Showing posts with label #KultumDiRumahAja. Show all posts
Showing posts with label #KultumDiRumahAja. Show all posts

Sarung, Peci dan Baju Koko

6:02 AM
Beberapa waktu yang lalu pernah ada dua orang pemuda yang datang ke mushalla menjelang salat Isya. Ia tidak masuk ke dalam mushalla. Ia hanya berdiri di pagar lalu memanggil seseorang dari dalam mushalla. Keluarlah salah seorang pengurus musahalla. Lalu dua orang pemuda ini memberikan dua buah amplop kepada pengurus. Setelah itu, dua pemuda in berlalu tanpa masuk ke dalam mushalla.

Sebelum sampai di mushalla, kedua pemuda ini sempat menanyakan pak imam kepada seseorang. Barangkali, ia bermaksud menitipkan dua aplop tersebut kepada pak imam. Berhubung pak imam sudah berangkat ke mushalla, maka kedua pemuda ini terus ke mushalla. Tapi, hanya sampai pagar dan tidak masuk ke dalam.

Saya menduga, kedua pemuda ini memberikan amplop berisi uang untuk membayar zakat fitrah karena memang sedang berlangsung penerimaan zakat fitrah di mushalla ini. Atau jika bukan zakat fitrah, bisa juga ia menitipkan sumbangan untuk anak yatim atau infak pembangunan mushalla.

Saya lantas bertanya sendiri di dalam hati. Apa gerangan yang terjadi dengan kedua pemuda ini. Mengapa ia tidak mau masuk ke mushalla? Apa karena yang datang ke mushalla umumnya orang tua-tua berusia 45 tahun ke atas? Mungkinkah ia memang tidak pernah diajak untuk datang ke mushalla sejak kecil sehingga tidak terbiasa datang ke mushalla? Ataukah karena ia tidak merasa nyaman datang ke mushalla karena tidak pakai sarung, peci dan baju koko? Jawaban pasti tentu kedua orang pemuda ini yang tahu.

Semoga ia tidak masuk ke mushalla bukan karena takut datang ke mushalla karena di waktu kecil pernah dipersekusi oleh jama'ah. Karena di sebagian tempat ada jama'ah yang tua-tua menghardik atau memarahi anak-anak karena mengganggu kekhusyukan ibadah.

Jika keduanya tidak ke mushalla hanya karena ia tidak memakai sarung, baju koko dan peci, tentu ini keliru. Ada anggapan pada sebagian masyarakat bahwa untuk salat di masjid atau mushalla harus menggunakan pakaian khusus berupa sarung, peci dan baju koko. Memang kedua pemuda ini tidak memakai sarung, peci dan baju koko. Mereka memakai celana jeans. Satu orang memakai kaos oblong dan satu orang lagi memakai kemeja lengan pendek. Tapi, mereka terlihat rapi.

Dalam keseharian kita melihat umumnya orang datang ke masjid atau mushalla menggunakan sarung, berbaju koko dan memakai peci. Bahkan ada juga yang memakai gamis layaknya pakaian orang di Arab. Kalaupun ada orang yang tidak pakai sarung, baju koko atau pakaian khusus, paling tidak umumnya selalu ke masjid atau mushalla memakai peci atau songkok.

Ada di beberapa tempat, peci dijadikan syarat untuk melakukan pekerjaan tertentu. Jika tidak memakai peci, maka dianggap tidak sopan atau tidak beradat. Seperti kegiatan mamanggia baralek (mengundang untuk datang ke pesta atau hajatan)  atau saat manatiang/manghidang (menghidang) makanan pada acara baralek. Pantang secara adat melakukan ini tidak pakai peci atau kupiah.

Tidak ada yang salah dengan memakai peci, sarung dan baju koko tersebut ke masjid atau mushalla. Pakaian tersebut bahkan sudah menjadi ciri tersendiri seperti pakaian santri di nusantara. Namun, menganggap sarung, baju koko dan peci sebagai pakaian khusus ke masjid atau mushalla juga kurang tepat. Anggapan ini hanya akan menguntungkan penjual pakaian saja. Lihatlah iklan sarung dan baju koko ramai di media jauh hari sebelum ramadhan. Sama halnya seperti iklan sirup yang seolah-olah diidentikkan dengan minuman berbuka atau berhari raya.

