Latest Updates

Kembali Fitri JANGAN Kembali Berdosa Lagi

7:01 AM
Taqabbalallahu minna wa minkum. Wa ja'alana minal 'aidin walfaizin.

Selamat untuk kita semua yang telah berpuasa dengan iman dan ikhlas karena Allah. Karena hari ini kita telah mendapatkan janji Allah berupa ampunan dari dosa yang telah berlalu. Sehingga hari ini kita disebut kembali kepada kondisi tanpa dosa sebagaimana layaknya seorang bayi yang baru lahir, suci tanpa dosa, Idul fitri.

Sebagian juga menyebutkan, selamat berhari raya. Selamat merayakan kemenangan. Menang bukan karena kita telah bebas dan merdeka dari rasa haus dan lapar yang kita lalui selama satu bulan. Kita menang karena telah berhasil melawan musuh terbesar yang ada dalam diri kita, yaitu keinginan/ nafsu.

Namun sangat disayangkan. Masih ada di antara sebagian kita yang merayakan kemenangan dengan cara yang tidak tepat. Di beberapa tempat kemenangan dirayakan dengan letupan mercun dan hiasan kembang api yang sejatinya bukan tradisi Islam. Uang THR digunakan untuk hal mubazir pembeli mercun dan kembang api yang harganya luar biasa mahalnya.

Dulu mungkin ada acara hiburan di kampung yang digagas dan dipersiapkan dengan baik oleh para pemuda pemudi kampung. Ada pertunjukkan drama. Juga ada pentas seni tari yang diisi oleh anak-anak sekolah. Ada juga pertandingan bola kaki. Lomba balap karung dan permainan tradisional lainnya. Bahkan juga ada buayan ka[li]liang, seperti wahana bianglala. Uniknya ia tidak digerakkan oleh mesin, tapi diputar bersama menggunakan tenaga para pemuda. Uang THR tetap berputar dan beredar di kampung.

Perubahan zaman terjadi dengan cepat. Tradisi lama itu sudah susah ditemukan. Yang ada sekarang kita temukan hiburan dan pasar malam yang acaranya digagas bukan lagi oleh pemuda kampung. Tapi, ini adalah bisnis yang datang dari luar kampung. Uang THR sudah beredar luas sampai ke tangan pengusaha pasar malam.

Ada juga masyarakat berpesta merayan idul fitri dengan dentuman musik hingar-bingar. Menampilkan penyanyi yang tidak menutup aurat. Lalu acara itu ditonton oleh masyarakat umum. Bergabung menontonnya ayah, anak, mamak dan kemenakan. Hilang rasa malu. Hilang basa basi, hilang raso jo pareso.

Tidak jarang, acara hiburan itu dikunjungi oleh pemuda-pemudi dari luar kampung. Terkadang juga terdengar kerusuhan kecil berupa pertengkaran pemuda. Tapi ini tidak sering terjadi. Tidak diketahui juga apa penyebabnya. Entah karena bersenggolan ketika berjoget. Atau karena mereka lupa diri disebabkan pengaruh minuman memabukkan. Tidak ada yang tahu pasti apa penyebabnya. Informasi pasti juga susah didapat. Yang ada hanya sisa botol bekas minuman keras di lokasi acara.

Ada juga yang mengikat hiburan musik ini dengan acara 'amal' menggalang dana dengan acara lelang kue, lelang singgang ayam atau bahkan lelang kambing guling. Acara ini juga memanfaatkan momen para perantau pulang kampung. Dana yang terkumpul biasanya diperuntukkan untuk pembangunan kampung, minimal membangun posko pemuda.

Kembali ke topik pembicaraan. Idul fitri bukanlah hari merayakan kemenangan nafsu yang sudah dipuasakan sebulan penuh. Idul fitri juga bukan hari raya untuk berpesta dengan melupakan silaturahim dan kekeluargaan. Idul fitri bukanlah hari kemenangan dengan melupakan ibadah yang sudah dilatih dan dibiasakan sebulan penuh. Idul fitri adalah hari raya membesarkan Allah (wa li tukabbirullah).

Idul fitri adalah hari raya kembali kepada kondisi fitri, kembali kepada kondisi suci. Bukan kembali lagi berdosa dan kembali ke kubangan maksiat lagi. Idul fitri adalah bagaimana rasanya keluar dari masa karantina dan pelatihan. Maka perjuangan yang sungguh berat sebenarnya bukan pada saat latihan, tapi sesudah latihan.

