Antara Kucing, Anjing, Babi dan Manusia



Pada suatu kesempatan anak kucing berkeluh kesah kepada induknya. “Induk! Sungguh beruntung jadi manusia. Kalau makan, di atas meja, pakai piring, dengan sambal dan lauk yang enak. Sedangkan kita sebaliknya, makan dengan nasi dan sambal sisa manusia. Kalaupun makan lauk, kita dapat tulangnya bukan dagingnya. Makan kitapun tidak pakai piring yang bagus. Paling beruntung kita makan di piring bekas sisa manusia. Ataupun kita makan di tempat yang tidak terpakai lagi oleh manusia; piring pecah; tempurung kelapa; atau wajan yang tidak terpakai lagi oleh manusia.”

Mendengar cerita anak kucing ini, induk kucing tersenyum. Dengan tenang dan meyakinkan ia menjawab keluhan anaknya.
“Anakku manis! Memang betul apa yang engkau sampaikan. Satupun tidak ada yang salah. Tapi, kita masih beruntung. Coba lihat teman dan saudara kita yang di luar itu. Dalam hal ini nasib kita jauh lebih beruntung dari mereka.”
“Siapa yang induk maksud?” kucing kembali bertanya.
“Lihatlah teman bermainmu si anjing itu! Betapa beruntungnya kita dibanding dia dan sebaliknya betapa meruginya dia. Kita masih bisa makan dan minum di tempat yang lebih baik dari mereka. Kita masih dibolehkan tinggal dan menetap di rumah manusia. Kitapun bisa terkadang mendapatkan elusan hangat dari manusia. Berbeda dengan saudara kita itu. Mereka tidak merasakan betapa nikmatnya tinggal di atas rumah. Mereka harus tinggal di luar rumah. Kalaupun mereka dibuatkan kandang khusus, tetap mereka tidak boleh memasuki rumah. Bahkan, mereka dianggap najis oleh sebagian manusia.”

Mendengar jawaban induk kucing, anak kucing berlari dengan senangnya seraya menghampiri anak anjing yang biasa bermain dengannya di halaman rumah. Anak kucingpun menceritakan kepada anak anjing betapa beruntungnya jadi manusia dan malangnya nasib menjadi kucing. Lalu setelah mendengar cerita dari induknya, baru dia sadar betapa beruntungnya dia dan betapa meruginya anak anjing.

Anak anjing pun bercerita dan mengadu kepada induknya. “Induk! Betapa beruntung jadi kucing. Mereka dengan senangnya tinggal dan bisa bermain di atas rumah manusia. Kalau malam, mereka tidak kedinginan. Kalau hujan, mereka tidak kena embun atau hujan. Terkadang mereka bisa juga mencuri makanan di atas meja majikannya. Sementara kita, jangan untuk menetap, bermain atau hanya sekedar masuk ke rumah manusia langsung kita diusir keluar. Bahkan kita dianggap najis oleh sebagian manusia.”

Mendengar cerita anak anjing ini, induk anjing tersenyum lebar. Dengan tenang dan meyakinkan iapun menjawab keluh kesah dan pengaduan anaknya.
“Anakku yang cantik! Memang betul apa yang engkau sampaikan. Satupun tidak ada yang salah. Tapi, kita masih sangat beruntung. Coba lihat saudara kita yang di hutan itu. Dalam hal ini kita sangat beruntung dari mereka.”
“Siapa yang induk maksud?” anak anjing kembali bertanya.
“Lihatlah saudara kita yang biasa kita buru di hutan itu! Betapa beruntungnya kita dibanding mereka. Kita masih dibolehkan tinggal dan menetap di perkampungan manusia. Kitapun masih dipelihara oleh sebagian manusia. Berbeda dengan saudara kita itu. Mereka tidak merasakan betapa nikmat dan bebasnya tinggal di perkampungan. Mereka harus tinggal di hutan. Di samping dianggap najis oleh manusia, mereka juga dianggap sebagai hama oleh petani. Mereka selalu diburu. Bahkan kita ikut memburunya. Mereka tidak dibuatkan kandang khusus atau dipelihara seperti kita.”