Menarik informasi yang disampaiakan Prof. Irwan Abdullah, seorang antropolog yang juga merupakan guru besar antropologi di Universias Gajah Mada Jogjakarta. Menurutnya, dalam anggapan sebagian masyarakat di Bantul, agama terlalu arogan dan punya supremasi yang tinggi. Ia mencontohkan solat harus pakai baju koko, peci, dan sarung. Petuah agama itu terlalu tinggi dan tidak bisa dicerna oleh masyarakat pinggiran di Bantul. Ada sebuah pengajian, bernama pengajian Padang Bulan yang diasuh Emha Ainun Najib. Emha mengatakan, "Kamu nggak usah sombong di hadapan Tuhan. Lebih baik kamu solat dengan pakaian ke sawah dan sederhana di pematang sawah dari pada tidak solat karena alasan pakaian tidak bagus". Akhirnya pengajian padang bulan ini diikuti banyak orang. Artinya, dalam konteks ini Emha “menurunkan” standar agama sehingga dipakai oleh orang miskin di pedesaan.

Betapa banyak orang tidak ke masjid atau mushalla untuk solat dengan alasan pakaian tidak rapi. Ada orang yang beraktifitas di sekitar masjid, lalu saat ada panggilan azan mereka tidak solat ke masjid. Mereka tidak percaya diri untuk beribadah hanya karena pakai baju kaus, tidak pakai sarung atau tidak ada peci. Solat tidak mengharuskan tiga jenis pakaian ini. Solat hanya mengharuskan pakaian yang dipakai itu bersih tidak mengandung najis dan menutup aurat.

Tidak salah memakai sarung, baju koko dan peci ke masjid. Tapi salah jika menganggap ketiganya syarat untuk sahnya beribadah. Semoga bermanfaat.  


Petuah Dari Sang Bijak(di)sana

8:05 AM
Dalam sebuah WhatsApp Group (WAG) terjadi diskusi antara peserta. WAG tersebut adalah group yang sengaja dibuat oleh panitia sebuah seminar bagi peserta yang sudah registrasi. Artinya, para peserta yang terlibat dalam diskusi di WAG tersebut umumnya tidak saling kenal. Diskusi tersebut terus berlanjut walau seminarnya sudah selesai.

Suatu kali ada yang menulis. 
"Kita bersyukur bisa ikut seminar ini. Gratis tanpa uang pendaftaran. Dapat ilmu dan wawasan. Walau mungkin ada yang tidak dapat sertifikat".

Lalu ada yang menimpali.
"Suksesnya acara seminar tentu juga didukung oleh keberadaan peserta yang ikut berpartisipasi memeriahkan acara. Tanpa peserta, tentunya seminar hanya diikuti oleh narasumber dan panitia".

Tiba-tiba muncul petuah bijak dari yang lain dengan panggilan "saudaraku seiman". Peserta bijak ini menyampaikan jika bisa meyakinkan panitia bahwa hadir dari awal hingga akhir, in sya Allah dengan mudah akan dikabulkan. Ia juga menyeru agar legowo dan sabar atas segala kenyataan hidup. Karena segala sesuatu itu telah ditetapkan oleh Alloh subhanahu wata'ala.

Sang Bijak tersebut mendapat respon dari peserta diskusi. Tapi kali ini tidak di group lagi, melainkan secara pribadi dengan pesan langsung.

"Maaf saya japri. Sebelumnya saya sudah japri Bapak S. Tapi, mungkin beliau sibuk. Akhirnya sertifikat webinar belum sempat dikirim. Maaf jika saya tidak bisa meyakinkan panitia bahwa saya hadir dari awal".

Tapi sayangnya, respon dari Sang Bijak(di)sana tidak lagi bijak di sini. Ia justru terkesan mengolok-olok foto profil lawan bicaranya dengan latar payung raksasa seperti payung di pelataran Masjid Nabawi. Ia mengatakan "iya pak haji.. masya Alloh bisa umroh sekeluarga". Kesan mengolok-olok itu muncul bukan hanya karena tidak merespon substansi pembicaraan terkait sertifikat. Tapi kesan itu juga muncul karena yang bersangkutan tidak menggunakan foto profil sementara mengomentari foto profil lawan bicaranya. 

Ungkapan olok-olok dari Sang Bijak(di)sana tersebut tidak ditanggapinya.  Ia justru masih berusaha meyakinkan Sang Bijak(di)sana dengan mengirimkan bukti kehadiran sebagaimana dimaksud oleh panitia. 

Tapi sayang, Sang Bijak(di)sana tidak merespon bukti kehadiran yang dimaksud. Ia malah asyik melanjutkan olok-oloknya dengan ungkapan "itu foto editan ya? Biasanya sibuk lalu lalang orang".

Orang yang diolok-olok masih menahan dirinya. Tapi sepertinya pertahanannya hampir saja jebol. "Jangan berbicara seperti itu. Tidak sopan. Itu bukan foto umrah keluarga. Saya tidak pernah bermaksud show up ibadah saya. Itu bukan Masjid Nabawi. Jika sempat, berkunjunglah ke Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Masjid saksi tsunami itu sekarang sudah seperti ini pelatarannya." 