Idul fitri adalah layaknya waktu awal bagi para siswa, santri dan mahasiswa kembali ke masyarakat setelah menamatkan pendidikannya. Idul fitri bagaikan masa awal mempraktekkan ilmu dan pelatihan yang sudah didapat di bangku pendidikan.

Contoh yang sering disampaikan oleh buya dan tengku di mesjid dan musalla saat ceramah adalah bagaimana ayam yang baru dibeli dikenalkan pada kandangnya. Biasanya dalam masa tiga hari seekor ayam dikurung dalam kandangnya. Setelah itu jika dilepas, ia akan kembali ke kandangnya pada senja harinya.

Contoh lain bagaimana seekor beruk yang diajar dan dilatih memetik kelapa. Setelah selesai pelatihannya, beruk dihadapkan pada kenyataan memetik kelapa yang sesungguhnya. Berpindah dari satu pohon ke pohon berikutnya untuk melaksanakan tugasnya memetik kelapa. Ia tetap patuh dan tunduk pada instruksi tuannya. Walau terkadang ada godaan dan hambatan yang dilaluinya seperti bertemu sarang semut atau bahkan binatang berbisa.

Kita selaku makhluk berakal tentu tidak mungkin sama seperti ayam dan beruk dalam contoh di atas. Kita yang sudah dilatih sebulan mengendalikan hawa nafsu tentunya jauh lebih cerdas dari dua contoh di atas. Kita yang sudah melatih diri kita salat ke masjid selama Ramadan hendaknya tidak melupakan jalan ke masjid. Kita sudah melatih diri kita untuk salat malam selama Ramadan. Tentunya juga kita lanjutkan praktek latihan sebulan itu sesudah Ramadan. Kita juga sudah latihan berinfak dan bersedekah selama Ramadan. Hendaknya juga melanjutkan tradisi itu sesudah Ramadan. Kita yang sudah tadarus dan membaca Alquran bahkan sampai khatam, hendaknya tidak berhenti membacanya di luar Ramadan.

Terkadang kita merasa iba karena Ramadan hanya sebagai pemberhentian sementara dari dosa bagi sebagian orang. Kita juga sedih ketika melihat masjid musalla hanya berisi di bulan Ramadan. Kita harusnya malu karena ibadah kita masih bersifat musiman.

Kita patutnya menangis jika ternyata sesudah 'Idul Fitri (kembali suci) kita menjadi 'Idul Ma'ashi atau 'Idul 'Ishyani (kembali berdosa lagi). Semoga tidak ada lagi saudara kita yang kembali berjudi, mabuk dan mencuri sesudah Ramadan. Semoga tidak ada lagi perbuatan curang dan riba dalam jual beli pasca Ramadan. Semoga tidak ada lagi praktek suap, memotong hak orang lain dan korupsi mulai Syawal ini. Aamiin.

Kita bermohon kepada Allah semoga menjadi hamba yang istiqamah beriman dan beramal serta menghindari perbuatan dosa. Selamat Idul Fitri. Semoga Allah terima ibadah dan amal soleh kita. Semoga Allah ampuni dosa-dosa kita, sihingga benar-benar menjadi hamba yang kembali suci dan tetap suci sampai akhir hayat nanti. Aamiin.

#idmubarak

Bukan Baju Lebaran Biasa

2:17 PM
Kita sudah sampai di penghujung Ramadhan. Setelah ini Insya Allah kita akan berhari raya. Kita salat Idul Fithri dan bersilaturahim dengan sesama muslim. Di antara tradisi tahunan bagi mayoritas ummat Islam di negeri kita ini adalah beraya atau berlebaran dengan pakaian baru.

Baju baru untuk lebaran tidak hanya diminati oleh anak-anak, tapi orang dewasa pun ikut dengan tradisi memakai baju baru untuk hari lebaran. Tidak hanya baju, tapi juga celana, alas kaki. Bahkan pakaian pergi salat Id seperti sarung, baju gunting cina dan kopiah juga diperbarui.

Lihatlah ke pasar, atau pusat perbelanjaan. Ummat Islam tumpah ruah di sana. Tidak jarang diskon besar-besaran disengaja oleh pihak toko. Walaupun sebenarnya mereka sudah mempersiapkan stok untuk dihabiskan pada masa sebelum lebaran. Untuk inilah mungkin di antara alasan mengapa lebaran harus pakai tunjangan yang disebut THR.

