Showing posts with label Hadis dan Ilmunya. Show all posts
Showing posts with label Hadis dan Ilmunya. Show all posts

Laa Tansanaa Min Du'aaikum

12:14 PM
"La Tansana min du'aikum. Asyrikna fi du'aikum."

Itulah kalimat singkat yang terucap di ujung tausiyah yang disampaikan oleh guru kami saat silaturahim melalui video converence (vidcon) pada pertengahan syawal tahun ini. Pesan ini menjadi penting bagi kami tidak hanya dalam rangka saling mendoakan sebagaimana pesan hadis yang beliau kutip tersebut. Tapi pesan tersebut adalah pelajaran yang masih kami terima dari Sang Guru setelah dua dasawarsa tidak bertemu.

Kendati sudah tidak lagi bertemu selama dua puluh tahun, tidak ada yang berbeda dari beliau. Beliau masih ingat dengan kami semua. Beliau masih guru kami. Kami masih murid-murid beliau. Kami masih anak-anak beliau yang tetap butuh bimbingan dan nasehat dari guru.

Selama tiga tahun bergaul bersama beliau, banyak ilmu yang dapat kami peroleh. Banyak hikmah yang dapat kami ambil. Banyak petuah yang selalu kami pegang teguh. Tanpa bermaksud menyederhanakan pesan dan pengajaran beliau selama tiga tahun tersebut, berikut kami sampaikan di antara kesan terhadap beliau.

Pertama sebagai guru di sekolah, beliau menjadi guru kami di pagi hari. Berlanjut juga menjadi guru tutor kelompok di siang sampai sore hari. Bahkan beliau mewakafkan sebagian waktu istirahat dan waktu bersama keluarganya di malam hari untuk memberi tambahan pelajaran bagi kami. Berikut ini beberapa mata pelajaran yang pernah kami pelajari bersama beliau.

Dalam pelajaran ilmu hadis, beliau mengajarkan pembagian hadis dengan silsilah atau peta konsep. Sehingga jelas perbedaan masing-masing istilah pembagian hadis tersebut. Praktek mengajar ilmu hadis seperti ini sampai saat ini juga kami diterapkan. Buku Taisir karya Mahmud Thahhan yang menjadi buku rujukan saat itu juga saya anjurkan untuk dijadikan rujukan bagi mahasiswa saat mengampu mata kuliah ini.

Saat pandemi ini banyak orang menyebut hadis firro min al-majzumi firoroka min al-asadi. Kami sudah beliau ajarkan hadis tersebut di samping hadis la adwa wa tiyarata ketika membahas hadis mukhtalif. Khusus dua hadis ini telah mengantarkan teman saya menjadi sarjana karena beliau membahas dua hadis ini bersama 76 hadis lainnya terkait penyakit menular. Semua hadis tersebut bisa diselesaikan dengan cara kompromi (al-jam'u wa al-taufiq). Kini kawan ini sudah menyelesaikan program doktor dalam ilmu Al-Quran dan Tafsir.

Dalam pelajaran akidah akhlak, pelajaran akidah tentang aliran murjiah, syiah, jabariyah dan qadariyah serta teologi mu'tazilah asy'ariyah dan ahlu sunnah wal jama'ah sangat berkesan bagi saya saat itu. Pelajaran itulah yang kelak menjadikan alumni sekolah ini menjadi muslim yang moderat.

Dari beliau kami belajar syair Syauki yang sering beliau ulang innama al-umamu akhlaku ma baqiyat -- wa in humu dzahabat akhlaquhum dzahabu. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, syair tersebut sangat relevan. Kami yang masih remaja, sudah beliau ajarkan ilmu bermanfaat tersebut untuk menjadi pegangan kelak. Seolah-olah beliau berpesan ketika ada di antara muridnya ini yang menjadi abdi negara, pejabat publik atau pimpinan sebuah lembaga, maka tetaplah junjung tinggi akhlak tersebut. Karena "tegak kokohnya suatu bangsa tergantung pada akhlaknya. Jika mereka tidak lagi menjunjung tinggi norma-norma akhlak, maka bangsa itu akan musnah bersamaan dengan keruntuhan akhlaknya."

Dalam pelajaran fikih, kitab yang menjadi rujukan kami adalah Fiqh Sunnah. Bab salat berjamaah adalah bagian yang sangat lama kami kupas bersama beliau. Melalui lisan beliaulah kami belajar hadis-hadis pentingnya salat berjamaah lima waktu sehari semalam di masjid atau mushalla. Sampai saat ini, pengajaran itu tetap diamalkan oleh murid-murid beliau. Ketika sudah masuk waktu salat, segera ke masjid tinggalkan semua urusan.

Dalam pelajaran hadis bersama beliau, kitab Subulussalam karya al-Shan'ani mejadi pegangan kami. Di akhir-akhir kelas tiga, kami belajar bab nikah dengan beliau. Di antara bagian penting yang kami pelajari di sini adalah tentang mencari jodoh yang sekufu. Sebagian kami mempersempit memahami sekufu itu dengan menikah kelak dengan sesama anak MAPK. Karena kita sama-sama telah belajar ilmu agama yang sama dari guru yang sama. Walaupun tidak ada yang saling kenal dekat satu sama lain saat itu karena kami tidak sekelas antara siswa putra dengan siswa putri. Saat ini tercatat pada angkatan kami ada enam pasang yang menikah dengan sesama alumni, baik yang seangkatan ataupun dengan senior dan junior. "Tradisi" ini berlanjut di generasi sesudah kami. Semoga ini menjadi "sunnatan hasanatan". Aamiin

Setiap mata pelajaran, kita tidak hanya harus membawa kitab yang dipelajari. Tapi kita juga harus membawa kamus. Kalapun kita sudah tahu bacaan kalimat berdasarkan siyaqul kalam, tetap diminta melihat kata dasarnya di kamus. Ini sangat membantu kami dalam memperbanyak perbendaharaan kata sekaligus mengetahui kemungkinan ada banyak makna dari sebuah kata. Kelak ini menjadikan kami punya pemahaman yang terbuka terhadap teks Al-Quran ataupun hadis. Berbekal ini juga ada teman kami yang terlatih menjadi jurnalis untuk media berbahasa Arab.

