Showing posts with label Alquran. Show all posts
Showing posts with label Alquran. Show all posts

Catatan Memaknai Hari Kemerdekaan

5:27 PM
17 Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka

Selama hayat masih di kandung badan
Kita setia tetap setia mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia membela negara kita.

Bait lagu karya H. Mutahar di atas sering kita nyanyikan di waktu sekolah dulu. Lagu ini mengingatkan kita kepada sebuah fakta sejarah. Bahwa hari itu, Jumat 17 Agustus tahun 1945, bapak proklamator Soekarno dan Muhammad Hatta, atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan kita bangsa Indonesia.

Hari itu Jumat 17 Agustus 1945, kita peringati sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Hari ini Jumat 17 Agustus 2018, genap sudah tujuh puluh tiga tahun kita merdeka. Catatan yang ingin saya sampaikan bukan tentang sebuah kebetulan, bahwa hari ini juga hari Jumat bertepatan dengan 17 Agustus tujuh puluh tiga tahun yang lalu. Catatan ini juga bukan ingin bertanya apakah kita sudah benar-benar merdeka dari penjajahan bangsa asing. Tapi catatan berikut ini lebih sebagai sebuah perenungan arti tentang peringatan hari kemerdekaan.

Catatan pertama, kemerdekaan kita diproklamasikan pada hari Jumat. Hari yang disebut sebagai hari istimewa dalam banyak hadis. Sayyidul ayyam, hari adam diciptakan, hari dihapuskannya dosa-dosa, hari raya setiap pekan dan banyak keistimewaan lainnya. Tidak hanya pada hari istimewa, tapi juga pada bulan istimewa,  sayyidussuhur bulan Ramadhan. Tepatnya 9 Ramadhan tahun itu. Kemerdekaan kita juga merupakan sebuah keistimewaan bagi bangsa ini. Istimewa karena hari itu kita resmi sebagai sebuah bangsa yang "merdeka, bersatu, berdaulat,..." . Kita proklamasikan kemerdekaan di hari Jumat. Kita nyatakan kepada dunia kemerdekaan kita pada bulan Ramadhan. Istimewa bagi bangsa ini, karena hari itu telah lahir sebuah negara yang bernama Indonesia.

Kedua, tanpa mengecilkan arti perjuangan para pahlawan bangsa dari Aceh sampai Papua, kemerdekaan kita adalah nikmat yang Allah berikan bagi bangsa ini. Hal itu dimuat dalam pembukaan UUD 1945. Disebutkan "atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa...". Sejarah mencatat bagaimana perjuangan anak bangsa dengan lafal Takbir mengusir penjajah. Mustahil kiranya jika bambu runcing bisa menang melawan persenjataan modern para penjajah saat itu. Perjuangan dengan bambu runcing itu didasari dengan semangat berjuang membela tanah air, berjuang membela kebenaran, perjuangan yang "didorong oleh keinginan yang luhur". Demikian

Oleh karena itu nikmat ini mesti disyukuri. Hukum mensyukuri nikmat adalah wajib. Ada banyak cara mensyukuri nikmat kemerdekaan. Kita bisa mensyukuri kemerdekaan dengan memperingati hari kemerdekaan. Tentunya ungkapan syukur itu tidak terbatas pada acara seremonial dan kegiatan perlombaan. Ungkapan syukur atas nikmat kemerdekaan juga dapat dilakukan dengan merawat keragaman bangsa tanpa harus meninggalkan jati diri kita yang merupakan bagian dari keragaman itu. Mensyukuri nikmat kemerdekaan juga dengan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif. Mensyukuri nikmat kemerdekaan juga dengan mengharumkan nama bangsa. 


Acara Perlombaan 17-an
Saat ini berlangsung perlombaan olah raga Asian Games. Para atlet yang berjuang atas nama bangsa adalah mereka yang sedang berupaya mengapresiasi nikmat kemerdekaan. Tidak terbatas hanya dalam cabang lomba olah raga saja, para duta bangsa yang berlomba mengharumkan nama bangsa di hadapan bangsa lain--dengan lomba seni, budaya, termasuk lomba bidang keagamaan--adalah mereka yang mengharumkan nama bangsa guna menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang berdaulat. 

Ketiga, selain memaknai kemerdekaan sebagai sebuah kedaulatan bangsa Indonesia yang bebas dari penjajahan bangsa lain, tidak salah juga kiranya andai kita memaknai kemerdekaan dengan membebaskan diri kita dari belenggu kemusyrikan dan penguasaan hawa nafsu.