Tidak ada yang salah dengan tradisi berpakaian baru di hari raya. Jika dengan baju baru yang indah dan bersih itu kita bisa berhari raya, maka ada nilai pahala yang kita dapatkan. Karena Islam sangat mencintai keindahan. Dengan semangat berbelanja lebaran ternyata mampu mendongkrak ekonomi masyarakat terutama para pedagang. Mereka rela tidak pulang kampung demi berjualan menjelang lebaran. Karena bagi mereka berjualan sebelum lebaran adalah "hari raya"-nya para pedagang.

Namun sebagian kita ummat Islam masih terpaku memaknai pakaian hari raya dengan pakaian fisik dan jasmani tanpa memaknainya dengan pakaian rohani. Dalam bahasa Arab, pakaian biasa disebut dengan  (لباس) libas. Kata ini pernah disebutkan Allah dalam Surah Al-A'raf ayat 26

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Allah menyebutkan pakaian yang paling baik adalah takwa. Maka menjadi penting bagi setiap orang yang telah menyediakan pakaian baru untuk lebaran untuk juga menyiapkan pakaian takwa bagi dirinya. Pakaian takwa itulah yang senantiasa di pakai baik saat lebaran maupun di luar lebaran. Bagi yang belum sempat membeli pakaian baru untum lebaran, tidak usah bersedih. Karena sebaik-baik pakaian yang Allah sebut dalam Alquran adalah takwa.

Kita yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari iman dan penuh keihklasan tentunya yang paling pantas diwisuda di hari raya dengan sebutan/ yudisium takwa. Ujung ayat perintah puasa menyebutkan لعلكم تتقون (agar kamu menjadi pribadi yang bertakwa).

Kenakanlah pakaian terindahmu untuk jasmanimu di hari raya, tapi jangan lupakan pakaian rohanimu. Karena sesungguhnya kamu bukanlah makhluk yang hanya dikenal dengan fisik dan jasmanimu, tapi lebih dari itu kamu adalah makhluk yang dilebihkan atas makhluk yang lain berupa rohani. Maka beri juga pakaian takwa untuk rohanimu.

Selamat (menyambut) Idul Fitri. Semoga ibadah dan amal saleh kita diterima Allah. Semoga Allah ampuni dosa-dosa kita. Kami sekeluarga juga mohon maaf kepada semua jamaah dan pembaca semua atas segala salah dan khilaf. Semoga kita benar-benar menjadi pribadi yang bertakwa. Aamiin. Takengon, 29 Ramadhan 1439 H. Wassalamu Alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat Idul Fitri

3:36 PM
Lebaran tahun 1439 H ini adalah lebaran kedua saya tidak pulang kampung. Dua tahun sebelumnya saya dan keluarga juga tidak pulang kampung dengan alasan yang hampir sama dengan alasan tahun ini. Banyak hal berbeda tentunya dengan waktu dua tahun yang lalu. Di antaranya, tahun ini kami berlebaran di rantau dengan enam orang anggota keluarga.

Selebihnya, kondisinya hampir sama. Bahkan ada kondisi yang persis sama, dititipi sepeda motor dan kunci rumah kawan yang pulang kampung. Bahkan juga dititipi isi kulkas. Khusus titipan terakhir tidak akan dikembalikan. ☺

H-2 lebaran, sambil bawa tiga anak raun-raun, saya keliling untuk pantau kondisi rumah pemudik di sekitar tempat tinggal di saribesa.

Rumah pertama, rumah cat kuning di sebelah kanan rumah kontrakan saya. Tampak lampu luar menyala. Rumah ini hanya diamati dari jalan di samping rumah saya. Rumah ini selalu tampak setiap saat saya ke luar rumah.

Lanjut ke rumah kedua, rumahnya hamba Allah Yang Maha Memelihara. Lampu luar tampak tidak menyala. Hal yang sama juga didapati pada rumah ketiga di dekat mushalla. Yaitu rumahnya seorang hamba terpuji lagi berilmu pengetahuan. Dekat mesin pompa air di teras rumah tampak tergolek sebuah tong sampah hijau.