Dalam membaca teks Arab gundul, kami diminta untuk mengambil kesimpulan sendiri dari teks yang dibaca. Berbekal ini kami diajarkan untuk punya keberanian berijtihad dan mandiri mengambil pemahaman sendiri. Sehingga kami sudah terbiasa harus selalu sependapat dan seragam. Setelah itu semua barulah beliau berkomentar termasuk meluruskan jika ada kekeliruan "ijtihad" kami.

Beliau sangat menghargai buku. Saat membawa buku, beliau tidak menjinjingnya. Melainkan membawanya seperti petugas upacara membawa map. Bahkan seperti mendekapnya sejajar dengan dadanya. Entah karena di dalam buku-buku tersebut terdapat ayat Al-Quran dan hadis. Atau mungkin beliau ingin menyampaikan pesan bahwa begitulah seharusnya memperlakukan buku sebagai sumber ilmu.

Kedua, selain belajar di kelas atau saat tutorial sore dan belajar tambahan di malam hari, beliau juga adalah ustadz pembina asrama kami. Satu tahun membersamai kami di asrama kelas tiga, banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kami ambil dari beliau. Sekali lagi, ini tidak menyederhanakan hikmah dan pelajaran yang sangat banyak kami ambil dari beliau. Ini dalam rangka mengingatkan kita semua betapa pentingnya teladan dari seorang guru.

Beliau adalah ustadz yang tidak pernah marah menghadapi anak-anak remaja di masa puber. Wibawa dan kharismanya membuat siswa sangat hormat kepada beliau. Jika sudah terdengar beliau membangunkan kawan di ujung kamar, maka hampir semua penghuni asrama langsung bangun.

Karena tinggal dalam satu komplek dengan beliau. Maka keberadaan keluarga beliau juga menjadi contoh bagi kami. Ternyata keteladanan tidak hanya kami dapatkan dalam kapasitas beliau sebagai guru yang digugu dan dituru. Beliau juga teladan dalam berumah tangga. Bayak kawan-kawan yang menerapkan cara ustadz mendidik keluarganya. Bahkan, saking mengidolakan keluarga beliau, ada di antara kawan yang bemberi nama anaknya persis sama dengan nama anak beliau.

Anak-anak beliau yang belum usia sekolah saat itu sudah dikenalkan adab bertamu ke kamar kami. Anak-anaknya tidak berani naik ke tempat tidur kami. Mereka sudah menggunakan pakaian yang tertutup sejak masih balita. Anak-anak juga sudah dilatih puasa sejak dini.

Belum pernah terdengar beliau berkata kasar kepada keluarganya. Bahkan suaranya berbicara dengan keluarganya saja tidak terdengar oleh kami. Padahal, dinding pemisah antara tempat beliau dengan tempat kami hanya berdinding kayu lapis tipis.

Khusus pakaian ke masjid, beliau sangat menekankan untuk memakai peci dan sarung. Tujuannya agar nanti setelah tamat, kami terbiasa dengan itu. Karena umumnya masyarakat masih belum terbiasa menerima jika ada imam atau khatib yang tidak pakai sarung.

Memang kami dibiasakan bergantian mengimami salat. Tapi bukan tidak pernah beliau jadi imam. Jika beliau jadi imam, ayat yang sering beliau bawakan adalah Ya ayyuha al-ladzina amanu ma lakum idza qila lakum infiru fi sabilillahitstsaqoltum ila al-ardi. Seolah beliau ingin berpesan sesuai lanjutan ayat aradhitum bil hayatid dunya minal akhirah. Fama mata'u al-hayati al-dunya min al-akhirati illa qalila.

Ada dua kaidah "kehidupan" yang sering beliau ulang yaitu apa yang disebut oleh Sayyid Qutb dalam tafsirnya alhayatu fi dzilal al-qur'an nikmah. Al-nikmatu la ya'rifuha illa man dzaqaha. Quote ini banyak membentuk haluan hidup kami. Banyak di antara kami yang mengambil jurusan tafsir-hadis saat kuliah. Bahkan sampai jenjang doktor. Ada yang mendedikasikan hidupnya sebagai hafiz dan pengajar Al-Quran. Tentunya tidak sebatas itu, beliau mengingankan kami tetap hidup dalam naungan Al-Quran. Karena ini adalah sebuah kenikmatan yang tidak bisa digambarkan karena terbatasnya kemampuan kita untuk menggambarkannya. Ia hanya dapat diketahui oleh orang merasakannya. 

Menarik jika melihat keterbukaan yang diajarkan di sekolah ini. Kami tidak hanya belajar dari satu buku dan dari satu aliran atau mazhab tertentu. Kendatipun kami beliau kenalkan dengan Fi Dzilal Al-Quran-nya Sayyid Qutb, tidak serta merta menjadikan kami berhaluan konservativ. Begitu juga ketika kami dikenalkan dengan Duha al-Islam dan Fajr al-Islam-nya Ahmad Amin, tidak lantas kami menjadi liberal. Karena kami sudah diajarkan merdeka dalam berpendapat. Inilah style MAPK, jika kita enggan menyebutnya sebagai "mazhab".

