Jadi, Kaprodi Juga Dosen? (Cerpen 250 kata)

Kring-kring, kring-kring. Terdengar bunyi handphone dari saku kiri Saya. “Assalamu ‘Alaikum”. Saya menyapa.

"Wa’alaikum Salam” jawab suara dari dalam handphone. “Saya Sipolan, mahasiswa Prodi ABC ingin wawancara dengan Bapak tentang analisis SWOT prodi XYZ. Bapak kan Kaprodinya.”

“Oh, iya. Kamu yang sms saya kemaren ya?” Saya gantian bertanya.

“Iya Pak. Jadi kira-kira kapan bisa Kami wawancara dengan Bapak? Tanyanya di balik telfon.

“Sekarang kan sudah jam 12 nih. Bagaimana kalau habis Zuhur saja. Saya sekarang di ruang prodi. Habis sholat, saya kembali ke sini. Saya tunggu kamu di sini. Kalau sekarang wawancaranya, saya takut nanti belum selesai tiba-tiba waktu zuhur sudah masuk” jawab Saya.

“OK Pak. Siap zuhur kami ke sana"

____

Pada akhir wawancara Sipolan mengatakan “Terima kasih atas waktu dan kesempatan Bapak telah mau Kami wawancarai hari ini. Hasil wawancara ini akan Kami serahkan kepada dosen Kami. Selanjutnya jika ada kekurangan data kami kami akan wawancarai  Bapak kembali. Harapan Kami Bapak tidak bosan Kami temui dan semoga ada waktu nanti”

“OK. kalau begitu. Mohon maaf kemaren saat Kamu telfon ndak terangkat dan sms kamu juga tidak saya balas. Kemaren pagi sampai zuhur, saya ada kegiatan di aula biro. Selesainya zuhur. Siap zuhur Saya telfon balik Kamu, Kamu ndak ngangkat. Jadi begini, jangan dipikir kaprodi itu tidak mau diwawancarai. Saya ada kuliah setiap hari. Begitu juga kaprodi yang lain. Jika mereka tidak ada di ruang prodi, mungkin mereka sedang kuliah atau ada kegiatan lain”

Sipolan menimpal “Jadi Kaprodi dosen juga?”

Di situ saya merasa sedih.
😔

Share this:

1 comment :

 
  • Contact Us | Site Map | TOS | Privacy Policy | Disclaimer
  • Copyright © Bismi Rabb. Template by OddThemes