Laa Tansanaa Min Du'aaikum

"La Tansana min du'aikum. Asyrikna fi du'aikum."

Itulah kalimat singkat yang terucap di ujung tausiyah yang disampaikan oleh guru kami saat silaturahim melalui video converence (vidcon) pada pertengahan syawal tahun ini. Pesan ini menjadi penting bagi kami tidak hanya dalam rangka saling mendoakan sebagaimana pesan hadis yang beliau kutip tersebut. Tapi pesan tersebut adalah pelajaran yang masih kami terima dari Sang Guru setelah dua dasawarsa tidak bertemu.

Kendati sudah tidak lagi bertemu selama dua puluh tahun, tidak ada yang berbeda dari beliau. Beliau masih ingat dengan kami semua. Beliau masih guru kami. Kami masih murid-murid beliau. Kami masih anak-anak beliau yang tetap butuh bimbingan dan nasehat dari guru.

Selama tiga tahun bergaul bersama beliau, banyak ilmu yang dapat kami peroleh. Banyak hikmah yang dapat kami ambil. Banyak petuah yang selalu kami pegang teguh. Tanpa bermaksud menyederhanakan pesan dan pengajaran beliau selama tiga tahun tersebut, berikut kami sampaikan di antara kesan terhadap beliau.

Pertama sebagai guru di sekolah, beliau menjadi guru kami di pagi hari. Berlanjut juga menjadi guru tutor kelompok di siang sampai sore hari. Bahkan beliau mewakafkan sebagian waktu istirahat dan waktu bersama keluarganya di malam hari untuk memberi tambahan pelajaran bagi kami. Berikut ini beberapa mata pelajaran yang pernah kami pelajari bersama beliau.

Dalam pelajaran ilmu hadis, beliau mengajarkan pembagian hadis dengan silsilah atau peta konsep. Sehingga jelas perbedaan masing-masing istilah pembagian hadis tersebut. Praktek mengajar ilmu hadis seperti ini sampai saat ini juga kami diterapkan. Buku Taisir karya Mahmud Thahhan yang menjadi buku rujukan saat itu juga saya anjurkan untuk dijadikan rujukan bagi mahasiswa saat mengampu mata kuliah ini.

Saat pandemi ini banyak orang menyebut hadis firro min al-majzumi firoroka min al-asadi. Kami sudah beliau ajarkan hadis tersebut di samping hadis la adwa wa tiyarata ketika membahas hadis mukhtalif. Khusus dua hadis ini telah mengantarkan teman saya menjadi sarjana karena beliau membahas dua hadis ini bersama 76 hadis lainnya terkait penyakit menular. Semua hadis tersebut bisa diselesaikan dengan cara kompromi (al-jam'u wa al-taufiq). Kini kawan ini sudah menyelesaikan program doktor dalam ilmu Al-Quran dan Tafsir.

Dalam pelajaran akidah akhlak, pelajaran akidah tentang aliran murjiah, syiah, jabariyah dan qadariyah serta teologi mu'tazilah asy'ariyah dan ahlu sunnah wal jama'ah sangat berkesan bagi saya saat itu. Pelajaran itulah yang kelak menjadikan alumni sekolah ini menjadi muslim yang moderat.

Dari beliau kami belajar syair Syauki yang sering beliau ulang innama al-umamu akhlaku ma baqiyat -- wa in humu dzahabat akhlaquhum dzahabu. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, syair tersebut sangat relevan. Kami yang masih remaja, sudah beliau ajarkan ilmu bermanfaat tersebut untuk menjadi pegangan kelak. Seolah-olah beliau berpesan ketika ada di antara muridnya ini yang menjadi abdi negara, pejabat publik atau pimpinan sebuah lembaga, maka tetaplah junjung tinggi akhlak tersebut. Karena "tegak kokohnya suatu bangsa tergantung pada akhlaknya. Jika mereka tidak lagi menjunjung tinggi norma-norma akhlak, maka bangsa itu akan musnah bersamaan dengan keruntuhan akhlaknya."

Dalam pelajaran fikih, kitab yang menjadi rujukan kami adalah Fiqh Sunnah. Bab salat berjamaah adalah bagian yang sangat lama kami kupas bersama beliau. Melalui lisan beliaulah kami belajar hadis-hadis pentingnya salat berjamaah lima waktu sehari semalam di masjid atau mushalla. Sampai saat ini, pengajaran itu tetap diamalkan oleh murid-murid beliau. Ketika sudah masuk waktu salat, segera ke masjid tinggalkan semua urusan.