Kaidah kehidupan yang kedua yang sering beliau ulang yaitu ma la yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu. Jika tidak bisa mencapai sesuatu keseluruhannya, maka tidak boleh ditinggalkan sama sekali. Harus ikut ambil bagian dalam setiap kebaikan. Jangan meninggalkan sebuah kebaikan hanya karena tidak bisa melakukannya secara maksimal. Inilah di antara kesan dan sebagian hikmah yang dapat disampaikan tentang beliau. Sedikit kesan yang tertuang di sini tentu tidak membatasi banyaknya ilmu yang telah beliau ajarkan. Biarlah kesan yang sedikit ini tertuang di sini. Dari pada tidak tersampaikan sama sekali. Sesuai dengan kaidah yang beliau sampaikan "sesuatuyang tidak bisa digapai keseluruhannya, maka tidak boleh ditinggalkan sama sekali. 

Akhirnya, kami mohon maaf karena belum bisa membalas kebaikannya. Biarlah balasan terbaik dari Allah yang akan didapatkannya. Sejalan dengan petuah beliau di awal postingan ini, baru sebatas doa yang sanggup kami mohonkan kepada Allah. Semoga beliau senantiasa diberi Allah kesehatan dan kesempatan untuk selalu mengajar dan menyebarluaskan ilmunya kepada murid-muridnya.  Dan semoga ilmu yang telah beliau sampaikan kepada kami dapat kami amalkan dan juga kami sebarluaskan kepada anak-anak dan murid-muri kami. Aamiin

Kalau Bicaranya Cepat, Bagus Ndak? Seperti Itu Juga Solat

7:40 AM
"Pa! Solatnya dipercepat saja. Biar solatnya cepat selesai." Usul si Uni setelah jeda empat rakaat pertama Tarawih.

"Kan sudah cepat tu Nak. Papa sudah pilih ayat yang pendek-pendek. Ayo berdiri lagi. Kita lanjutkan empat rakaat lagi." Ajakku sembari membantu si Abang berdiri karena kakinya masih sakit.

"Iya Pa. Ayatnya sudah pendek. Maksud Uni, Papa membaca bacaannya cepat-cepat saja. Biar cepat juga selesai solatnya." Ucapnya sembari berganti posisi dari duduk menjadi berbaring.

"Iya Pa. Lama kali." Si Abang juga ikut merayu saya.

"Abang! Uni! Coba kalau Papa bicaranya cepat-cepat, anak Papa ngerti ndak?"

"Ngerti" jawabnya serentak.

Melihat reaksi mereka menjawab, seolah mereka sudah sepakat agar Tarawih ini bisa lebih cepat. Sambil menghela napas saya coba yakinkan mereka.

"Mungkin anak-anak Papa bisa paham kalau papa bicara cepat-cepat. Tapi, bagus ndak bicara cepat-cepat tersebut?"

"He he he. Ndak bagus." Jawab si Uni dengan malu.

"Nah. Begitu juga halnya dengan solat. Solat itu kita bicara dan memohon doa kepada Allah. Memang Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Tapi, baguskah sikap kita berkomunikasi dan meminta kepada Allah dengan bicara cepat-cepat? Minta sesuatu ke Papa aja Uni bicaranya baik-baik. Apalagi bicara dengan Allah."

"Iya Pa". Jawabnya.

"Tapi. Uni ndak ikut solat witirnya. Ayatnya panjang" lanjutnya.

"Ya lah." Jawabku mengalah.
***
Usul tersebut disampaikan anak pertama saya karena menurutnya solat tarawih itu lama. Memang sejak malam pertama Ramadhan, kami #TarawihDiRumahAja. Ini karena pemberlakuan PSBB di daerah kami. Menyusul meningkatnya jumlah korban covid 19 di propinsi ini.

Dua malam ini saya yang mengimami solat Isya dan Tarawih. Di malam pertama jadi imam, saya tawarkan ayatnya yang pendek-pendek. Mereka semangat. Karena selain si Uni yang baru kelas dua SD, juga ada si Abang yang masih kelas satu SD. Selain itu, kepentingan meringankan bacaan solat juga karena ada Bundo yang ditungguin untuk tidur oleh si Adik yang belum genap berusia dua tahun.

Memang ada hadis Nabi yang memerintahkan meringankan bacaan solat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ مِنْهُمْ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

Dari Abu Hurairah RA ia berkata, ”Rasulullah Saw. bersabda, ’Jika salah seorang di antara kalian solat mengimami orang lain, maka hendaklah ia memperingan solatnya. Karena di antara makmum ada yang lemah, sakit, tua. Jika kalian solat sendirian, maka panjangkanlah sekehendak hati kalian’.” (H.R. Bukhari 2/199; Muslim 4/184)

Juga pernah Rasulullah meringankan solat ketika mendengar tangis seorang bayi

إِنِّي أَدْخُلُ فِي صَلاَتِي وَأَنَا أُرِيْدُ أَنْ أُطِيْلَهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ 

Aku memulai solat dan ingin memperpanjangnya. Lalu aku mendengar tangis bayi, maka aku persingkat. (H.R Muslim 4/186,187)

Contoh lain Rasulullah Saw. memperpendek solat di antaranya solat ketika dalam perjalanan. Rasulullah Saw. pernah membaca surah at-Tin pada shalat Isya’, dan pernah membaca surah an-Nas dan al-Falaq pada solat subuh dalam perjalanan. Lihat Shahih Bukhari (2/250) dan Shahih Muslim (4/181).