Sang Bijak(di)sana lalu mengatakan "karena mungkin di Masjid Nabawi belum sempat misalnya. Lalu disempatkan di tempat lain. Dibuat mudah aja".
___

Sahabat semua. Ada banyak tanggapan, respon dan kesan yang muncul di dunia maya atau dunia virtual. 

Pertama, tentang foto profil. Ia bisa menjadi "simalakama". Di satu sisi ia adalah identitas agar yang bersangkutan diketahui adalah akun yang benar dan serius. Sekaligus juga untuk mengenali dan membedakan seseorang dengan nama yang mungkin sama dengan nama orang lain. Apalagi ada orang yang memakai gelar (laqab/kuniyah), nama samaran atau nama alias. Di sisi lain, terkadang ada orang menilainya sebagai hal yang negatif. Walaupun sang pemilik akun tidak berusaha negatif, tapi penilaian publik tentu tidak bisa dikendalikannya. Karena dunia maya adalah ruang publik. Orang bisa punya kesan yang beragam. Maka mari kita pikir ulang bagaimana baiknya menggunakan foto profil.

Kedua, jangan hakimi orang dengan ibadah kita. Tidak semua orang sama kuantitas dan kualitas ibadahnya. Terlebih ada ibadah tertentu yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan harta. Maka bagi orang yang sudah sering bolak-balik ke tanah suci haji dan umrah tidak layak mengolok-olok saudaranya yang lain yang mungkin belum seberuntung nasibnya. Begitu juga bagi ahli sedekah. Jangan menilai rendah kepada orang yang sedekahnya sedikit atau jarang terlihat bersedekah. Bagi ahli puasa, mentang-mentang selalu berpuasa sunnah lalu menganggap remeh orang yang tidak berpuasa sunnah. Bisa jadi orang lain punya kelaziman ibadah yang lain seperti solat malam atau rutin mengkhatamkan Al-Quran. Bagi yang rutin mengkhatamkan Al-Quran juga tidak patut mencela orang lain yang mengajinya cuma tiga ayat semalam. Pendek kata, mungkin orang lain juga punya kelaziman ibadah lain yang kita tidak tahu. Mari berhenti menilai ibadah orang berdasarkan kekuatan ibadah kita. Karena ibadah itu privasi seorang hamba dengan Tuhannya. Tapi sekali lagi, ini adalah kesan. Setiap orang punya kesan tersendiri terhadap orang lain di ruang publik. Termasuk postingan di blog ini tidak tertutup kemunkinan akan menimbulkan kesan yang beragam. Mari kita saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran. Semoga Allah ampuni segala dosa dan kesalahan kita. Aamiin.

Mari Menuju Kesuksesan

11:54 AM
Setiap orang ingin hidup sukses. Pengusaha ingin sukses dengan usahanya. Pedagang ingin sukses dengan dagangannya. Pelajar dan mahasiswa ingin sukses dengan studinya. Mereka yang bekerja ingin sukses dengan pekerjaannya. Begitu juga orang tua ingin agar anak-anaknya sukses. 

Tidak ada orang yang menginginkan kegagalan, apapun usaha atau profesi yang dilakukannya. Belum ada pedagang atau pengusaha yang berkeinginan dagangan atau usahanya rugi. Tidak ada petani yang bercita-cita pertaniannya tidak mendatangkan hasil. Tidak anak sekolahan yang ingin tinggal kelas dengan nilai paling rendah. Tidak ada guru yang mengharapkan siswanya tidak lulus. Tidak ada orang tua yang mendambakan anaknya menjadi anak yang gagal dalam kehidupannya. Pendek kata, semuanya menginginkan kesuksesan.

Namun sayang, tidak semua orang yang ingin sukses tersebut mendapatkan kesuksesannya. Penyebabnya macam-macam. Ada yang tidak sukses karena tidak tahu caranya agar sukses. Ada juga yang tidak sukses seperti orang lain karena ukuran sukses setiap orang berbeda. Ada juga yang tidak sukses karena semata-mata bertumpu pada usaha tanpa menyandarkan harapan suksesnya pada "Sesuatu Yang Maha Memberi Segalanya".