Jika kita kaitkan peringatan kemerdekaan ini dengan hari raya idul adha yang akan kita rayakan beberapa hari ke depan, maka tentu kita harus memaknai ulang arti kemerdekaan bagi diri kita masing-masing. Tokoh utama yang sering disebut dalam hari raya idul adha adalah Nabi Allah Ibrahim A.S. Kita kutip di antara penggalan kisah Ibrahim dalam Surah Al-An'am ayat 74 sampai 78. Di penghujung ayat Ibrahim berkata يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ. Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sekutukan. Orang-orang jahiliah di masa Ibrahim mengagungkan dan menuhankan benda-beda langit seperti bintang, bulan dan matahari. Mereka melakukan personifikasi tuhan (sengaja ditulis dengan huruf "t" kecil) dalam bentuk berhala yang mereka sembah. 

Tidak hanya Ibrahim, semua Nabi dan Rasul yang diutus Allah, termasuk Baginda Rasulullah diutus adalah dalam rangka membebaskan manusia dari keyakinan yang menuhankan berhala dalam segala bentuknya, menuju kemerdekaan keyakinan dengan ber-Tuhankan Rabbul 'alamin. Di era modern, berhala itu bisa dalam bentuk jabatan, pekerjaan, harta dan lain-lain. Kemerdekaan dan kebebasan beragama sejatinya adalah memerdekakan dan membebaskan diri dari belenggu penyembahan kepada ciptaan, menuju penyembahan kepada Sang Pencipta.

Kita juga wajib melepaskan diri dari belenggu nafsu yang mengantarkan kita kepada dosa dan maksiat. Sudahkah diri kita benar-benar merdeka dari "penjajahan" nafsu? Jika belum, maka di antara perjuangan yang harus kita lakukan adalah berjuang melawan "diri sendiri". Mari merdekakan diri kita dari penjajahan nafsu! Mari kita perhatikan hadis dari Fadholah bin 'Ubayd. Dia berkata, Ketika peristiwa haji wada' Rasulullah bersabda

( أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ )

Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad (23958), Ibn Hibban (4862), al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir (796), al-Hakim (24), Ibnu al-Mubarak dalam al-Zuhd (826), al-Nasai dalam al-Sunan al-Kubra (11794) dan al-Baihaqi dalam al-Syu'ab (10611). Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Tirmizi (1621), Ibn Majjah (3934) dengan lafal yang agak ringkas. Derjat hadis hadis ini dinilai shahih oleh al-Tirmizi, al-Hakin dan al-Albaniy.

Ada empat informasi yang disampaikan Baginda Rasulullah Saw kepada umatnya dalam hadis ini. Pertama, seorang mukmin adalah orang yang dengan keberadaannya orang lain merasa aman, baik harta maupun diri mereka. Kedua, seorang muslim adalah orang yang selamat orang lain dari ucapan dan perbuatannya. Ketiga, seorang mujahid adalah orang yang berjihad melawan "dirinya" sehingga dia menjadi pribadi yang taat kepada Allah. Keempat, seorang muhajir adalah orang yang berhijrah dari kesalahan dan perbuatan dosa.

Dirgahayu Republik Indonesia.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!



Pentingnya Belajar Alquran (Dengan Baik Dan Benar) Sejak Kecil

9:19 AM
Kita senang dengan semangat keberagamaan masyarakat yang makin hari makin meningkat. Kita juga melihat saat ini semakin banyak orang yang "hijrah" meninggalkan tradisi buruk dan mulai mengikuti tradisi agama.

Screen shoot Google searching
Di Antara Persoalan Kita Hari Ini
Tanpa mengecilkan keadaan di atas, kita juga perlu melihat kondisi lain yang masih perlu perhatian serius kita. Di antara kenyataan yang tidak kita harapkan saat ini masih ada umat Islam yang tidak mampu membaca Alquran.

Di level generasi muda misalnya, di beberapa perguruan tinggi masih ada mahasiswa yang tidak bisa membaca Alquran. Termasuk sebagian mahasiswa perguruan tinggi agama.

