ANTARA KUCING, ANJING, BABI DAN MANUSIA - بسم الله الرحمن الرحيم
Headlines :
Home » , , » ANTARA KUCING, ANJING, BABI DAN MANUSIA

ANTARA KUCING, ANJING, BABI DAN MANUSIA

Ditulis Oleh IRHAS Pada Hari Selasa, 15 Mei 2012 | 15.58



Pada suatu kesempatan anak kucing berkeluh kesah kepada induknya. “Induk! Sungguh beruntung jadi manusia. Kalau makan, di atas meja, pakai piring, dengan sambal dan lauk yang enak. Sedangkan kita sebaliknya, makan dengan nasi dan sambal sisa manusia. Kalaupun makan lauk, kita dapat tulangnya bukan dagingnya. Makan kitapun tidak pakai piring yang bagus. Paling beruntung kita makan di piring bekas sisa manusia. Ataupun kita makan di tempat yang tidak terpakai lagi oleh manusia; piring pecah; tempurung kelapa; atau wajan yang tidak terpakai lagi oleh manusia.”

Mendengar cerita anak kucing ini, induk kucing tersenyum. Dengan tenang dan meyakinkan ia menjawab keluhan anaknya.
“Anakku manis! Memang betul apa yang engkau sampaikan. Satupun tidak ada yang salah. Tapi, kita masih beruntung. Coba lihat teman dan saudara kita yang di luar itu. Dalam hal ini nasib kita jauh lebih beruntung dari mereka.”
“Siapa yang induk maksud?” kucing kembali bertanya.
“Lihatlah teman bermainmu si anjing itu! Betapa beruntungnya kita dibanding dia dan sebaliknya betapa meruginya dia. Kita masih bisa makan dan minum di tempat yang lebih baik dari mereka. Kita masih dibolehkan tinggal dan menetap di rumah manusia. Kitapun bisa terkadang mendapatkan elusan hangat dari manusia. Berbeda dengan saudara kita itu. Mereka tidak merasakan betapa nikmatnya tinggal di atas rumah. Mereka harus tinggal di luar rumah. Kalaupun mereka dibuatkan kandang khusus, tetap mereka tidak boleh memasuki rumah. Bahkan, mereka dianggap najis oleh sebagian manusia.”

Mendengar jawaban induk kucing, anak kucing berlari dengan senangnya seraya menghampiri anak anjing yang biasa bermain dengannya di halaman rumah. Anak kucingpun menceritakan kepada anak anjing betapa beruntungnya jadi manusia dan malangnya nasib menjadi kucing. Lalu setelah mendengar cerita dari induknya, baru dia sadar betapa beruntungnya dia dan betapa meruginya anak anjing.

Anak anjing pun bercerita dan mengadu kepada induknya. “Induk! Betapa beruntung jadi kucing. Mereka dengan senangnya tinggal dan bisa bermain di atas rumah manusia. Kalau malam, mereka tidak kedinginan. Kalau hujan, mereka tidak kena embun atau hujan. Terkadang mereka bisa juga mencuri makanan di atas meja majikannya. Sementara kita, jangan untuk menetap, bermain atau hanya sekedar masuk ke rumah manusia langsung kita diusir keluar. Bahkan kita dianggap najis oleh sebagian manusia.”


Mendengar cerita anak anjing ini, induk anjing tersenyum lebar. Dengan tenang dan meyakinkan iapun menjawab keluh kesah dan pengaduan anaknya.
“Anakku yang cantik! Memang betul apa yang engkau sampaikan. Satupun tidak ada yang salah. Tapi, kita masih sangat beruntung. Coba lihat saudara kita yang di hutan itu. Dalam hal ini kita sangat beruntung dari mereka.”
“Siapa yang induk maksud?” anak anjing kembali bertanya.
“Lihatlah saudara kita yang biasa kita buru di hutan itu! Betapa beruntungnya kita dibanding mereka. Kita masih dibolehkan tinggal dan menetap di perkampungan manusia. Kitapun masih dipelihara oleh sebagian manusia. Berbeda dengan saudara kita itu. Mereka tidak merasakan betapa nikmat dan bebasnya tinggal di perkampungan. Mereka harus tinggal di hutan. Di samping dianggap najis oleh manusia, mereka juga dianggap sebagai hama oleh petani. Mereka selalu diburu. Bahkan kita ikut memburunya. Mereka tidak dibuatkan kandang khusus atau dipelihara seperti kita.”

Mendengar jawaban induk anjing, anak anjingpun berlari dengan senangnya. Tatkala bertemu dengan anak babi hutan, anak kucing inipun menyampaikan cerita yang didengarnya dari ibunya dan dari anak kucing. Menurutnya, memang manusia paling beruntung dibanding kucing. Juga betul kucing lebih beruntung dari anjing. Tapi mereka masih beruntung jika melihat nasib dan keadaan yang dialami oleh babi.

Mendengar cerita anak anjing, anak babi pun bercerita dan mengadukannya kepada induknya. “Induk! Sungguh malang dan sialnya nasib kita. Di antara makhluk hidup, ternyata kita yang paling merugi. Anak kucing mengatakan betapa beruntungnya jadi manusia dan malangnya menjadi kucing. Tapi setelah dibandingkan dengan anjing, ternyata nasib kucing jauh lebih baik. Begitu juga dengan anjing. Memang jika dibandingkan dengan kucing, nasib anjing lebih merugi. Tapi, jika dibandingkan dengan apa yang kita terima, ternyata anjing jauh lebih beruntung dari kita.”

Mendengar cerita anaknya, induk babi tertawa dengan lebarnya. Perlahan dan meyakinkan ia menjawab tangis dan pengaduan anaknya.
“Anakku yang beruntung! Ada betulnya apa yang engkau sampaikan. Tapi tahukah engkau siapa sebenarnya yang paling malang. Ternyata nasib kita jauh lebih beruntung dari manusia itu. Justru manusia itulah yang merugi.
Anak babi tersentak seolah tidak percaya. “Mengapa demikian wahai Indukku?” Anak babi bertanya penasaran.
“TAHUKAH ENGKAU BAHWA DI HARI KIAMAT NANTI, MANUSIA HARUS MEMPERTANGGUNGJAWABKAN SEMUA PERBUATANNYA DI DUNIA?”
“TAHUKAH ENGKAU BAHWA DI HARI KIAMAT NANTI MANUSIA HARUS DIHITUNG AMALAN DAN DOSANYA SELAMA HIDUP DUNIA INI ? sementara binatang tidak".

Baca Juga

Bagikan Ke Sosial Media :

POPULER SAAT INI

Sesudah Ramadhan

INGAT WAKTU SHALAT

KALENDER HIJRIYAH


 
Copyright © 2013. بسم الله الرحمن الرحيم - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger
Terima Kasih Sudah Berkunjung
Yang Menarik Lainnya close button minimize button maximize button