Tulisan ini ingin menyampaikan tentang sukses yang tidak kunjung datang karena tidak melaksanakan syarat sukses yaitu tidak memenuhi panggilan Zat Sang Pemberi Kesuksesan; Zat Yang Maha Kaya; Yang Maha Mendengar; Yang maha Melihat; Yang Maha Memberi Kebaikan.
Pernahkah kita coba renungkan makna lafal azan yang dikumandangkan lima waktu sehari semalam? Selain lafal takbir dan syahadatain, lafal apa lagi yang ada dalam azan? Jawabannya adalah lafal "hayya 'ala al-shalah-hayya 'ala al-falah". Apa makna ungkapan ini? Apa kaitannya dengan kesuksesan? Berikut penjelasan singkatnya.

Secara harfiah, hayya 'ala al-shalah berarti ajakan untuk salat dan hayya 'ala al-falah berarti ajakan untuk kemenangan. Terkait makna salat dapat dimengerti bahwa seruan azan mengajak orang untuk mengerjakan salat. Namun, terkait makna kemenangan, mungkin sebagian kita ada yang bertanya apa hubungannya azan dan kemenangan dengan kesuksesan?

Al-falah dalam bahasa Arab secara bahasa berarti beruntung. Seorang petani yang menanam benih dan merawat tanamannya dengan baik, lalu setelah masa panen tiba ia menuai hasil panennya. Petani ini dalam bahasa Arab disebut al-fallah. 

Suksesnya petani dengan usaha pertanian yang diusahakan dengan baik, mengikuti ketentuan dan sebab-akibat yang berlaku dalam bidang pertanian. Demikian juga dengan usaha dan pekerjaan. Apapun yang kita lakukan dalam rangka mencari nafkah dan rezeki yang halal tentu mengikuti ketentuan dan hukum sebab-akibat berlaku dalam setiap bidang usaha atau pekerjaan kita. Mustahil secara akal, seorang yang tidak berusaha atau tidak bekerja akan mendapatkan hasil.

Namun, semata-mata bersandar dan bertumpu pada usaha saja adalah sebuah sikap yang tidak tepat. Bagi setiap pribadi mukmin perlu kiranya merenungkan seruan azan yang memanggil untuk salat dan menyeru agar menjadi pribadi yang sukses. Salat dulu, biar sukses. Sangat disayangkan jika ada orang yang bekerja keras dan berusaha dengan semaksimal mungkin tapi tidak melaksanakan salat. Lafal azan terkait kesuksesan didahului dengan himbauan untuk mengerjakan salat.  Pesan dari "hayya 'ala al-shalah-hayya 'ala al-falah" yang kita dengar lima waktu sehari semalam melalui azan dan iqamat adalah bahwa salat adalah syarat untuk meraih kesuksesan. Ada "hayya 'ala al-shalah” sebelum “hayya 'ala al-falah".

Nah, jika ada yang sudah bekerja keras namun belum sukses dengan kerja kerasnya, maka perlu dicek salatnya. Sudahkah melaksanakan salat? Karena sukses dan beruntung itu mesti dahului dengan salat?
Dalam Islam, istilah sebab-akibat jalannya rezeki tidak disebut dengan hukum alam, tapi sunnatullah. Sunnatullah berarti ketentuan Allah. Bahwa Allah menetapkan ada hukum sebab-akibat yang berlaku berdasarkan ketentuan-Nya. Ingat, ada Allah yang mengatur hukum sebab-akibat itu, bukan alam. Ini juga alasan lain bagi kita mengapa kita perlu mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah salat lalu setelah itu baru kita bisa sukses.

Pendengaran, Penglihatan dan Hati Manusia

6:27 AM
Pada postingan sebelumnya telah disampaikan bahwa dalam surah al-Nahl ayat 78 Allah sebutkan bahwa manusia terlahir ke dunia dalam keadaan tidak mempunyai apapun. Lalu Allah berikan kepada manusia pendengaran, penglihatan dan hati, agar manusia bersyukur.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Ada dua hal yang menarik dari susunan ayat ini yang belum sempat dibahas pada postingan sebelumnya. Pertama,
Penyebutan as-sama' (pendengaran) dalam bentuk tunggal. Sedangkan al-abshar (penglihatan) dan al-af'idah (hati) dalam bentuk jamak.

Menurut Prof. M. Quraish Shihab, apa yang dapat didengar selalu sama. Siapapun yang mendengar atau dari manapun datangnya suara tersebut selalu mendengarkan hal yang sama. Ketika seorang mendengar suatu objek--katakanlah suara ayam berkokok di dalam rumah--maka suara yang sama juga terdengar oleh orang yang berada di luar rumah. Tidak mungkin orang di luar rumah mendengar suara kokok ayam itu seperti suara kucing.