Di level bapak-bapak juga demikian. Baru-baru ini diberitakan oleh surat kabar cetak (Serambi 21 Juli 2018) bahwa di Aceh ternyata ada 39 bakal caleg DPR Aceh gugur karena tidak lulus tes baca Alquran. Di Lhokseumawe 23 bacaleg gugur dalam uji baca Alquran. Dari 23 itu ada yang membawa salinan Alquran berbahasa latin. Bahkan, ada juga yang nekat menulis langsung bahasa latin di Alquran itu. Dari sumber lain, di Aceh Tengah ada 20 bacaleg gugur karena tidak lulus ujian baca Alquran.


Koran "Serambi" 21 Juli 2018
Kasus ini bukan kejadian saat ini saja. Jika dicari di mesin pencari dengan kata pencarian "caleg gagal karena baca alquran" maka juga ditemukan kasus yang sama di
provinsi ini lima tahun yang lalu. Tahun 2013 lalu sebanyak 42 orang gagal jadi caleg karena tidak lulus uji mampu membaca Alquran.

Pentingnya Belajar Alquran Sejak Kecil
Beberapa kasus tidak bisa membaca Alquran mungkin juga terjadi di tempat lain dengan kasus yang berbeda. Ada yang ditunda sidang skripsinya karena belum lancar membaca Alquran. Bahkan ada yang ditunda pernikahannya karena tidak bisa membaca Alquran.

Terkait kasus di atas satu-satunya solusi adalah belajar membaca Alquran. Namun agar kejadian itu tidak terus berlanjut, tentunya perlu dilakukan upaya preventif dengan mengajarkan Alquran sejak dini kepada anak-anak kita. Bukankah mengukir di atas batu lebih bertahan hasilnya dari pada mengukir di atas air. Bapak/ Ibu Ustaz dan Ustazah yang mengajarkan Alquran kepada anak-anak didik kita sudah berada pada track itu.


Utamakan Ketepatan Tajwid
Ada kasus bapak-bapak paruh baya yang menjadi imam salat tapi tidak tepat bacaannya. Umumnya kena di makharijul huruf. Ada juga yang tidak tepat panjang pendeknya. Terkait kasus bapak-bapak yang sudah bisa baca Alquran namun keliru tajwidnya, kita berasumsi bahwa kekeliruan itu adalah dikarenakan keliru saat belajar di waktu kecil. Kita tidak menyalahkan guru mengaji mereka waktu kecil, tapi mungkin karena kebiasaan sebagian kita berhenti belajar mengaji sebelum tuntas pelajaran itu dipelajari.

Contoh lain, di antara pengalaman mahasiswa kami saat diadakan lomba hafalan juz tiga puluh. Ada beberapa peserta lomba yang bagus hafalan dan tajwidnya pada bagian pangkal juz tiga puluh. Tapi kacau tajwidnya mulai dari surah Ad-Dhuha sampai akhir juz tiga puluh. Di antara penyebabnya adalah karena hafalan yang keliru itu tidak ada yang membimbingnya. Sehingga ketika terdapat kesalahan, tidak ada yang memperbaikinya. Sedangkan hafalan yang dihafal setelah ada yang membimbing jauh lebih baik tajwidnya. Inilah di antara poin penting mengapa belajar Alquran itu perlu dibimbing oleh seorang guru.

Pengalaman kami yang lain di antara kendala lambatnya progres menghafal Alquran bagi mahasiswa adalah karena kita harus memperbaiki tajwidnya dulu. Setelah tajwidnya benar, baru dilanjutkan dengan menghafal Alquran. Jika tidak diperbaiki tajwidnya, maka akan menghafal Alquran dengan keliru.

Tetap Semangat Bagaimanapun Situasinya
Kepada Bapak dan Ibu Guru, Ustaz dan Ustazah yang mengajarkan Alquran kepada anak-anak didik kami sampaikan pesan agar tetap semangat. Tantangan ke depan kita semakin berat. Zamannya juga sudah berubah. Jika dulu pergi belajar mengaji ke rumah guru, ke surau atau meunasah hanya berbekal obor setelah itu pulang dengan muka sudah hitam kena asap. Dengan kondisi seperti itu tidak mengurangi semangat kita belajar mengaji saat itu. Anak-anak kita hari ini tidak menemukan hal itu. Zaman kita belum banyak hal-hal yang akan mempengaruhi masa kanak-kanak untuk belajar. Saat ini banyak hal yang dapat menyeret peserta didik kita ke arah yang tidak baik. Semoga dengan dekatnya anak-anak didik kita dengan Alquran sejak kecil, mampu menjadi bekal bagi mereka dalam menghadapi tantangan global.