Sedikit tambahan. Dari rumah kedua menuju ke rumah ketiga, saya lewat ke jalan berbeda. Tampak parkir sepeda motor seorang sepri dekat rumah bapak yang tinggal dekat mushalla dekat rumah kedua itu. Rumah ini tidak dimaksudkan untuk dilihat.

Beranjak ke atas menuju rumah keempat, rumah cat biru berpagar putih tepat di depan sekolah sibuciek. Tampak di depan rumah berdiri dengan gagahnya sebuah mobil merah. Merah catnya. Bukan merah plat nomornya ☺. Lampu luar masih menyala sebagai bukti masih ada pulsa listriknya.

Di sebelahnya, rumah kelima terlihat ada tukang yang bekerja melakukan pencatan pagar yang mungkin untuk saat ini lebih bagus dibanding pagar tempat kerja orang yang tinggal di rumah ini.

Lurus terus menuju lapangan futsal lalu berbelok ke kanan menuju rumah dua orang kawan. Rumah keenam yaitu rumah kawan yang rencana awalnya tidak pulang kampung dan akan berhari raya bersama dengan kami di sini 😂. Di rumah ini terlihat ada payung tergantung di depan pintu masuk.

Dua nomor dari rumah ini terlihat rumah ketujuh yang di jemurannya terjemur dua seprei bermotiv bendera negara paman sam dan satu lagi motiv bunga. Kedua rumah ini, lampu luarnya menyala di siang hari.

Rumah kedelapan dan kesembilan yang dipantau yaitu rumah nomor 351 dan 352 yang sebenarnya agak jauh dari sekitaran tempat ini. Pada kedua rumah tidak ada lampu luar yang menyala. Berdasarkan info penghuni rumah sebelahnya, memang tidak hidup lampu itu. Diduga pulsanya habis. Di depan rumah 352 terlihat dua buah ban bekas yang disulap menjadi meja kecil.

Sebelum sampai ke rumah kedelapan dan kesembilan ini, saya sempat berhenti di depan sebuah cafe yang hampir siap bagian teras dan parkirnya. Tiba-tiba saya dihampiri oleh seorang pengusaha muda yang sukses namun tawadhu'. Dialah pemilik cafe baru ini. Dia menawarkan saya dan anak-anak beraya ke rumahnya.

Dalam perjalanan menuju rumah berikutnya, ternyata anak saya laki-laki yang kecil tertidur dalam perjalanan. Maka saya putuskan langsung pulang ke kontrakan dulu sebelum melanjutkan pemantauan.

Di perjalanan pulang saya melihat sepeda motor dengan nopol xx 5991 xx yang dikendarai seorang lelaki dengan pakaian kurang bersih. Saya tahu pemilik sepeda motor ini sudah pulang kampung. Saya iringi terus kemana arah pengemudinya pergi. Eh, ternyata dia adalah tukang yang bekerja di rumah tempat pemilik sepeda motor itu tinggal 😠.

Setelah mengantarkan sikecil pulang dan menidurkannya, saya lanjutkan memantau rumah berikutnya. Rumah berikutnya yaitu rumah di depan panglong yang ramai berkeliaran hewan penjaga rumah di depannya.

Ada tiga rumah di sini. Selanjutnya saya sebut rumah kesepuluh sampai kedua belas. Rumah kesepuluh adalah rumah yang ada bunga di depannya. Rumah kesebelas adalah rumah di tengahnya dan rumah kedua belas yang paling ujing.

Di tiga rumah ini hanya rumah di tengah yang nenyala lampu luarnya. Dua rumah yang mengapitnya lampu luarnya tidak menyala. Di rumah kesepuluh nampak di terasnya parkir sebuah sepeda motor satria warna hijau. Sedangkan dua rumah lagi kosong halamannya dari kendaraan.

Lanjut ke belakang lapangan futsal menuju komplek rumah ketiga belas dan seterusnya. Deretan pertama rumah ketiga belas yaitu rumahnya Ibuk sekretaris jurusan. Pintunya terkunci gembok. Rumah keempat belas adalah rumahnya orang yang juga dulu katanya tidak pulang kampung 😂. Sedangkan rumah kelima belas adalah rumahnya orang yang sering pulkam 😊. Ketiga rumah ini lampu luarnya tidak menyala.

Setahu saya penghuni rumah kelima belas ini menyalakan lampu luarnya sebelum pulang kampung. Tidak terdengar bunyi tit tit tit dari meterannya sebagai tanda pulsa listriknya habis.