Dalam pelajaran hadis bersama beliau, kitab Subulussalam karya al-Shan'ani mejadi pegangan kami. Di akhir-akhir kelas tiga, kami belajar bab nikah dengan beliau. Di antara bagian penting yang kami pelajari di sini adalah tentang mencari jodoh yang sekufu. Sebagian kami mempersempit memahami sekufu itu dengan menikah kelak dengan sesama anak MAPK. Karena kita sama-sama telah belajar ilmu agama yang sama dari guru yang sama. Walaupun tidak ada yang saling kenal dekat satu sama lain saat itu karena kami tidak sekelas antara siswa putra dengan siswa putri. Saat ini tercatat pada angkatan kami ada enam pasang yang menikah dengan sesama alumni, baik yang seangkatan ataupun dengan senior dan junior. "Tradisi" ini berlanjut di generasi sesudah kami. Semoga ini menjadi "sunnatan hasanatan". Aamiin

Setiap mata pelajaran, kita tidak hanya harus membawa kitab yang dipelajari. Tapi kita juga harus membawa kamus. Kalapun kita sudah tahu bacaan kalimat berdasarkan siyaqul kalam, tetap diminta melihat kata dasarnya di kamus. Ini sangat membantu kami dalam memperbanyak perbendaharaan kata sekaligus mengetahui kemungkinan ada banyak makna dari sebuah kata. Kelak ini menjadikan kami punya pemahaman yang terbuka terhadap teks Al-Quran ataupun hadis. Berbekal ini juga ada teman kami yang terlatih menjadi jurnalis untuk media berbahasa Arab.

Dalam membaca teks Arab gundul, kami diminta untuk mengambil kesimpulan sendiri dari teks yang dibaca. Berbekal ini kami diajarkan untuk punya keberanian berijtihad dan mandiri mengambil pemahaman sendiri. Sehingga kami sudah terbiasa harus selalu sependapat dan seragam. Setelah itu semua barulah beliau berkomentar termasuk meluruskan jika ada kekeliruan "ijtihad" kami.

Beliau sangat menghargai buku. Saat membawa buku, beliau tidak menjinjingnya. Melainkan membawanya seperti petugas upacara membawa map. Bahkan seperti mendekapnya sejajar dengan dadanya. Entah karena di dalam buku-buku tersebut terdapat ayat Al-Quran dan hadis. Atau mungkin beliau ingin menyampaikan pesan bahwa begitulah seharusnya memperlakukan buku sebagai sumber ilmu.

Kedua, selain belajar di kelas atau saat tutorial sore dan belajar tambahan di malam hari, beliau juga adalah ustadz pembina asrama kami. Satu tahun membersamai kami di asrama kelas tiga, banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kami ambil dari beliau. Sekali lagi, ini tidak menyederhanakan hikmah dan pelajaran yang sangat banyak kami ambil dari beliau. Ini dalam rangka mengingatkan kita semua betapa pentingnya teladan dari seorang guru.

Beliau adalah ustadz yang tidak pernah marah menghadapi anak-anak remaja di masa puber. Wibawa dan kharismanya membuat siswa sangat hormat kepada beliau. Jika sudah terdengar beliau membangunkan kawan di ujung kamar, maka hampir semua penghuni asrama langsung bangun.

Karena tinggal dalam satu komplek dengan beliau. Maka keberadaan keluarga beliau juga menjadi contoh bagi kami. Ternyata keteladanan tidak hanya kami dapatkan dalam kapasitas beliau sebagai guru yang digugu dan dituru. Beliau juga teladan dalam berumah tangga. Bayak kawan-kawan yang menerapkan cara ustadz mendidik keluarganya. Bahkan, saking mengidolakan keluarga beliau, ada di antara kawan yang bemberi nama anaknya persis sama dengan nama anak beliau.

Anak-anak beliau yang belum usia sekolah saat itu sudah dikenalkan adab bertamu ke kamar kami. Anak-anaknya tidak berani naik ke tempat tidur kami. Mereka sudah menggunakan pakaian yang tertutup sejak masih balita. Anak-anak juga sudah dilatih puasa sejak dini.