Berbeda halnya dengan hasil penglihatan. Sebuah objek yang dilihat bisa saja akan tampak berbeda oleh orang yang berbeda. Posisi tempat berpijak dan arah pandang akan menghasilkan perbedaan penglihatan. Sebagai contoh melihat gunung dari arah yang berbeda. Akan menghasilkan gambaran gunung yang berbeda pula. Penentuan awal Ramadhan dengan melihat bulan misalnya. Ada yang melihatnya dan ada juga yang tidak dapat melihatnya karena ada yang menutupinya. Ada juga yang tidak dapat melihatnya karena hanya mengandalkan penglihatan mata saja.

Demikian juga halnya dengan hasil kerja al-af'idah yang dapat diartikan dengan aneka hati. Kata af'idah  juga dipahami oleh ulama dengan arti akal, yaitu gabungan daya fikir dan daya kalbu.

Kembali kepada penyebutan istilah afi'dah yang disebut dalam bentuk jamak pada ayat ini. Hasil pemikiran manusia berbeda-beda. Ada orang yang pemikirannya sangat brilian. Ada juga orang yang keliru dalam berfikir. Sambil berseloroh, muncul petuah orang "Kepala sama hitam, tapi shamponya berbeda-beda".

Hati manusia juga berbeda dan berubah-ubah. Terkadang senang, terkadang susah. Adakalanya benci, namun terkadang rindu. Tingkatannya berbeda. Walau yang dibenci dan dirindui sama.

Hal kedua yang juga menarik dari susunan ayat ini adalah bahwa Allah mendahulukan penyebutan pendengaran. Setelah itu baru penglihatan dan terakhir hati dan pikiran.

Menurut ilmu kedokteran modern, bahwa indra pendengaran lebih dahulu berfungsi dari pada indra penglihatan. Pendengaran pada bayi sudah berfungsi pada pekan pertama usianya. Sedangkan penglihatan baru mulai berfungsi pada bulan ketiga dan sempurna pada bulan keenam. Sedangkan kemampuan akal dan mata hati yang dapat membedakan yang baik dan yang buruk, baru berfungsi setelah kedua indra pendengaran dan penglihatan berfungsi.

Demikianlah di antara keindahan susunan ayat Al-Qur'an yang memberi informasi ilmu pengetahuan kepada kita. Semoga semakin menambah keimanan kita kepada Allah dan keimanan terhadap kitab suci ini. Aamiin.

Wallahu A'lam.







Tiga Hal Yang Meninggikan Dan Merendahkan Manusia

8:30 AM
Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah dengan kondisi terbaik. Firman Allah dalam surah Attin ayat 4 menyebutkan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang diciptakannya dalam bentuk dan kondisi terbaik.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Informasi dari surah al-Nahl ayat 78 menyebutkan bahwa kita terlahir ke dunia dalam keadaan tidak mempunyai apapun. Lalu Allah berikan kepada kita pendengaran, penglihatan dan hati, agar kita bersyukur.

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Ayat ini menunjukkan sarana pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan. Telinga dan mata adalah dua sarana untuk menjangkau objek yang bersifat materi. Sedangkan objek yang bersifat immateri dijangkau dengan sarana hati/akal melalui daya fikir dan daya kalbu.

Ada hal-hal yang tidak dapat dijangkau melalui indra, bahkan juga oleh akal manusia. Yang dapat menjangkaunya hanya hati melalui wahyu, ilham dan intuisi. Sehingga dalam banyak ayatnya Al-Qur'an juga memerintahkan manusia agar mengasah daya fikir dan daya kalbu.

Mari kita syukuri tiga nikmat ini dengan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Dengan tiga nikmat ini kita ditiinggikan oleh Allah dibandingkan makhluk lain. Jika tiga nikmat ini tidak disyukuri, maka dengan tiga nikmat ini juga kita manusia menjadi hina. Allah sebutkan dalam surah al-A'raf ayat 179 dengan perumpamaan makhluk lain yang tidak punya akal pikiran, penglihatan serta pendengaran.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Tidak hanya lebih hina dari binatang, tapi karena kelalaian akan tiga nikmat ini manusia berhak berada di neraka jahannam. Na'udzubillahi min dzalik.

Kalau Bicaranya Cepat, Bagus Ndak? Seperti Itu Juga Solat

7:40 AM
"Pa! Solatnya dipercepat saja. Biar solatnya cepat selesai." Usul si Uni setelah jeda empat rakaat pertama Tarawih.

"Kan sudah cepat tu Nak. Papa sudah pilih ayat yang pendek-pendek. Ayo berdiri lagi. Kita lanjutkan empat rakaat lagi." Ajakku sembari membantu si Abang berdiri karena kakinya masih sakit.