Kembali ke kasus memperpendek bacaan ayat karena ada anak-anak dan juga ada bayi yang menunggu orang tuanya, maka perbuatan imam tersebut adalah sunnah.

Wa Allahu A'lam.

Catatan Memaknai Hari Kemerdekaan

5:27 PM
17 Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka

Selama hayat masih di kandung badan
Kita setia tetap setia mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia membela negara kita.

Bait lagu karya H. Mutahar di atas sering kita nyanyikan di waktu sekolah dulu. Lagu ini mengingatkan kita kepada sebuah fakta sejarah. Bahwa hari itu, Jumat 17 Agustus tahun 1945, bapak proklamator Soekarno dan Muhammad Hatta, atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan kita bangsa Indonesia.

Hari itu Jumat 17 Agustus 1945, kita peringati sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Hari ini Jumat 17 Agustus 2018, genap sudah tujuh puluh tiga tahun kita merdeka. Catatan yang ingin saya sampaikan bukan tentang sebuah kebetulan, bahwa hari ini juga hari Jumat bertepatan dengan 17 Agustus tujuh puluh tiga tahun yang lalu. Catatan ini juga bukan ingin bertanya apakah kita sudah benar-benar merdeka dari penjajahan bangsa asing. Tapi catatan berikut ini lebih sebagai sebuah perenungan arti tentang peringatan hari kemerdekaan.

Catatan pertama, kemerdekaan kita diproklamasikan pada hari Jumat. Hari yang disebut sebagai hari istimewa dalam banyak hadis. Sayyidul ayyam, hari adam diciptakan, hari dihapuskannya dosa-dosa, hari raya setiap pekan dan banyak keistimewaan lainnya. Tidak hanya pada hari istimewa, tapi juga pada bulan istimewa,  sayyidussuhur bulan Ramadhan. Tepatnya 9 Ramadhan tahun itu. Kemerdekaan kita juga merupakan sebuah keistimewaan bagi bangsa ini. Istimewa karena hari itu kita resmi sebagai sebuah bangsa yang "merdeka, bersatu, berdaulat,..." . Kita proklamasikan kemerdekaan di hari Jumat. Kita nyatakan kepada dunia kemerdekaan kita pada bulan Ramadhan. Istimewa bagi bangsa ini, karena hari itu telah lahir sebuah negara yang bernama Indonesia.

Kedua, tanpa mengecilkan arti perjuangan para pahlawan bangsa dari Aceh sampai Papua, kemerdekaan kita adalah nikmat yang Allah berikan bagi bangsa ini. Hal itu dimuat dalam pembukaan UUD 1945. Disebutkan "atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa...". Sejarah mencatat bagaimana perjuangan anak bangsa dengan lafal Takbir mengusir penjajah. Mustahil kiranya jika bambu runcing bisa menang melawan persenjataan modern para penjajah saat itu. Perjuangan dengan bambu runcing itu didasari dengan semangat berjuang membela tanah air, berjuang membela kebenaran, perjuangan yang "didorong oleh keinginan yang luhur". Demikian

Oleh karena itu nikmat ini mesti disyukuri. Hukum mensyukuri nikmat adalah wajib. Ada banyak cara mensyukuri nikmat kemerdekaan. Kita bisa mensyukuri kemerdekaan dengan memperingati hari kemerdekaan. Tentunya ungkapan syukur itu tidak terbatas pada acara seremonial dan kegiatan perlombaan. Ungkapan syukur atas nikmat kemerdekaan juga dapat dilakukan dengan merawat keragaman bangsa tanpa harus meninggalkan jati diri kita yang merupakan bagian dari keragaman itu. Mensyukuri nikmat kemerdekaan juga dengan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif. Mensyukuri nikmat kemerdekaan juga dengan mengharumkan nama bangsa. 


Acara Perlombaan 17-an
Saat ini berlangsung perlombaan olah raga Asian Games. Para atlet yang berjuang atas nama bangsa adalah mereka yang sedang berupaya mengapresiasi nikmat kemerdekaan. Tidak terbatas hanya dalam cabang lomba olah raga saja, para duta bangsa yang berlomba mengharumkan nama bangsa di hadapan bangsa lain--dengan lomba seni, budaya, termasuk lomba bidang keagamaan--adalah mereka yang mengharumkan nama bangsa guna menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang berdaulat. 

Ketiga, selain memaknai kemerdekaan sebagai sebuah kedaulatan bangsa Indonesia yang bebas dari penjajahan bangsa lain, tidak salah juga kiranya andai kita memaknai kemerdekaan dengan membebaskan diri kita dari belenggu kemusyrikan dan penguasaan hawa nafsu.



Jika kita kaitkan peringatan kemerdekaan ini dengan hari raya idul adha yang akan kita rayakan beberapa hari ke depan, maka tentu kita harus memaknai ulang arti kemerdekaan bagi diri kita masing-masing. Tokoh utama yang sering disebut dalam hari raya idul adha adalah Nabi Allah Ibrahim A.S. Kita kutip di antara penggalan kisah Ibrahim dalam Surah Al-An'am ayat 74 sampai 78. Di penghujung ayat Ibrahim berkata يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ. Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sekutukan. Orang-orang jahiliah di masa Ibrahim mengagungkan dan menuhankan benda-beda langit seperti bintang, bulan dan matahari. Mereka melakukan personifikasi tuhan (sengaja ditulis dengan huruf "t" kecil) dalam bentuk berhala yang mereka sembah. 

