Strategi Menghadapai Tantangan Globalisasi - بسم الله الرحمن الرحيم
Headlines :
Home » , » Strategi Menghadapai Tantangan Globalisasi

Strategi Menghadapai Tantangan Globalisasi

Ditulis Oleh IRHAS Pada Hari Senin, 28 Maret 2016 | 12.14

Indonesia sedang menghadapi tantangan globalisasi. Dampak globalisasi mengharuskan Bangsa Indonesia untuk mengambil langkah-langkah produktif agar bisa berdamai dengan globalisasi. Kita tidak mungkin membendung arus globalisasi. Kita tidak hanya harus mempersiapkan generasi yang mempunyai kemampuan  untuk menghadapi globalisasi, tapi juga generasi yang mempunyai moralitas, akhlak dan pemahaman keagamaan yang mumpuni.

Perguruan tinggi tidak boleh terisolasi dari kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi harus memberi solusi terhadap masalah yang dihadapi bangsa. Amanah RPJMN di antaranya perguruan tinggi diprioritaskan tidak hanya pada perluasan akses pendidikan, tapi top priority kita adalah adanya perguruan tinggi yang berkualitas. Karena lebih dari 500.000 alumni perguruan tinggi di Indonenesia yang tidak bekerja. Di antara penyebabnya karena mereka tidak punya kompetensi yang memadai untuk bersaing di masyarakat sehingga mereka menganggur dan jadi beban masyarakat. Oleh karena itu, perguruan tinggi diharapkan mampu memberi pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Sehingga mahasiswa bisa bersaing di manapun mereka berada dan kemanapun mereka pergi.

Akses pendidikan kita baru 32%. Memang kita lebih bagus dari Miyanmar, Laos dan Papua Nugini, tapi kita berada di bawah Philipina dan Singapura. Human Development Indeks (HDI) kita kalah bersaing dengan Singapura dan Philipina. Meskipun demikian, RPJMN tetap memprioritaskan belanja untuk pendidikan. Sebagai perguruan tinggi, kita harus menawarkan proses belajar yang berstandar internasional. Kita tidak perlu masuk 500 besar perguruan tinggi dunia. Untuk Indonesia saat ini baru Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung yang sudah masuk dalam nominasi 500 besar perguruan tinggi dunia tersebut. Tahun lalu saya keliling Eropa untuk melakukan MoU dengan beberapa rektor universitas terkemuka di benua Eropa. Mereka hampir tidak setuju dengan sistem perangkingan yang 500 itu. Yang paling penting sekarang adalah, bagaimana ilmu yang kita ajarkan adalah ilmu yang bertaraf internasional.

Apa yang dimaksud dengan taraf internasional? Di antaranya, dosen harus mengupdate ilmunya. Dosen harus megajar dengan menggunakan referensi international. Dosen juga harus membaca jurnal internasional. Dosen yang mengajar tafsir misalnya, buku yang dibaca dan dijadikan rujukan adalah buku yang dipelajari di Timur Tengah dan Eropa. Tidak boleh lagi mengajarkan literatur yang tidak berstandar internasional. Jika mahasiswa kita membaca literatur dari Timur Tengah dan barat, maka mahasiswa kita tidak akan minder dan siap bersaing di dunia global dengan alumni dari berbagai penjuru dunia. Dosen hadis tidak boleh hanya membaca khazanah klasik saja, tapi juga harus memperkaya diri dengan khazanah keilmuan yang up date. Jadi, dosen tidak boleh tidak meng up date ilmunya. Apapun bidang keilmuan yang diajarkan, maka dosen harus selalu up date ilmunya. Kalau tidak up date, maka akan jadi dosen yang tidak percaya diri. Jika dosennya tidak percaya diri, tentunya akan menghasilkan mahasiswa dan alumni perguruan tinggi yang tidak percaya diri. Oleh karena itu, perpustakaan juga harus menjadi perhatian kita yang sangat serius supaya dosen bisa up dating ilmunya. Saya tidak pernah under estimet bahwa kita tidak bisa. Saya sangat yakin dan optimis, jika semua unsur bersinergis, maka sekat geografis menjadi tidak penting untuk dapat menghalangi kita.