Mendengar jawaban induk anjing, anak anjingpun berlari dengan senangnya. Tatkala bertemu dengan anak babi hutan, anak kucing inipun menyampaikan cerita yang didengarnya dari ibunya dan dari anak kucing. Menurutnya, memang manusia paling beruntung dibanding kucing. Juga betul kucing lebih beruntung dari anjing. Tapi mereka masih beruntung jika melihat nasib dan keadaan yang dialami oleh babi.

Mendengar cerita anak anjing, anak babi pun bercerita dan mengadukannya kepada induknya. “Induk! Sungguh malang dan sialnya nasib kita. Di antara makhluk hidup, ternyata kita yang paling merugi. Anak kucing mengatakan betapa beruntungnya jadi manusia dan malangnya menjadi kucing. Tapi setelah dibandingkan dengan anjing, ternyata nasib kucing jauh lebih baik. Begitu juga dengan anjing. Memang jika dibandingkan dengan kucing, nasib anjing lebih merugi. Tapi, jika dibandingkan dengan apa yang kita terima, ternyata anjing jauh lebih beruntung dari kita.”

Mendengar cerita anaknya, induk babi tertawa dengan lebarnya. Perlahan dan meyakinkan ia menjawab tangis dan pengaduan anaknya.
“Anakku yang beruntung! Ada betulnya apa yang engkau sampaikan. Tapi tahukah engkau siapa sebenarnya yang paling malang. Ternyata nasib kita jauh lebih beruntung dari manusia itu. Justru manusia itulah yang merugi.
Anak babi tersentak seolah tidak percaya. “Mengapa demikian wahai Indukku?” Anak babi bertanya penasaran.
“TAHUKAH ENGKAU BAHWA DI HARI KIAMAT NANTI, MANUSIA HARUS MEMPERTANGGUNGJAWABKAN SEMUA PERBUATANNYA DI DUNIA?”
“TAHUKAH ENGKAU BAHWA DI HARI KIAMAT NANTI MANUSIA HARUS DIHITUNG AMALAN DAN DOSANYA SELAMA HIDUP DUNIA INI ? sementara binatang tidak".

***
Fabel atau cerita dengan tokoh binatang kucing, anjing dan babi di atas saya kutip dari mertua saya Buya Zamzainir, SH. Cerita dengan mengokohkan binatang seperti ini juga banyak disampaikan oleh Buya Duskiman Saad melalui ceramah beliau yang populer di kaset-kaset dan sering diputar di radio-radio era sembilan puluh sampai dua ribuan.

Kembali ke kisah di atas. Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita hanya melihat apa kesenangan yang ada pada orang lain saja tanpa melihat sisi lain dari mereka. Dalam hal bersamaan, kita lupa mensyukuri nikmat dan kesenangan yang telah kita miliki. Inilah yang terlihat oleh tokoh anak kucing, anjing dan babi.

Untungnya, anak kucing, anjing dan babi tersebut punya tempat berkeluh-kesah dan berkonsultasi tentang apa yang dilihat, didengar dan dirasakannya. Tokoh tersebut diperankan oleh induk masing-masingnya.

Terkait perspektif siapa yang paling merugi, mari kita simak firman Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 72-73 berikut.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا * لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمً

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Al-Ahzab: 72-73)

Tidak heran mengapa di penghujung ayat terakhir surah An-Naba' Allah informasikan penyesalan orang kafir di akhirat dan berangan-angan andai dulu tidak jadi manusia dan tetap jadi tanah, tentu tidak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

إِنَّآ أَنذَرْنَٰكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ ٱلْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٰبًۢا

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah". (QS. An-Naba': 40)

Semoga bisa kita ambil ibrahnya.
Wallahu A'lam.

Share this:

 
  • Contact Us | Site Map | TOS | Privacy Policy | Disclaimer
  • Copyright © Bismi Rabb. Template by OddThemes