Tidak hanya Ibrahim, semua Nabi dan Rasul yang diutus Allah, termasuk Baginda Rasulullah diutus adalah dalam rangka membebaskan manusia dari keyakinan yang menuhankan berhala dalam segala bentuknya, menuju kemerdekaan keyakinan dengan ber-Tuhankan Rabbul 'alamin. Di era modern, berhala itu bisa dalam bentuk jabatan, pekerjaan, harta dan lain-lain. Kemerdekaan dan kebebasan beragama sejatinya adalah memerdekakan dan membebaskan diri dari belenggu penyembahan kepada ciptaan, menuju penyembahan kepada Sang Pencipta.

Kita juga wajib melepaskan diri dari belenggu nafsu yang mengantarkan kita kepada dosa dan maksiat. Sudahkah diri kita benar-benar merdeka dari "penjajahan" nafsu? Jika belum, maka di antara perjuangan yang harus kita lakukan adalah berjuang melawan "diri sendiri". Mari merdekakan diri kita dari penjajahan nafsu! Mari kita perhatikan hadis dari Fadholah bin 'Ubayd. Dia berkata, Ketika peristiwa haji wada' Rasulullah bersabda

( أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ؟ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ، وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ ، وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ )

Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad (23958), Ibn Hibban (4862), al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir (796), al-Hakim (24), Ibnu al-Mubarak dalam al-Zuhd (826), al-Nasai dalam al-Sunan al-Kubra (11794) dan al-Baihaqi dalam al-Syu'ab (10611). Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Tirmizi (1621), Ibn Majjah (3934) dengan lafal yang agak ringkas. Derjat hadis hadis ini dinilai shahih oleh al-Tirmizi, al-Hakin dan al-Albaniy.

Ada empat informasi yang disampaikan Baginda Rasulullah Saw kepada umatnya dalam hadis ini. Pertama, seorang mukmin adalah orang yang dengan keberadaannya orang lain merasa aman, baik harta maupun diri mereka. Kedua, seorang muslim adalah orang yang selamat orang lain dari ucapan dan perbuatannya. Ketiga, seorang mujahid adalah orang yang berjihad melawan "dirinya" sehingga dia menjadi pribadi yang taat kepada Allah. Keempat, seorang muhajir adalah orang yang berhijrah dari kesalahan dan perbuatan dosa.

Dirgahayu Republik Indonesia.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!



Kembali Ke Fitrah, Kembali Menjalankan Ajaran Agama

11:43 AM
Dalam suasana Syawal masih relevan kiranya kita bahas tentang fitrah. Bagaimana kaitannya dengan kembali kepada fitrah (idul Fithri)?. Kita kaji Firman Allah Surah Al-Rum ayat 30

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. al-Rum/ 30: 30)
Ayat ini merupakan perintah kepada Nabi Muhammad dan juga kepada kita umat beliau untuk menghadapkan wajah, dalam artian diri dan segenap jiwa raga kita, kepada al-Din dalam keadaan lurus. Menghadapkan segenap jiwa raga itu tidak boleh tidak lurus. Harus benar-benar lurus keseluruhannya. Seumpama kita berdiri di hadapan seseorang di arah barat, maka tidak boleh menghadapkan kepala ke barat lalu dada menghadap ke utara atau sebaliknya. Maka tidak boleh dalam keadaan menghadap kepada al-Din ini, dalam saat yang bersamaan juga menghadap ke hal lain selain al-Din ini. Oleh karenanya diperintahkan menghadapkan dan mengarahkan semua perhatian dengan lurus kepada agama yang disyariatkan. Artinya menghadap secara totalitas.

Selanjutnya Allah memerintahkan kita untuk tetap mempertahankan fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Dalam penggalan ayat ini ditemukan kata fithrah. Ibnu Manzhur, dalam kamus Lisanul Arab menyebutkan kata fitrah berarti sesuatu pengetahuan tentang Tuhan yang diciptakan oleh Allah bagi manusia. Ia berasal dari kata fathara yang berarti penciptaan awal yang belum ada contoh sebelumnya. Di antaranya firman Allah dalam surat Fathir ayat 1 menyebutkan الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ  (segala puji bagi Allah sebagai pencipta lagit dan bumi). Ibnu ‘Abbas menyebutkan bahwa ia tidak mengetahui makna fathir al-samawati wa al-ardhi sampai pada suatu hari melihat dua orang arab bertengkar tentang kepemilikan sumur. Salah seorang dari mereka menyebutkan ana fathartuha (saya yang pertama membuatnya). 

Poin yang ingin saya sampaikan dari pernyataan Ibnu Manzhur ini adalah bahwa fithrah adalah sesuatu yang sengaja diciptakan oleh Allah lalu diberikan kepada manusia sebagai bekal bagi manusia untuk sampai mengenal Allah atau untuk bertauhid. Sejalan dengan pendapat di atas, Al-Raghib al-Ashfahaniy dalam kitab ­Mufradat-nya menyebutkan bahwa fitrah adalah pengetahuan keimanan yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia. Sampai di sini kita pahami bahwa fitrah (fithrah) adalah potensi dasar yang diberikan oleh Allah bagi setiap manusia untuk bertauhid dan mengenal agama dengan baik.

Lalu Allah sebutkan tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Fitrah itu tetap ada bagi setiap manusia. Fitrah yang Allah berikan itu tidak akan berubah. Quraish Shihab menyebutkan bahwa sekelas Firaun yang mengaku sebagai tuhan sekalipun di akhir hayatnya memunculkan pengakuan yang terlambat dengan mengatakan “aku beriman dengan Tuhannya Musa dan Harun”. Pengakuan itu menurut Quraish Shihab adalah fitrah beragama yang tetap itu.