Salah satu dampak globalisasi, dimana perguruan tinggi harus berkontribusi di garda paling depan, misalnya terkait isu ekstrimisme agama yang telah menjalar hampir ke seluruh dunia. Kita tidak boleh tutup mata dan telinga dengan apa yang terjadi di luar. Kita harus berpartisipasi. salah satu tujuan core bisnis kita adalah menjaga, merawat, dan mempertahankan Islam indonesia yang toleran, menghargai orang lain, perekat sosial, serta rahmatan lil alamin. Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Negara kita juga sangat berpotensi terjadinya konflik dan kerenggangan sosial karena pluralitas suku dan agama. Karenanya, Indonesai juga adalah negara yang dikagumi oleh negara-negara lain. Timur Tengah tidak bisa lagi jadi kiblat ummat Islam untuk persoalan in. Negara-negara itu menjadikan Islam dipandang tidak rahmatan lil alamin. Maka Indonesia diharapkan jadi representasi islam di mata dunia. Dalam konteks ini tugas pokok kita ada dua, pertama menjaga keberagaman, kedua mencetak anak-anak kita supaya siap mengahadapi tantangan global.

Persoalan yang harus menjadi perhatian. Pertama kompetensi keilmuan. Anak-anak kita harus ahli di bidangnya, mereka tidak boleh tanggung. Sarjana tafsir tidak boleh tidak lancar mengaji. Minimal hafal dua juz. Kompetensi kedua, adalah kompetensi bahasa. Mereka harus bisa berbahasa Arab dan Bahasa Inggris. Dalam era global seperti tantangan MEA sekarang ini, anak-anak kita akan berhadapan dengan modernitas. Kalau mereka tidak bisa berbahasa Inggris, mereka tidak akan percaya diri. Ketiga, mereka juga harus memiliki kemampuan yang handal dalam bidang IT. Jangan ada mhs yang tidak mampu IT. Terkahir, keempat, yang paling penting adalah memiliki moralitas yang hebat. Banyak orang pintar yang sombong, maka mereka akan terpinggirkan oleh masyarakat. Kita cetak sarjana yang pintar, tapi tawadhu’. Kalau anak-anak kita sudah kuasai tafsir, bahasa Arab dan Inggris-nya bagus, aklaknya bagus, saya yakin mereka tidak akan galau berkompetensi di manapun berada dan akan mengharumkan nama STAIN Gajah Putih. Saya yakin eksistensi STAIN Gajah Putih dapat dirasakan oleh masyarakat.

Kepada para guru saya sampaikan, bahwa para guru tidak boleh hanya sekedar mengajar. Guru adalah penentu utama kemajuan pendidikan Indonesia. Bangsa ini ditentukan masa depannya oleh guru. Guru, masyarakat dan pemerintah harus bersinergi. Tidak hanya persoalan kebijakan pemerintah. Guru harus menghargai dirinya. Masyarakat juga harus mengapresiasi guru. Guru juga harus menghargai dirinya, bangga dengan profesinya. Di Finlandia, profesi yang paling diinginkan oleh generasi muda adalah menjadi guru. Itu hasil survey kepada calon pengantin muda. Calon suami seperti apa yang paling anda inginkan? Jawaban paling tinggi adalah guru. Jawaban profesi guru mengalahkan profesi dokter, lawyer dan profesi lain. Di Finlandia, guru mengajar dengan iklalas, dengan sepenuh hati, sehingga naka2 sangat dihormati sehingga terjadi proses belajar mengajar yang sangat produktif. Guru harus menginspirasi, memotifasi berkelanjutan. Sehingga anak-anak tidak hanya belajar di sekolah, tapi di luar sekolah tetap belajar karena adanya inspirasi dan motifasi dari guru. 

Semoga ke depan, STAIN Gajah Putih jadi primadona, tidak hanya di Aceh Tengah tapi di Indonesia. Kita semua supporting untuk mempersembahkan yang terbaik bagi generasi berikutnya, bagi bangsa kita.

Itulah penyampaian Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Ahmad , MA, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI pada FGD STAIN Gajah Putih Takengon Aceh Tengah tanggal 25 Maret 2016.

Baca Juga

Bagikan Ke Sosial Media :

0 komentar:

Boleh Berpendapat Kok

Bagaimana Pendapat Anda..?

POPULER SAAT INI

Tiang Gantungan Sampah: Solusi Untuk Sampah Rumah Tangga

INGAT WAKTU SHALAT

KALENDER HIJRIYAH


 
Copyright © 2013. بسم الله الرحمن الرحيم - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger
Terima Kasih Sudah Berkunjung
Yang Menarik Lainnya close button minimize button maximize button