenam di atas, maka dapat dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang kecil. Akan tetapi, ada hal lain yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang tidak diberikan kepada enam makhluk besar di atas. Pada ayat kedelapan disebutkan bahwa manusia di-ilham-kan oleh Allah fujur dan taqwa. Sementara enam makhluk sebelumnya tidak diberi hal yang sama  oleh Allah.
Jika dicermati ayat ini akan ditemukan bahwa diri manusia diberi sebuah potensi oleh Allah. Potensi itu tidak diberikan kepada makhluk lain selain manusia. Bahkan, potensi itu tidak diberikan kepada makhluk sebesar matahari, bulan, siang, malam, langit ataupun bumi.
Potensi yang dimaksud dalam bahasa ayat ini adalah ilham. Hamka memahami ilham dalam ayat ini dengan petunjuk yang diberikan kepada manusia untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Ia berupa potensi yang diberikan kepada manusia untuk menentukan pilihan. Pilihan itu hanya ada dua yaitu fujur yang akan menghantarkan kepada kesengsaraan dan hal-hal celaka lainnya. Pilihan lain adalah taqwa yang akan membawa manusia kepada kebahagiaan dan keselamatan. Ini juga sebagai bukti kecintaan Allah kepada hambanya. Sebagaimana juga disebutkan oleh surat al-Balad ayat 10 وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ (dan Kami telah menunjukkan kepada manusia dua jalan mendaki).
Al-Zamakhsyari memahami ilham pada ayat ini berupa potensi yang diberikan Allah kepada diri manusia untuk memahami dan memikirkan bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Dengan Ilham/ potensi itu sekaligus memungkinkan manusia untuk menentukan pilihan di antara kedua hal baik dan buruk itu. Hal itu ditunjukkan oleh ungkapan ayat selanjutnya yang mengatakan bahwa yang beruntung adalah orang yang membersihkan jiwanya dan merugilah orang yang mengotori jiwanya. Membersihkan jiwa dengan cara mengikuti taqwa, dan mengotori jiwa dengan cara mengikuti fujur.

Berdasarkan hal ini, maka wajar jika orang yang berbuat kebaikan dapat ganjaran dari kebaikannya dan orang yang berbuat hal-hal yang tidak baik juga mendapat ganjaran dari perbuatannya. Karena perbuatan yang dilakukan adalah atas dasar pilihannya sendiri. Allah memberikan daya dan kemampuan bagi setiap manusia untuk mengetahui kebaikan dan keburukan.
Kekotoran yang paling berbahaya bagi jiwa adalah perbuatan syirik atau menyekutukan Tuhan dengan yang lain, mendustakan kebenaran yang disampaikan Rasul, atau bersifat hasad-dengki kepada sesama manusia, benci dendam, sombong, angkuh dan lain-lain.  Kekotoran jiwa akan membuka pintu kepada berbagai kejahatan yang besar. Sebagai salah satu bukti dari kekotoran jiwa itu adalah seperti perbuatan kaum Tsamud sebagaimana dijelaskan oleh kelanjutan ayat ini.
Sebagai penutup, kita ulangi bahwa dengan ilham yang Allah berikan memungkinkan manusia untuk mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Selanjutnya kita tinggal memilih mengikuti yang baik atau mengikuti yang buruk. Jika kita ikuti yang baik, berarti kita menjaga diri kita tetap berada dalam fitrah. Sebaliknya, mengikuti keburukan berarti mengotori jiwa kita. 

Ini saja yang kita sampaikan, selanjutnya mungkin kita bisa lanjutkan dengan pembahasan mengenai kebaikan dan keburukan pada kesempatan berikutnya. Insya Allah. Semoga bermanfaat.
_____
Disampaikan pertama kali untuk pengajian subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh Tengah pada hari Kamis 21 Syawal 1439 H/ 5 Juli 2018 M

Maaf, Idul Fitri dan Istiqamah

6:36 PM

Alhamdulillah pengajian rutin setiap Jum’at kita mulai kembali setelah sebelumnya kita jeda selama Ramadhan. Semoga pengajian kita berkah dan berjalan dengan baik ke depannya. Berhubung masih dalam bulan Syawal, ada tiga hal yang ingin Saya sebagai pembuka kaji.

Pertama, Taqabbalahu minna waminkum, wa ja’alana minal ‘aidina wal faizin. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita orang-orang yang kembali suci dan orang-orang yang beruntung. Saya juga minta maaf lahir dan bathin atas dosa dan kesalahan kepada Bapak/Ibu majlis semua.
Kita yang sudah diampuni dosa dan kesalahan dengan beribadah puasa di siang hari dan ibadah lainnya di malam hari dengan penuh keimanan dan keikhlasan kepada Allah belum benar-benar suci dari dosa sebelum saling memaafkan kesalahan sesama kita. Karena dosa yang diampuni Allah dengan shiyam dan qiyam Ramadhan hanya dosa yang bersangkut-paut dengan Allah. Sedangkan dosa yang bersangkut paut dengan sesama manusia Allah ampuni setelah kita selesaikan dosa dan kesalahan itu dengan saling bermaafan.

Dalam hadis riwayat Muslim disampaikan oleh Nabi bahwa orang yang syahid dalam menegakkan agama Allah diampuni semua dosanya kecuali dosa hutang. Selengkapnya baca “minta maaf di Idul Fitri

Kedua, Idul Fitri yang kita artikan sebagai kembali kepada fitrah seyogyanya adalah “kembali beragama”. Karena fitrah adalah potensi dasar yang diberikan oleh Allah bagi setiap manusia untuk bertauhid dan mengenal agama dan selanjutnya dapat menjalankan agama dengan baik, maka kembali kepada fitrah tentunya kembali melaksanakan ibadah wajib dan sunnah yang sudah dilaksanakan di bulan Ramadhan. Orang yang telah beridul Fitri tentunya kembali shalat ke masjid, kembali mengaji, bersedekah dan berderma, kembali mengikuti pengajian, kembali berpuasa dengan puasa sunnah. Pendek kata, orang yang telah beridul fitri adalah orang yang kembali menegakkan agama dalam dirinya. Bukan malah meninggalkan agama. Intinya, Idul Fitri sejatinya menghendaki kita untuk istiqamah dengan tauhid, istiqamah dengan ajaran agama, termasuk istiqamah menjalankan agama. Selengkapnya baca "kembali ke fitrah, kembali menjalankan ajaran agama" dan "Kembali fitri, jangan kembali berdosa lagi"

Ketiga, untuk istiqamah dalam beragama paling tidak ada empat prinsip yaitu Fastabiqul Khairat, Sungguh-sungguh beramal, Seimbang dalam beramal dan terakhir berketerusan dalam beramal walau amal itu sedikit atau kecil. Jangan kita seperti yang Allah sebut dalam Surah al-Nahl ayat 92 seperti orang yang mencerai-beraikan benang yang sudah dipintalnya dengan baik.  Selengkapnya baca “Istiqamah sesudah ramadhan

Ini saja yang saya sampaikan semoga bermanfaat. Mohon Maaf lahir dan Bathin. Semoga Kita benar-benar dapat kembali menjalankan ajaran agama dengan baik dan totalitas dan istiqomah. aamiin

____
Disampaikan dalam pengajian Muhammadiyah Kota Takengon pada Jumat 15 Syawal 1439 H/ 29 Juni 2018 M

 
  • Contact Us | Site Map | TOS | Privacy Policy | Disclaimer
  • Copyright © Bismi Rabb. Template by OddThemes