"Iya Pa. Ayatnya sudah pendek. Maksud Uni, Papa membaca bacaannya cepat-cepat saja. Biar cepat juga selesai solatnya." Ucapnya sembari berganti posisi dari duduk menjadi berbaring.

"Iya Pa. Lama kali." Si Abang juga ikut merayu saya.

"Abang! Uni! Coba kalau Papa bicaranya cepat-cepat, anak Papa ngerti ndak?"

"Ngerti" jawabnya serentak.

Melihat reaksi mereka menjawab, seolah mereka sudah sepakat agar Tarawih ini bisa lebih cepat. Sambil menghela napas saya coba yakinkan mereka.

"Mungkin anak-anak Papa bisa paham kalau papa bicara cepat-cepat. Tapi, bagus ndak bicara cepat-cepat tersebut?"

"He he he. Ndak bagus." Jawab si Uni dengan malu.

"Nah. Begitu juga halnya dengan solat. Solat itu kita bicara dan memohon doa kepada Allah. Memang Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Tapi, baguskah sikap kita berkomunikasi dan meminta kepada Allah dengan bicara cepat-cepat? Minta sesuatu ke Papa aja Uni bicaranya baik-baik. Apalagi bicara dengan Allah."

"Iya Pa". Jawabnya.

"Tapi. Uni ndak ikut solat witirnya. Ayatnya panjang" lanjutnya.

"Ya lah." Jawabku mengalah.
***
Usul tersebut disampaikan anak pertama saya karena menurutnya solat tarawih itu lama. Memang sejak malam pertama Ramadhan, kami #TarawihDiRumahAja. Ini karena pemberlakuan PSBB di daerah kami. Menyusul meningkatnya jumlah korban covid 19 di propinsi ini.

Dua malam ini saya yang mengimami solat Isya dan Tarawih. Di malam pertama jadi imam, saya tawarkan ayatnya yang pendek-pendek. Mereka semangat. Karena selain si Uni yang baru kelas dua SD, juga ada si Abang yang masih kelas satu SD. Selain itu, kepentingan meringankan bacaan solat juga karena ada Bundo yang ditungguin untuk tidur oleh si Adik yang belum genap berusia dua tahun.

Memang ada hadis Nabi yang memerintahkan meringankan bacaan solat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ مِنْهُمْ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

Dari Abu Hurairah RA ia berkata, ”Rasulullah Saw. bersabda, ’Jika salah seorang di antara kalian solat mengimami orang lain, maka hendaklah ia memperingan solatnya. Karena di antara makmum ada yang lemah, sakit, tua. Jika kalian solat sendirian, maka panjangkanlah sekehendak hati kalian’.” (H.R. Bukhari 2/199; Muslim 4/184)

Juga pernah Rasulullah meringankan solat ketika mendengar tangis seorang bayi

إِنِّي أَدْخُلُ فِي صَلاَتِي وَأَنَا أُرِيْدُ أَنْ أُطِيْلَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ 

Aku memulai solat dan ingin memperpanjangnya. Lalu aku mendengar tangis bayi, maka aku persingkat. (H.R Muslim 4/186,187)

Contoh lain Rasulullah Saw. memperpendek solat di antaranya solat ketika dalam perjalanan. Rasulullah Saw. pernah membaca surah at-Tin pada shalat Isya’, dan pernah membaca surah an-Nas dan al-Falaq pada solat subuh dalam perjalanan. Lihat Shahih Bukhari (2/250) dan Shahih Muslim (4/181).

Kembali ke kasus memperpendek bacaan ayat karena ada anak-anak dan juga ada bayi yang menunggu orang tuanya, maka perbuatan imam tersebut adalah sunnah.

Wa Allahu A'lam.

Kan Cuma Saya

6:54 AM
Pernah ada seorang raja memerintahkan seluruh rakyat di kerajaannya untuk mengumpulkan madu. Setiap orang diwajibkan membawa satu sendok madu. Tidak banyak, cuma satu sendok saja. Nantinya, madu-madu tersebut akan dikumpulkan di dalam sebuah baskom besar.

Sampailah perintah itu kepada seluruh rakyat, baik di lingkungan kerajaan maupun di pelosok-pelosok kampung.

Ada seorang rakyat yang tidak mau membawa madu. Pada saat hari pengumpulan madu, ia akan membawa air saja. "Kan cuma saya yang tidak membawa madu. Lagian, saat dicampur dalam baskom nantinya, apa artinya satu sendok air dibanding satu baskom madu. Ketika dicicipi nanti, rasa air akan kalah oleh rasa madu satu baskom". Itu ide yang terlintas dalam pikirannya.