Sebagai penutup kembali kita renungkan motivasi yang disampaikan Baginda Rasulullah Saw terkait  keutamaan belajar dan mengajarkan Alquran
 ، عن عثمان بن عفان ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :خيركم من تعلم القرآن وعلمه

Rasulullah menyebutkan orang yang belajar dan mengajarkan Alquran sebagai orang yang paling baik. Di antara banyak guru bidang studi, tentunya Bapak Ibu Ustaz dan Ustazah adalah guru yang terbaik karena mengajarkan Alquran. Semoga tekad dan semangat kita dalam rangka mengajari anak-anak didik kita bisa berinteraksi dengan Alquran dapat terus kita tingkatkan. Interaksi dengan Alquran dimulai dengan membacanya. Setelah itu dilanjutkan dengan belajar memahami ajarannya. Selanjutnya ajaran Alquran itu dapat kita amalkan. Tentunya itu mesti didasari juga dengan niat ikhlas kita karena Allah. Semoga semakin hari semakin meningkat interaksi kita dengan Alquran. Semoga semakin hari semakin tegak syiar agama Islam.
_____
Disampaikan pertama kali dalam kegiatan Upgrade Guru Tahsin Tahfiz SD dan SMP IT Cendekia Takengon pada hari Sabtu 28 Juli 2018

Tips Mengkhatamkan Al-Qur'an Dalam Satu Pekan

3:27 PM
Tidak ada yang mengingkari nilai ibadah membaca al-Qur'an. Banyak informasi dari hadis dan bahkan dari al-Qur'an sendiri tentang keutamaan dan nilai pahala membaca al-Qur'an.

Bisa mengkhatamkan keseluruhan al-Qur'an dalam satu minggu adalah sesuatu yang sangat baik. Setiap orang punya cara dan target yang berbeda dalam mengkhatamkan al-Qur'an. Ada yang khatam satu bulan atau satu juz satu hari.

Jika ingin meningkatkan kuantitas khatam al-Qur'an dari satu bulan menjadi satu pekan, berikut ini tipsnya.

Di kawasan anak benua India, al-Qur'an dibagi menjadi tujuh bagian yang hampir sama. Hal itu bertujuan agar memudahkan mengkhatamkan al-Qur'an dalam satu pekan. Bagian itu dinamai dengan manzil. Satu manzil untuk satu hari. Menyelesaikan bacaan al-Qur'an sebanyak tujuh manzil berarti mengkhatamkan al-Qur'an dalam tujuh hari atau satu pekan.

Mulai dari hari Ahad untuk manzil pertama. Yaitu mulai dari awal al-Fatihah sampai akhir al-Nisa'. Jika dihitung berdasarkan cetakan al-Qur'an versi saudi , ada 106 halaman.

Manzil kedua untuk hari Senin. Mulai dari awal al-Maidah sampai akhir al-Taubah. Agak berkurang sedikit dari manzil pertama yairu 101 halaman.

Manzil ketiga untuk hari Selasa. Mulai awal Yunus sampai akhir al-Nahl. Manzil ketiga ini hanya 73 halaman.

Manzil keempat untuk hari Rabu. Mulai awal al-Isra' sampai akhir al-Furqan. Manzil keempat ini berjumlah 84 halaman.

Hari Kamis masuk manzil kelima. Mulai awal al-Syu'ara' sampai akhir Yasin. Berjumlah 78 halaman. Bagi yang biasa yasinan setiap malam Jum'at, pas sekali menyelesaikan manzil kelima ini di hari Kamis malam Jum'at

Manzil keenam mulai awal al-Shaffat sampai akhir al-Hujurat. Manzil ini paling sedikit jumlah halamannya yang hanya 71 halaman.

Manzil terakhir mulai awal Qaf sampai akhir al-Nas. Berjumlah 86 halaman. Manzil terakhir ini biasa juga disebut dengan istilah al-Mufashshal. Mufashshal pun terbagi tiga bagian. Mufashshal panjang mulai Qaf sampai akhir al-Mursalat. Mufashshal pertengahan mulai al-Naba' sampai akhir al-Lail. Mufashshal pendek mulai dari al-Dhuha sampai akhir al-Nas.