Lalu muncul pertanyaan bagaimana dengan orang yang ternyata sekarang kita temukan tidak beragama dengan agama yang lurus? Nabi sebutkan dalam hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah sebagaimana dikutip al-Suyuthi:

وأخرج البخاري ومسلم وابن المنذر وابن أبي حاتم وابن مردويه عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم " ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جدعاء ؟ " ثم يقول أبو هريرة رضي الله عنه : اقرأوا ان شئتم فطرة الله التي فطر عليها لا تبديل لخلق الله لذلك الدين القيم
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Ibn Munzhir, Ibn Hatim dan Ibn Mardawaih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak satupun bayi yang terlahir ke dunia ini kecuali atas dasar fitrah. Lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya menganut agama yahudi, nashrani atau majusi. Seperti halnya binatang yang lahir sempurna. Apakah kamu menemukan ada anggota badannya yang terpotong, kecuali jika kamu yang memotongnya?.” Kemudian Abu Hurairah berkata: bacalah fithratallahi (ayat 30 surat al-Rum).

Dalam hadis ini disebutkan bahwa tidak satu pun bayi yang terlahir ke dunia ini kecuali atas dasar fitrah. Lalu kedua orang tuanya, dalam hal ini sebagai lingkungan terdekat bagi seorang bayi, yang menjadikannya menganut agama Yahudi, Nasrani atau Majusi. Orang tua adalah lingkungan pertama yang menjadikan anak bisa menjauhi fitrahnya. Tidak hanya orang tua. Lingkungan, sekolah, kawan, bahkan masyarakat juga berpengaruh dalam menciptakan anak akan tetap pada fitrahnya atau menjauhi fitrahnya.

Melalui ayat ini Allah menegaskan bahwa adanya fitrah keagamaan yang perlu dipertahankan oleh manusia. Bukankah awal ayat ini merupakan perintah untuk mempertahankan dan meningkatkan apa yang selama ini telah dilakukan oleh Rasul Saw., yakni menghadapkan wajah ke agama yang benar? Bukankah itu yang dinamai oleh ayat ini sebagai fitrah? Bukankah itu yang ditunjukkannya sebagai agama yang benar? Jika demikian, ayat ini berbicara tentang fitrah keagamaan.

Ayat di atas mempersamakan antara fitrah dengan agama yang benar, sebagaimana dipahami dari lanjutan ayat yang menyatakan “itulah agama yang lurus”. Jika pernyataan ini dikaitkan dengan pernyataan sebelumnya  bahwa Alllah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu, ini berarti bahwa agama yang benar atau agama Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah itu. Juga dipahami bahwa fitrah beragama akan membawa manusia kepada agama yang lurus. Ketika ada orang yang tidak beragama sesuai dengan agama yang lurus (al-Din al-Qayyim), itu karena ia telah lari menghindar dari fitrahnya. Sebagaimana disebutkan oleh hadis di atas.

Sebagai bukti bahwa adanya fitrah beragama atau fitrah ketauhidan yang diberikan kepada manusia adalah dengan adanya kesaksian manusia pada saat sebelum ia dilahirkan ke atas bumi ini. Kesaksian itu adalah menyatakan bahwa Allah sebagai rabb (Tuhan). Bagi kita umat Islam, informasi tentang “perjanjian” kesaksian kita dengan Allah itu diinformasikan Allah dalam Surah al-A’raf ayat 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (Q.S. al-A'raf/ 7: 172)

Terkait penjelasan ayat ini kita bahas pada pertemuan yang lain In Sya’a Allah.

Lalu Bagaimana Kaitan Fitrah Dengan Idul Fitri?

Idul fitri adalah hari kemenangan karena kita telah mengisi siang dan malam hari Ramadhan dengan puasa dan ibadah sunnah lainnya dengan iman dan ikhlas. Sebagai ganjarannya, Allah ampuni dosa kita yang telah berlalu. Itulah kemenangan yang kita rayakan dengan bertakbir membesarkan Allah, bertahlil mengesakan Allah serta bertahmid memuji Allah.

Idul Fitri atau kembali fitrah idealnya juga adalah kita kembali kepada fitrah bertauhid kita, fitrah kita beragama dan menjalankan ajaran agama. Idul fitri adalah kembali menjalankan ajaran agama. Idul fitri bukanlah kita yang telah menjalankan ajaran agama selama bulan Ramadhan, lalu kita lupakan ajaran itu selepas Ramadhan. Baru akan kembali melaksanakan ajaran agama pada bulan Ramadhan yang akan datang. Ini sejatinya bukanlah Idul Fitri.

Karena fitrah adalah potensi dasar yang diberikan oleh Allah bagi setiap manusia untuk bertauhid dan mengenal agama dan selanjutnya dapat menjalankan agama dengan baik, maka kembali kepada fitrah tentunya kembali melaksanakan ibadah wajib dan sunnah yang sudah dilaksanakan di bulan Ramadhan. Orang yang telah beridul Fitri tentunya kembali shalat ke masjid, kembali mengaji, bersedekah dan berderma, kembali mengikuti pengajian, kembali berpuasa dengan puasa sunnah. Pendek kata, orang yang telah beridul fitri adalah orang yang kembali menegakkan agama dalam dirinya. Bukan malah meninggalkan agama, apalagi malah kembali ke kubangan dosa dan maksiat lagi. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Bunyi ujung ayat 30 surah al-Rum ini.

Hadanallahu wa iyyakum. Billahi taufiq walhidayah, warridho walinayah.  