Tibalah hari yang ditentukan. Setiap orang datang ke kerajaan untuk mengumpulkan madu yang dibawanya. Pengumpulan dilakukan di tempat tertutup dan tidak disaksikan banyak orang.

Setelah selesai semua orang menuangkan isi sendoknya ke dalam baskom besar itu, maka diambillah baskom tersebut lalu dibawa menghadap raja. Betapa terkejutnya raja ketika dicicipi madu itu terasa seperti air. Setelah dilihat di dalam baskom ternyata isinya air semua. Tidak ada madu di dalam baskom tersebut. Ternyata semua orang membawa air. Tidak ada satupun yang membawa madu. Ternyata pikiran "kan cuma saya yang membawa air" tersebut adalah pikiran yang juga dipikirkan oleh semua rakyat.

***

Kisah di atas disadur dari buku Lentera Hati karya Prof. M. Quraish Shihab. Kisah ini berbicara tentang ketidakdisiplinan dan ketidakpatuhan sebuah masyarakat. Perintah yang berasal dari kerajaan tidak dipatuhi sepenuhnya. Karena takut akan perintah, mereka tetap melaksanakan perintah. Tapi karena perintah tersebut punya celah untuk diakali, maka ada yang mengakalinya. Celakanya, yang mengakali perintah tersebut tidak satu orang. Semua orang mengakali perintah tersebut.

Mari kita ambil ibrah dari kisah di atas. Mari kita laksanakan perintah dengan benar. Jangan kita akal-akali perintah yang diberikan kepada kita.  Jangan ada pikiran dalam diri kita "kan cuma saya yang tidak melaksanakan perintah ini".

Begitu juga jika ada larangan melakukan sesuatu. Mari kita indahkan larangan tersebut dengan tidak melakukan apa yang dilarang.  Jangan ada pikiran dalam diri kita "kan cuma saya yang melanggar". 

Betapa bahayanya pikiran "kan cuma saya" tersebut. Mari kita disiplin dengan perintah dan larangan. Semoga kita menjadi lebih disiplin dan tidak menjadi bagian dari perusak perintah dan larangan dengan pikiran "kan cuma saya". 

Semoga bermanfaat. Aamiin. 

Wallahu a'lam. 

Ketika Tidak Mungkin Mengerjakan Solat Secara Normal

8:53 AM

Sesudah selesai sahur, kami duduk bercerita sambil menunggu waktu subuh. Tiba-tiba anak keduaku bertanya.

“Pa! Bagaimana Cara Fa** solat lagi?” Pertanyaan itu ditanyakan anakku karena kakinya terluka setelah terinjak pecahan kaca gelas dari susu yang dibawanya.

Tadi malam sesudah berbuka, ia belum langsung solat. Ia agak kesal karena roti yang rencanyanya akan dimakannya untuk berbuka sudah tinggal bungkusnya. Mungkin ia menduga, roti tersebut sudah habis dimakan oleh anak ketigaku.

Dengan musibah ini, ia menjadi semakin tidak tenang. Tadinya ia masih menahan air mata yang berlinang berkaca-kaca karena menduga roti yang sudah habis. Sekarang, tangisnya itu pecah karena menahan perihnya luka di telapak kakinya yang mengeluarkan darah. Buntut dari kesakitan dan kekesalannya adalah ia tidak solat Maghrib, Isya dan sunat Tarawih.

Tapi pada pagi dini hari ini, semangat ibadahnya kembali muncul. Ia mau dibangunkan untuk sahur. Setelah sahur dan minum obat, ia bertanya bagaimana cara solat.

Melihat semangatnya, aku juga menjawab dengan penuh semangat.

“Abang solatnya duduk di kursi. Tidak berdiri. Rukuk dan sujudnya tidak seperti solat biasanya” jawabku sembari mencontohkan cara ruku’ dan sujud.

“Trus, bagaimana Fa** berwudhu’?” tanyanya lagi.

“Abang tayamum” jawabku.

“Kan masih ada air? Mengapa Fa** harus tayammum?” sanggahnya.

“Tayammmum itu tidak hanya di saat tidak ada air untuk berwudhu’. Tapi tayammum juga dapat dilakukan pada saat sakit yang tidak bisa menggunakan air.” Jawabku menjelaskan keraguannya.

“Fa** tau cara tayammum” katanya bersemangat.

“Bagaimana caranya?” tanyaku memancingnya untuk mencontohkan.

Lalu anakkupun bertayammum dan setelah itu aku gendong ke tempat salat agar ia bisa ikut salat berjamaah di rumah.

***

Melaksanakan ibadah tetap bisa dilaksanakan walau ada keterbatasan. Apalagi, ibadah tersebut adalah ibadah wajib yang mesti dilaksanakan oleh setiap mukallaf.