Belum pernah terdengar beliau berkata kasar kepada keluarganya. Bahkan suaranya berbicara dengan keluarganya saja tidak terdengar oleh kami. Padahal, dinding pemisah antara tempat beliau dengan tempat kami hanya berdinding kayu lapis tipis.

Khusus pakaian ke masjid, beliau sangat menekankan untuk memakai peci dan sarung. Tujuannya agar nanti setelah tamat, kami terbiasa dengan itu. Karena umumnya masyarakat masih belum terbiasa menerima jika ada imam atau khatib yang tidak pakai sarung.

Memang kami dibiasakan bergantian mengimami salat. Tapi bukan tidak pernah beliau jadi imam. Jika beliau jadi imam, ayat yang sering beliau bawakan adalah Ya ayyuha al-ladzina amanu ma lakum idza qila lakum infiru fi sabilillahitstsaqoltum ila al-ardi. Seolah beliau ingin berpesan sesuai lanjutan ayat aradhitum bil hayatid dunya minal akhirah. Fama mata'u al-hayati al-dunya min al-akhirati illa qalila.

Ada dua kaidah "kehidupan" yang sering beliau ulang yaitu apa yang disebut oleh Sayyid Qutb dalam tafsirnya alhayatu fi dzilal al-qur'an nikmah. Al-nikmatu la ya'rifuha illa man dzaqaha. Quote ini banyak membentuk haluan hidup kami. Banyak di antara kami yang mengambil jurusan tafsir-hadis saat kuliah. Bahkan sampai jenjang doktor. Ada yang mendedikasikan hidupnya sebagai hafiz dan pengajar Al-Quran. Tentunya tidak sebatas itu, beliau mengingankan kami tetap hidup dalam naungan Al-Quran. Karena ini adalah sebuah kenikmatan yang tidak bisa digambarkan karena terbatasnya kemampuan kita untuk menggambarkannya. Ia hanya dapat diketahui oleh orang merasakannya. 

Menarik jika melihat keterbukaan yang diajarkan di sekolah ini. Kami tidak hanya belajar dari satu buku dan dari satu aliran atau mazhab tertentu. Kendatipun kami beliau kenalkan dengan Fi Dzilal Al-Quran-nya Sayyid Qutb, tidak serta merta menjadikan kami berhaluan konservativ. Begitu juga ketika kami dikenalkan dengan Duha al-Islam dan Fajr al-Islam-nya Ahmad Amin, tidak lantas kami menjadi liberal. Karena kami sudah diajarkan merdeka dalam berpendapat. Inilah style MAPK, jika kita enggan menyebutnya sebagai "mazhab".

Kaidah kehidupan yang kedua yang sering beliau ulang yaitu ma la yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu. Jika tidak bisa mencapai sesuatu keseluruhannya, maka tidak boleh ditinggalkan sama sekali. Harus ikut ambil bagian dalam setiap kebaikan. Jangan meninggalkan sebuah kebaikan hanya karena tidak bisa melakukannya secara maksimal. Inilah di antara kesan dan sebagian hikmah yang dapat disampaikan tentang beliau. Sedikit kesan yang tertuang di sini tentu tidak membatasi banyaknya ilmu yang telah beliau ajarkan. Biarlah kesan yang sedikit ini tertuang di sini. Dari pada tidak tersampaikan sama sekali. Sesuai dengan kaidah yang beliau sampaikan "sesuatuyang tidak bisa digapai keseluruhannya, maka tidak boleh ditinggalkan sama sekali. 

Akhirnya, kami mohon maaf karena belum bisa membalas kebaikannya. Biarlah balasan terbaik dari Allah yang akan didapatkannya. Sejalan dengan petuah beliau di awal postingan ini, baru sebatas doa yang sanggup kami mohonkan kepada Allah. Semoga beliau senantiasa diberi Allah kesehatan dan kesempatan untuk selalu mengajar dan menyebarluaskan ilmunya kepada murid-muridnya.  Dan semoga ilmu yang telah beliau sampaikan kepada kami dapat kami amalkan dan juga kami sebarluaskan kepada anak-anak dan murid-muri kami. Aamiin

Share this:

1 comment :

 
  • Contact Us | Site Map | TOS | Privacy Policy | Disclaimer
  • Copyright © Bismi Rabb. Template by OddThemes