___
Disampaikan pertama kali untuk pengajian subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh Tengah pada hari Kamis tanggal 14 Syawal 1439 H/ 28 Juni 2018 M

Haruskah Minta Maaf Saat Idul Fitri?

2:49 PM
"Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin".

Demikian ungkapan yang biasa disampaikan atau ditemukan pada saat Idul Fitri. Ada tradisi meminta maaf pada saat Idul Fitri. Tradisi itu umum berlaku di Indonesia. Permintaan maaf itu kadang disampaikan melalui penyampaian secara lisan, dan juga melalui penyampaian tertulis di media sosial. Bahkan juga ditemukan di spanduk dan baliho besar. Setiap mengucapkan selamat Idul Fitri, selalu dibarengi dengan permintaan maaf atas kesalahan. 

Namun, ada pertanyaan disampaikan kepada kami benarkah tidak ada syariat khusus yang mengatakan ada perintah bermaafan di hari raya. Mengapa harus meminta maaf di hari Idul fitri? Apa hubungannya Idul fitri dengan bermaafan lahir dan batin?

Untuk diketahui bersama, bahwa dalam hadis disampaikan "siapa yang berpuasadalam redaksi yang lain, siapa yang mendirikanRamadhan atas dasar iman dan dilaksanakan dengan ikhlas karena Allah, maka Allah ampuni dosanya yang telah berlalu". Hadis ini populer. Sering disampaikan oleh penceramah di bulan Ramadhan. Dalam hadis ini disebutkan bahwa Allah mengampuni dosa hamba yang berpuasa di siang hari dan mengisi malam-malam Ramadhan dengan ibadah sunnah seperti tarawih, sedekah, baca Alquran, iktikaf atau menambah ilmu dengan menghadiri majlis atau mendengar ceramah, maka Allah ampuni dosanya yang telah berlalu. Sehingga setelah Ramadhan ia disebut kembali dalam kondisi suci tanpa dosa. Ini yang disebut sebagai Idul Fitri, kembali suci.

Namun, dosa yang diampuni oleh Allah melalui shiyam dan qiyam Ramadhan hanyalah dosa terkait dengan hak-hak Allah. Sedangkan yang berkaitan dengan hak-hak manusia tidak diampuni oleh Allah kecuali hak-hak itu telah ditunaikan. Oleh karena itu, penting bermaafan di hari Idul fitri untuk benar-benar menghapuskan dosa terkait dosa yang bersangkut-paut dengan sesama manusia.

Sebagai contoh, kewajiban seorang ayah atau suami terhadap hak anak dan istri untuk mendapatkan nafkah, pendidikan dan perlindungan. Jika hak itu tidak terpenuhi, maka harus dipenuhi. Jika tidak bisa memenuhinya, maka ayah harus minta maaf kepada anak dan istrinya. Begitu juga sebaliknya istri atau anak yang tidak melakukan kewajiban berbakti kepada seorang ayah atau suami.

Seorang yang diamanahi dengan pekerjaan dan tanggung jawab mendidik-mengajar, seperti guru dan dosen misalnya, juga wajib minta maaf jika belum melaksanakan amanah itu dengan baik dan benar. Pegawai, petugas bahkan pejabat yang bertugas melayani publik atau masyarakat juga wajib minta maaf karena mungkin belum menunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Dalam hidup bertetangga, berkelompok, bermasyarakat juga mungkin terdapat kesalahan. Maka meminta maaf adalah sebuah cara untuk merelakan hak yang belum ditunaikan.

Apa Dalilnya?
Ada beberapa hadis sebagai dalil keharusan memenuhi hak-hak orang lain. Jika hak orang lain itu belum ditunaikan, maka menghalangi seseorang untuk masuk surga. Seperti contoh seorang yang syahidyang sedianya dijamin masuk surga karena diampuni dosanyamati dalam keadaan masih berhutang.

عَنْ عبدِاللَّهِ بنِ عَمرو بنِ العاص، رضي اللَّه عنْهما، أنَّ رسُول اللَّه ﷺ قَالَ: يغْفِرُ اللَّه للشَّهيدِ كُلَّ ذنب إلاَّ الدَّيْنَ. رواه مسلمٌ
Dari Abdullah bin Amr bin Ash sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, orang yang mati syahid diampuni semua dosanya kecuali hutangnya. Hadis Riwayat Muslim.

Riwayat lain, dari Abu Qatadah, maksudnya saja disampaikan lebih kurang mengatakan, bahwa ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam ketika beliau menyampaikan keutamaan berjihad di jalan Allah. Dia bertanya apakah diampuni dosanya jika ia mati ketika berjihad di jalan Allah. Lalu dijawab oleh Rasulullah bahwa ia diampuni. Selanjutnya ditegaskan oleh Rasulullah jika dia syahid membela agama Allah maka diampuni dosa-dosanya kecuali dosa meninggalkan hutang.[1] 

Hadis lain, dari Umar in khottab[2], maksudnya saja disampaikan lebih kurang mengatakan, bahwa ketika perang Khoibar ada sekelompok shahabat Nabi sallallahu’alaihi wa salllam menghadap dan mengatakan, “Fulan Syahid, fulan syahid. Kemudian mereka melewati seseorang yang terbunuh, maka mereka mengatakan ‘Orang ini Syahid. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak, sesungguhnya saya melihat dia di neraka karena burdah atau baju penutup yang diambil dan disembunyikan dari harta rampasan perang. Harusnya harta itu dibagi terlebih dahulu. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Umar Ibnu Khattab! Keluarlah, dan sampaikan kepada orang-orang  bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang mukmin. Maka Umar keluar dan menyeru,”Ketahuilah bahwa tidak ada yang masuk surga kecuali mukmin."