Menurut al-Syaukânî, dalam kitabnya yang populer Irsyâdul Fuhûl, syarat diwajibkan sebuah ibadah kepada mukallaf adalah bahwa ibadah itu merupakan perbuatan yang mungkin untuk dilakukan, bukan perbuatan yang mustahil untuk diwujudkan. Ini adalah pendapat jumhur ulama yang diikuti oleh al-Syaukânî.
Lebih lanjut al-Syaukânî menjelaskan kategori mustahil itu dapat dipandang dari dua aspek. Pertama, mustahil karena perbuatannya sendiri mustahil dilakukan. Kedua, mustahil karena kemampuan mukallaf yang tidak dapat mewujudkan perbuatan itu.[1]

Dalil umum yang dipegang oleh al-Syaukânî adalah firman Allah surah al-Baqarah ayat 286 (لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ) dan al-Thalâq ayat 7 (لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا).
Saya ingin berkomentar tentang kategori mustahil karena kemampuan mukallaf yang tidak dapat mewujudkan perbuatan itu. Dalam kasus anak saya yang tidak sanggup berdiri solat karena telapak kakinya luka, maka dalam hal ini dipandang mustahil melaksanakan solat berdiri seperti biasanya.

Namun, tidak berarti gugur kewajiban solat bagi mereka yang tidak bisa berdiri untuk solat. Yang gugur darinya adalah kewajiban melaksanakan solat dengan cara berdiri tegak seperti orang yang sehat. Demikian seterusnya untuk kasus orang yang tidak kuasa solat dengan kondisi duduk, maka gugur kewajiban solat dengan cara duduk, ia tetap wajib solat dengan cara berbaring.

Dalam kasus tayammum secara tegas disebutkan dalam surah al-Maidah di antaranya adalah jika kamu sakit (وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى ). Kasus anakku memenuhi kategori ini. Ia tidak bisa berwudhu’ karena kakinya yang luka belum bisa terkena air. Maka mengamalkan syariah tayammum adalah sebagai bentuk keringanan dalam menunaikan kewajiban bersuci. Kewajiban bersuci tidak gugur, yang gugur hanya kewajiban berwudhu’. Ia diganti dengan bertayammum.

Banyak contoh gugurnya kewajiban tertentu dan berganti dengan bentuk kewajiban yang lain. Di antaranya kewajiban menghadap kiblat dalam salat tentu tidak berlaku bagi penyandang disabilitas tunanetra ketika tidak ada yang memberitahukan kepada mereka ke mana arah kiblat. Demikian juga ketentuan waktu salat bagi penyandang disabilitas tunanetra yang sekaligus tunarungu ketika tidak ada yang memberitahukan kepada mereka waktu salat.

Berdasarkan kaidah ini, tidak berlebihan juga jika kita aplikasikan dalam kasus gugurnya kewajiban solat jumat karena tidak memungkinkan melaksanakannya dikarenakan darurat pandemi covid 19. Namun, kewajiban solat fardu Zuhur tidak gugur.

Demikian juga halnya dengan solat berjamaah di masjid, musahalla, surau, meunasah, mersah, langgar atau tempat ibadah lainnya. Bagi yang memilih pendapat yang mengatakan solat lima waktu itu wajib di masjid bagi laki-laki, namun karena ada hal yang menyebabkan kewajiban itu tidak dapat dipenuhi secara penuh, maka gugur kewajiban solat di masjid.

Wallahu A’lam.


[1]Pernyataan itu berbunyi:
أَنَّ شَرْطَ الْفِعْلِ الَّذِي وَقَعَ التَّكْلِيفُ بِهِ، أَنْ يَكُونَ مُمْكِنًا فَلَا يَجُوزُ التَّكْلِيفُ بِالْمُسْتَحِيلِ،عِنْدَ الْجُمْهُورِ، وَهُوَ الْحَقُّ، وَسَوَاءٌ كَانَ مُسْتَحِيلًا بِالنَّظَرِ إِلَى ذَاتِهِ، أَوْ بِالنَّظَرِ إِلَى امْتِنَاعِ تَعَلُّقِ قُدْرَةِ الْمُكَلَّفِ بِهِ
Lihat Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad al-Syaukânî, Irsyâdul Fuhûl ilâ Tahqîq al-Haq min Ilm al-Ushûl,  Dâr al-Kitâb al-‘Arabiy, 1999 M/ 1419 H, juz ke-1, h. 32
 
  • Contact Us | Site Map | TOS | Privacy Policy | Disclaimer
  • Copyright © Bismi Rabb. Template by OddThemes