Bagaimana cara menuntaskan target satu manzil dalam waktu satu hari? Mengingat jumlah halamannya bervariasi, mulai dari 71 sampai 106 halaman. Caranya lakukan dan lakukan dengan niat ikhlas karena Allah.

Hampir sama dengan cara mengkhatamkan al-Qur'an satu juz satu hari. Tinggal dibagi berdasarkan waktu shalat fardhu. Ambil contoh manzil terakhir yang berjumlah 86 halaman. Dibagi lima, maka satu kali shalat fardhu harus menuntaskan 17-18 halaman. Hampir satu juz.

Bisakah menuntaskan 17 halaman dalam satu kesempatan? Jika bisa alhamdulillah. Tapi ada cara lain yaitu 17 halaman itu dibagi dua sesi. Sesi sebelum masuknya waktu shalat tuntaskan 8 halaman. Selesai shalat tuntaskan 9 halaman. Demikian seterusnya setiap waktu shalat.

Untuk manzil pertama yang paling banyak halamannya yaitu 106 halaman atau 53 lembar. Maka sebelum salat fardhu baca 11 lembar. Sesudah shalat juga 11 lembar. Lima kali salat, selesai 106 halaman tersebut.

Berhubung jarak waktu magrib dan Isya tidak selonggar waktu yang lain, maka gunakanlah waktu yang lapang sesudah Isya untuk menggantinya.

Bagi yang biasa bangun shalat malam juga bisa mengejar ketertinggalan target satu manzil yang belum selesai. Jika sudah, dapat juga menyicil lebih awal manzil hari berikutnya. Karena pada hakikatnya hari sudah berganti sejak terbenamnya matahari.

Demikian tips mengkhatamkan al-Qur'an dalam satu pekan. Semoga Allah mampukan kita untuk mengkhatamkan al-Qur'an dalam satu pekan dan semoga kita  istiqomah dalam ketaatan kepada Allah. Aamiin yaa Mujib al-Sailin.

Tips Mengkhatamkan Al-Qur'an Dalam Satu Bulan

10:05 AM
Pernah menyaksikan siaran langsung salat Tarawih dari Masjidil Haram Mekah? Bagi yang pernah menonton tentu tahu bahwa Imam membaca satu juz satu malam. Selama bulan Ramadhan khatamlah al-Qur'an dalam pelaksanaan shalat tarawih.

Itu dalam kondisi salat lho. Makmum mampu berdiri mendengarkan bacaan al-Qur'an sebanyak satu juz dalam kondisi berdiri. Bagaimana kalau dalam kondisi duduk dan tidak dalam kondisi salat? Tentu lebih mudah membacanya satu juz satu malam.

Ini bukan tentang program yang pernah populer satu juz satu hari itu. Ini tentang mengkhatamkan al-Qur'an dalam satu bulan.

Al-Qur'an dibagi menjadi 30 jus atau 60 hizb. Satu juz adalah dua hizb. Jika diperhatikan al-Qur'an versi cetakan Arab Saudi bahwa satu juz itu terdiri dari 20 halaman. Kecuali juz pertama yang ada tambahan dua halaman berbeda surah al-Fatihah dan lima ayat surah al-Baqarah. Begitu juga juz terakhir yang berjumlah 22 halaman. Selain juz pertama dan terakhir, satu juz berjumlah 20 halaman atau 10 lembar. Jadi total al-Qur'an 30 juz itu berjumlah 604 halaman. Silakan cek.

Kembali kepada topik. Bagaimana cara mengkhatamkan dalam satu bulan?
Cara sederhananya satu juz satu hari. Satu juz itu ada 20 halaman. Maka 20 halaman itu dibagi 5 waktu shalat sehingga menjadi 4 halaman. Setiap akan salat atau sesudah salat fardhu, baca 4 halaman. 4 halaman itu cuma 2 lembar. Jika ini rutin dilakukan, maka satu jus selesai dalam satu hari.

Itu untuk bilangan bulan 30 hari. Jika satu bulan ada 29 hari. Sesekali dilebihkan 1 halaman satu hari. Jika dibaca 21 halaman satu hari, maka 29 hari dapat dikhatamkan al-Qur'an. Mudahkan bukan? Selamat mencoba..


Baca juga:

Tips Mengkhatamkan Al-Qur'an Dalam Satu Pekan
 
  • Contact Us | Site Map | TOS | Privacy Policy | Disclaimer
  • Copyright © Bismi Rabb. Template by OddThemes