Menurut Imam An-Nawawi, ketika mensyarah hadis-hadis di atas, ini adalah peringatan betapa pentingnya menunaikan hak-hak Bani Adam. Lebih lanjut menurutnya, bahwa jihad dan syahid serta amalan kebaikan yang lainnya, tidak dapat menghapus hak-hak Bani Adam. Ia hanya dapat menghapus hak Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menunaikan kewajiban yang berkaitan dengan hak-hak orang lain. Sekelas mujahid yang syahid sekalipun tidak diampuni dosanya yang berhubungan dengan manusia. Karena syahid hanya menggugurkan dosa kepada Allah.

Demikian juga ibadah puasa yang dilaksanakan di bulan Ramadan menjadikan orang Idul Fithri (kembali bebas dari dosa) yang berhubungan dengan Allah. Sedangkan dosa yang berhubungan dengan sesama manusia harus dimintai kerelaan dan keridhoaannya dengan permohonan maaf. Jika dimaafkan, maka barulah benar-benar bebas dari Dosa.

Selamat Idul Fitri untuk Kita semua. Mohon maaf saya kepada Kita semua. Semoga Kita istiqomah dengan kondisi fitri ini sehingga tidak ada lagi dosa kita. Baik dosa kepada Allah, maupun dosa sesama manusia. Aamiin



_____
Disampaikan pertama kali untuk pengajian subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh Tengah pada hari Kamis tanggal 7 Syawal 1439 H/ 21 Juni 2018 M




[1] Redaksi hadisnya terdapat dalam Shahih Muslim nomor hadis 3504
3504 حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا ليث عن سعيد بن أبي سعيد عن عبد الله بن أبي قتادة عن أبي قتادة أنه سمعه يحدث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قام فيهم فذكر لهم أن الجهاد في سبيل الله والإيمان بالله أفضل الأعمال فقام رجل فقال يا رسول الله أرأيت إن قتلت في سبيل الله تكفر عني خطاياي فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم نعم إن قتلت في سبيل الله وأنت صابر محتسب مقبل غير مدبر ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم كيف قلت قال أرأيت إن قتلت في سبيل الله أتكفر عني خطاياي فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم نعم وأنت صابر محتسب مقبل غير مدبر إلا الدين فإن جبريل عليه السلام قال لي ذلك حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة ومحمد بن المثنى قالا حدثنا يزيد بن هارون أخبرنا يحيى يعني ابن سعيد عن  سعيد بن أبي سعيد المقبري عن عبد الله بن أبي قتادة عن أبيه قال جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال أرأيت إن قتلت في سبيل الله بمعنى حديثالليث وحدثنا سعيد بن منصور حدثنا سفيان عن عمرو بن دينار عن محمد بن قيس ح قال وحدثنا محمد بن عجلان عن محمد بن قيس عن عبد الله بن أبي قتادة عن أبيه عن النبي صلى الله عليه وسلم يزيد أحدهما على صاحبه أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم وهو على المنبر فقال أرأيت إن ضربت بسيفي بمعنى حديث المقبري
[2] Redaksi hadis yang saya kutip terdapat dalam Shaih Muslim nomor hadis 114
114 حدثني زهير بن حرب حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا عكرمة بن عمار قال حدثني سماك الحنفي أبو زميل قال حدثني عبد الله بن عباس قال حدثنيعمر بن الخطاب قال لما كان يوم خيبر أقبل نفر من صحابة النبي صلى الله عليه وسلم فقالوا فلان شهيد فلان شهيد حتى مروا على رجل فقالوا فلان شهيد فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم كلا إني رأيته في النار في بردة غلها أو عباءة ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يا ابن الخطاب اذهب فناد في الناس أنه لا يدخل الجنة إلا المؤمنون قال فخرجت فناديت ألا إنه لا يدخل الجنة إلا المؤمنون
Hadis lain terkait ini juga ada dari Abu Hurairah dalam hadis Muslim nomor hadis 115
115 حدثني أبو الطاهر قال أخبرني ابن وهب عن مالك بن أنس عن ثور بن زيد الدؤلي عن سالم أبي الغيث مولى ابن مطيع عن أبي هريرة ح وحدثناقتيبة بن سعيد وهذا حديثه حدثنا عبد العزيز يعني ابن محمد عن ثور عن أبي الغيث عن أبي هريرة قال خرجنا مع النبي صلى الله عليه وسلم إلى خيبر ففتح الله علينا فلم نغنم ذهبا ولا ورقا غنمنا المتاع والطعام والثياب ثم انطلقنا إلى الوادي ومع رسول الله صلى الله عليه وسلم عبد له وهبه له رجل منجذام يدعى رفاعة بن زيد من بني الضبيب فلما نزلنا الوادي قام عبد رسول الله صلى الله عليه وسلم يحل رحله فرمي بسهم فكان فيه حتفه فقلنا هنيئا له الشهادة يا رسول الله قال رسول الله صلى الله عليه وسلم كلا والذي نفس محمد بيده إن الشملة لتلتهب عليه نارا أخذها من الغنائم يوم خيبر لم تصبها المقاسم قال ففزع الناس فجاء رجل بشراك أو شراكين فقال يا رسول الله أصبت يوم خيبر فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم شراك من نار أو شراكان من نار
 
  • Contact Us | Site Map | TOS | Privacy Policy | Disclaimer
  • Copyright © Bismi Rabb. Template by OddThemes