Justru yang terdengar bunyi tit tit tit dari meteran rumah ke enam belas yaitu berselang satu rumah dari rumah kelima belad. Rumah ini berangkai dengan rumah ketujuh belas dan ke delapan belas. Tiga rumah ini juga tidak menyalakan lampu luarnya. Bedanya, rumah kedelapan belas nampak cahaya lampu menyala di dalam rumahnya.

Terakhir rumah kesembilan belas, tepat berada di depan rumah ketujuh belas dan kedelapan belas. Juga tidak menyalakan lampu luarnya. Jadilah komplek ini sepi, sunyi dan tanpa cahaya jika tiga rumah sisanya juga tidak dinyalakan lampunya oleh pemiliknya.

Demikian reportase h-2. Nantikan reportase yang sedikit repot ini h+2 jika tidak ada halangan. Semoga rumah-rumah ini tetap aman dan dalam penjagaan Allah. Selamat pulang kampung. Selamat bersilaturahim. Selamat berhari raya. Semoga amal kita diterima Allah. #IdMubarak

Mengambil "Peringatan" Dari Acara Peringatan Nuzul Alquran

5:18 PM
Sebelum Alquran diturunkan,  kondisi masyarakat Arab saat itu berada dalam masa jahiliah. Jahiliah tidak dipahami dalam pengertian bodoh dan terbelakang dalam ilmu dan peradaban. Buktinya bangsa Arab waktu itu telah mengenal ilmu perbintangan dan pertukaran musim yang mereka gunakan untuk keperluan perdagangan ekspor impor (رحلة للشتاء والصيف). Jahilah dipahami sebagai kondisi bodoh dan terbelakang dalam persoalan tauhid.

Satu contoh bentuk jahiliahnya masyarakat Arab waktu itu sebagaimana diceritakan oleh Umar ibn Khatab. Jika ingat masa itu bisa menangis dan bisa tertawa. Umar menangis jika ingat bagaimana dia membunuh anak perempuannya dengan menguburnya hidup-hidup. Umar tertawa geli jika ingat pernah memakan tuhan yang dibuat dari gandum. Ada berhala yang dibuat dari gandum. Berhala itu disembah. Namun ketika musim paceklik datang tuhan tadi dimakan. Meskipun kebenaran riwayat terkait Umar yang mengubur anak ini diperselisihkan oleh ulama, namun tradisi jahiliah mengubur anak perempuan hidup-hidup itu dibenarkan ulama ada di Arab walau bukan dilakukan oleh suku Quraisy.Itulah di antara gambaran jahiliah. 

Dalam keadaan jahiliyah seperti itu Nabi Muhammad mengasingkan diri di gua Hirak. Di sanalah beliau menerima wahyu untuk pertama kalinya. Iqra'!.Ayat ini tidak berbunyi Iqra'il Qur'an atau Iqra'ul Qur'an!. Tapi hanya Iqra'! Hebatnya wahyu pertama ini memerintahkan untuk membaca tanpa menyebutkan objek apa yang dibaca. Ketika suatu perintah muncul tanpa menyebutkan objek tertentu yang diperintahkan--dalam kasus ayat ini membaca--dipahami bahwa objek yang diperintahkan itu bersifat luas dan tidak terbatas.
Perintah membaca ini tidak hanya dimaknai dengan membaca ayat-ayat Allah yang tertulis, tapi juga membaca ayat-ayat Allah yang tidak tertulis, termasuk membaca alam semesta. "Alam terkembang dijadikan guru" begitu di antara pepatah populer. Perintah membaca bisa dipahami sebagai pintu gerbang ilmu pengetahuan dan peradaban. Perintah membaca di ayat ini juga dipahami dengan membaca masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Perintah membaca tantangan, peluang dan harapan. Pendek kata, bacalah semua yang ada dan bisa dibaca.

Alquran Sebagai Petunjuk Bagi Manusia
Ayat yang dibacakan oleh Qori di awal kegiatan kita tadi (شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ) mengatakan bahwa Alquran adalah sebagai petunjuk bagi manusia secara umum. Ayat ini tidak membedakan jenis manusianya seperti apa, apakah manusianya seorang muslim atau kafir, apakah manusianya seorang yang taat atau seorang pendosa, apakah anak-anak atau orang dewasa atau orang tua. Ayat ini tidak menyebutkan dengan batasan siapa manusia yang akan mendapat petunjuk dari Allah. Artinya, bahwa petunjuk Alquran itu adalah berlaku bagi semua orang, tanpa dibedakan apa pun latar belakangnya.

Kita kutip kembali penggalan kisah Umar bin Khatab dalam konteks hidayah Islam yang diterimanya sebelum Islam. Dikisahkan bahwa Umar yang belum Islam mendapat hidayah iman ketika membaca Alquran yang diambilnya dari adiknya.

Umar yang sangat benci dengan Islam dan berencana membunuh Nabi Muhammad. Betapa marahnya Umar ketika mendengar adik perempuan yang dicintainya ternyata beriman dengan ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Umar tidak jadi pergi membunuh Nabi Muhammad dan berbalik arah menuju ke rumah adiknya. Sesampai di rumah adiknya, didapati adiknya sedang membaca sesuatu yang belakangan diketahui Umar adalah Alquran. Pendek kata, Umar mendapat hidayah setelah membaca potongan ayat Alquran dan meyakini bahwa apa yang dibacanya bukanlah perkataan manusia, tapi sesuatu yang indah dan berasal dari Zat Yang Maha Agung.

Sebagian kita mungkin juga tahu bahwa ada orang yang dapat hidayah Islam setelah mengalami berbagai lika-liku kehidupan. Ada yang dapat hidayah Islam di penjara. Ada yang dapat hidayah setelah berlumuran dosa sebelumnya. Ada yang dapat hidayah setelah kehilangan keluarga, harta benda, jabatan dan lain sebagainya. Ada juga yang dapat hidayah Islam tanpa melalui itu semua. Alquran petunjuk bagi semua manusia.

Alquran Sebagai Petunjuk Bagi Orang Yang Bertakwa
Dalam ayat yang lain, Q.S. Albaqarah ayat 2 sampai 5 disebutkan bahwa Alquran adalah sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. Jika disandingkan ayat ini dengan ayat dalam Albaqarah ayat 185 di atas, sepertinya terdapat pernyataan yang bertolak belakang. Satu ayat mengatakan hidayah itu bagi semua manusia. Ayat lain mengatakan hidayah itu diperuntukkan bagi orang yang bertakwa.

Buya Hamka mengatakan betul bahwa Alquran sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. Betul juga pernyataan ayat yang mengatakan bahwa Alquran sebagai petunjuk bagi manusia keseluruhannya tanpa dibedakan dia manusia bertakwa atau tidak bertakwa. Hanya saja, bagi orang yang bertakwa Alquran adalah petunjuk bagaikan jalan tol yang bebas hambatan. Tidak demikian halnya dengan manusia lain yang tidak bertakwa. Mereka bisa saja mendapatkan petunjuk setelah melalui berbagai hambatan, rintangan, tantangan berupa lalu lampu merah, kemacetan dan mungkin jalan yang rusak. Bahkan ada yang mengalami kecelakaan di jalan raya. Beda halnya dengan jalan tol, jalan ini bebas macet, tanpa lampu merah dan jalannya tidak rusak.

Demikianlah halnya keberadaan Alquran sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. Ia adalah petunjuk yang akan didapatkan dengan cepat tanpa melalui banyak rintangan dan hambatan. Tidak perlu bergelimang dosa dulu baru mendapat petunjuk. Andai bergelimang dosa dalam keadaan belum mendapat petunjuk, dalam saat yang sama yang bersangkutan meninggal dunia, maka mati dalam keadaan berdosa. Maka penting bagi kita memberi peringatan kepada diri kita agar berusaha menjadi pribadi yang bertakwa agar cepat dapat petunjuk.

Siapa mereka yang disebut sebagai orang yang bertakwa? Puasa yang kita lakukan karena iman dan keikhlasan insya Allah akan berbuah takwa. Kita akan keluar menjadi pribadi yang bertakwa. La'allakum tattaqun, demikian bunyi ujung ayat perintah puasa dalam surah Albaqarah tersebut.

Dalam Surah Albaqarah ayat 3 sampai ayat 5 disebutkan paling tidak ada lima kategori pribadi bertakwa yang akan mendapatkan hidayah Alquran. Yaitu orang yang beriman dengan yang gaib, mendirikan salat, berinfak dengan harta yang telah diberikan Allah kepada dirinya, beriman dengan kitab suci yang Allah turunkan, percaya akan adanya akhirat. Ditegaskan pada ujung ayat kelima surah ini, merekalah yang beroleh petunjuk dari Allah dan kelima golongan itu juga disebut sebagai orang yang beruntung.

"Peringatan" dari Peringatan Acara Nuzul Alquran
Setiap tahun diadakan acara peringatan/ memperingati nuzul Alquran. Pertanyaannya adalah dari setiap tahun acara peringatan itu, sudahkan kita memberi peringatan kepada diri kita masing-masing tentang  bagaimana meraih petunjuk dari Alquran itu? Sudahkah kita memberi peringatan kepada diri kita tentang pentingnya membaca Alquran? Bagi yang belum lancar membaca Alquran, sudahkan dibuat peringatan tegas bagi diri kita tentang ruginya orang yang tidak bisa membaca Alquran. Bagi yang jarang membaca Alquran. sudahkan mengambil peringatan agar intensitas membaca Alquran ditingkatkan. Lebih lanjut, sudahkah kita memberi peringatan kepada diri kita bagaimana caranya menjadikan Alquran sebagai petunjuk. Bagaimana mungkin akan meraih petunjuk Alquran dengan jalur tol, jika tidak berinteraksi dengan Alquran.

____
Disarikan dari penyampaian ceramah Nuzul AlQuran di Masjid Nurul Iman Burni Bius Kec. Silih Nara Kab. Aceh Tengah pada malam 19 Ramadhan 1439 H/ 3 Juni 2018

Di Antara Persoalan Ummat Saat Ini

12:09 PM
Hari ini kami kembali ke almamater kami yang telah diresmikan penegeriannya. Kami tamat pada tahun 2004 dari Jurusan Tarbiyah. Setelah tamat dari STAI Gajah Putih, kami melanjutkan studi pascasarjana di Sumatera Utara.
Acara hari ini adalah respon positif kita terhadap hasil yang telah dikeluarkan oleh ulama sebagai bentuk tanggung jawab kita bersama kepada generasi kita, masyarakat kita. Sebab ilmu yang kita dapatkan mestinya dapat kita bagi dan diaplikasikan. Karena itu adalah harapan agama.
Kita melihat dari sisi atas perlahannya generasi kita meninggalkan nilai kultur adat, agama. Berangkat dari masalah yang kita saksikan dalam ruang publik di antaranya tingkat perceraian, mari kita kaji secara akademis. Rekor perceraian tertinggi saat ini adalah Aceh Tengah. Mari kita kaji adanya intervensi yang ada sebagaimana disampaikan oleh ketua STAIN Gajah Putih dalam pembukaan tadi.
Masalah lain adalah KDRT, penelantaran anak. Apakah karena faktor kurangnya keterlibat sistem pemerintah? Pergaulan remaja perlahan meninggalkan nilai agama dan budaya. Tindankan kriminal, pekerjaan maksiat yang melanggar agama masih kita lihat. Kurangnya even yang memberi penguatan nilai, kurangnya tanggung jawab pimpinan di level bawah (tingkat desa). Adanya perubahan pergeseran nilai-nilai budaya.
Dari seminar ini kami harapkan dapat disampaikan rekomendasi kepada pemerintahan. Dari fungsi kami sebagai dewan legislatif, kami akan melakukan fungsi legislasi mungkin dalam bentuk rancangan qanun yang belum diatur sebelumnya, maka kami siap melaksanaknnya.
Hari ini kami akan mengesahkan 6 qanun di antaranya qanun tentang Masyarakat Adat Gayo. Maka kami tidak bisa hadir sampai akhir acara ini. Kami sampaikan selamat melaksanakan seminar kepada semua peserta semoga seminar ini  menghasilkan ide dan pemikiran yang akan dapat kita gunakan ke depannya.

Itulah penyampaian Muchsin Hasan, M.SP, Ketua DPRK Aceh Tengah, Pada saat menjadi Keynote Speaker dalam Seminar Dosen Jurusan Ushuluddin dan Dakwah STAIN Gajah Puith Takengon, Rabu, 23 Desember 2015 di Aula Biro STAIN Gajah Putih Takengon.
 
  • Contact Us | Site Map | TOS | Privacy Policy | Disclaimer
  • Copyright © Bismi Rabb. Template by OddThemes